PEMBANGUNAN LRT KOTA PALEMBANG

Dalam rangka menyambut Asian Games XVIII tahun 2018 mendatang di kota Palembang, saat ini sedang dibangun Light Rail Transit (LRT) atau kereta api ringan yang akan menghubungkan Bandar Udara Sultan Mahmud Badarudin II dengan Komplek Olahraga Jakabaring atau sepanjag 24,5 km. Semula yang akan dibangun adalah monorel, karena dianggap kurang ekonomis maka dipilihlah LRT. Selain itu LRT juga dibangun sebagai alternatif transportasi umum untuk mengatasi terjadinya kemacetaan total kendaraan bermotor yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2019 sebagai mana dikemukakan oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin didepan Tim dari Bappenas beberapa waktu yang lalu.

Presiden joko widodo telah mengeluarkan Perpres Nomor 116 Tahun 2015 Tentang Percepatan penyelenggaraan kereta api ringan di Sumatera Selatan  tanggal 20 Oktober 2015. Menurut Perpres tersebut, Pemerintah menugaskan kepada PT. Waskita Karya Tbk untuk membangun prasarana LRT termasuk kontruksi jalur layang, stasiun dan fasilitas operasi.

Ada 13 stasiun dan satu depo pada jalur LRT ini, yaitu : Stasiun Bandra SMB II; Asrama Haji; Talang Buruk; RSUP; Simpang Polda; Demang Lebar Daun ; Palembang Icon; Dishub; Pasar Cinde; Ampera; Pltabes; Jakabaring dan OPI Mall serta Depo LRT.

Pelaksanaan pemasangan tiang pancang telah dimulai pada akhir November 2015 yang lalu. Dari informasi yang ada, kegiatan ini sempat terkendala karena sebagian besar material harus didatangkan dari pulau jawa terutama batu pecah, karena disekitar Kota Palembang tidak terdapat bukit yang mengandung batuan yang ada hanya semen. Namun dengan kerjasama berbagai pihak kendala tersebut dapat diatasi, diharapkan pada tahun 2018 mendatang LRT ini sudah bisa beroperasi. Untuk ukuran Kota Palembang, LRT ini adalah proyek yang prestisius karena belum ada kota lain di Indonesia yang terbukti sukses memiliki LRT.

LRT sebenarnya bukan moda transportasi baru, negara tetangga seperti Singapura saat ini sudah terdapat tiga rute LRT sedang Kuala Lumpur sudah ada lima rute LRT. Secara kasat mata LRT sama dengan moda transportasi lain berbasis rel, seperti MRT arau KRL karena digerakkan oleh aliran listrik dari bagian atas. Perbedaannya dari sisi daya angkut, kapasitas LRT lebih kecil dari MRT ataupun KRL. Rangkai gerbong LRT maksimal tiga kereta dengan daya angkut per rangkaian sekitar 600 orang penumpang sedang MRT adalah kereta dengan maksimal rangkainan enam gerbong dengan angkut per rangkaian sekitar 1900 orang. Kapasitas angkut terbanyak adalah KRL dengan rangkaian 8 hingga 10 kereta serta dapat mengangkut sekitar 2000 penumpang per rangkaian. Perbedaan lainnya adalah soal perlintasan, Kalau KRL melaju diatas lintasan, kalau KRL melaju diatas tanah, jalur MRT melaju didalam tanah sedang LRT melaju dijalur layang.

Print Friendly, PDF & Email

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *