JEMBATAN AMPERA

Jembatan yang merupakan hasil pampasan perang Jepang ini merupakan icon Kota Palembang, rasanya kita belum datang ke kota Palembang apabila belum menginjakkan kaki dijembatan ini.

Dari atas Jembatan Ampera sejauh mata memandang, kita bisa melihat suasana Kota Palembang. Jembatan ini terletak disungai Musi yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian, yaitu daerah seberang Ulu dan dan daerah Seberang Ilir. Keberadaan jembatan ini sangat penting untuk menghubungkan kedua daerah tersebut sehingga transportasi menjadi lancar dan otomatis juga memperlancar kegiatan perekonomian. Diberi dengan nama Jembatan Ampera karena sesuai dengan fungsinya sebagai amanat penderitaan Rakyat yang pernah jadi slogan Bangsa Indonesia pada tahun 1960-an, namun bagi Warga Kota Palembang lebih dikenal dengan nama “Proyek Musi”.

Panjang Jembatan 1.177 m (bagian tengah 71,90 m, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton), semua bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat namun sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi. Bandul pemberatnya pada tahun 1990  dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan. Tinggi jembatan ini 11,5 m dari atas permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 m.

Jembatan Ampera dibangun pada tahun 1963, tidak hanya biaya pembangunan dari Jepang tenaga ahlinyapun dari negara tersebut. Peresmian pemakaian jembataan pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30 September 1965 oleh Letjen A. Yani (sore hari beliau pulang ke Jakarta dan Subuh 1 Oktober menjadi korban kekejaman G.30 S PKI).

Print Friendly, PDF & Email

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *