KONFLIK AIR DAERAH IRIGASI KELINGI TUGU MULYO PROVINSI SUMATERA SELATAN

Daerah Irigasi (DI0 Kelingi Tugumulyo merupakan daerah irigasi kewenangan pemerintah luasnya diperkirakan lebih dari 10.163 ha, terdiri dari 8.860 ha irigasi teknik dan 1.401 ha irigasi non teknik. Irigasi ini juga merupakan salah satu andalan Provinsi Sumatera Selatan dalam ketahanan pangan selain irigasi Komering dan daerah rawa pasang surut di bagian timur. Sebelum terjadi pemekaran daerah, semua wilayahnya masuk dalam Kabupaten Musi Rawas. Setelah terjadi pemekaran daerah, bagian hulu masuk wilayah Pemerintah Kota Lubuk Linggau sedang pada bagian hilir masuk wilayah Kabupaten Musi Rawas. Jadilah sekarang DI. Kelingi Tugumulyo menjadi daerah irigasi lintas kabupaten / kota, karena daerah irigasi ini terletak dikota lubuk linggau dan Kabupaten Musi Rawas. Daerah ini banyak dihuni oleh transmigran asal Pulau Jawa terutaman dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, daerah irigasi ini merupakan daerah pertaanian yang sangat maju karena sistem pengairannya yang bagus. Sumber airnya berasal dari Sungai Kelingi (ordo2) merupakan salah satu anak dari sungai musi. Untuk mengairi lahan persawahan yang ada, pada tahun 1941 Pemerintah Belanda membangun Bendung Watervank yang terletak di Desa Tabapingin Kota Lubuk Linggau. Bendung tersebut juga ada Jembatan Gantungyang melintas diatas sungai sehingga punya daya tarik tersendiri untuk wisata lokal. Pemerintah Kota Lubuk Linggau berkeinginan agar lokasi ini banyak dikunjungi oleh masyarakat setempat, juga oleh penduduk dari kota-kota terdekat.

Akhir-akhir ini para petani mengeluh berkurangnya debit air di Daerah Irigasi Kelingi Tugumulyo, tak jarang terjadi protes atau demo terutama oleh petani yang lahannya berada dibagian hilir atau jauh dari bendungan Watervank. Lebih-lebih hal tersebut terjadi pada musim kemarau sehingga produk pertanian mereka mengalami penurunan yang drastis, bahkan banyak para petani yang merubah peruntukan lahannya menjadi lahan perkebunan. Hal ini disebabkan antara lain di Daerah Irigasi Kelingi Tugumulyo masyarakat telah memanfaatkan juga air yang ada untuk  kolam ikan arus deras, yaitu  cara berkolam dengan menyadap/ membendung air dari saluran irigasi yang mengalir sangat deras.

Air yang mengalir sangat deras tersebut dimasukan kedalam kolam-kolam ikan, kemudian dengan adanya perbedaan elevasi tertentu air dari kolam dibuang kembali kesaluran semula. Ini tentunya tidak menjadi masalah besar, namun banyak juga lokasi kolam ikan arus deras yang tidak sesuai dengan kaidah teknik sehingga air yang diambil untuk kolam-kolam ikan tersebut tidak dapat lagi dikembalikan disaluran semula tetapi dibuang ketempat lain. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya konflik pemakaian air didaerah Irigasi Kelingi Tugumulyo hingga saat ini, karena dengan dibuangnya air ketempat lain dan tidak kembali lagi kesaluran semula akibatnya debit air menjadi berkurang. Dari inventarisasi yang pernah dilakukan oleh BBWS Sumatera VIII terdapat lebih 400 kolam ikan arus deras yang mengambil air dari saluran-saluran Irigasi ini, sesuai dengan peraturan perundang-undanganyang ada seharusnya mereka mendapatkan izin terlebih dahulu untuk mengusahakan sumber daya air dari saluran irigasi tersebut. Namun yang sudah mengurus izin baru < 5% dari jumlah kolam-kolam ikan yang ada, hal ini akan menjadi masalah atau bom waktu jika tidak ada penyelesaian lebih lanjut. Apa lagi para petani ikan tersebut sudah ada yang berani membuat bendung sendiri disaluran bahkan menjebol atau merusak tanggul/ pintu air. Melihat hal tersebut tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Musi-Sugihan-Banyuasin-Lemau (TKPSDA WS-MSBL) pada tanggal 13 dan 14 September 2017 telah mengundang para pihak terkait untuk melakukan dialog dalam rangka penyelamatan dan optimalisasi Irigasi Kelingi Tugumulyo untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan bertempat Di Kota Lubuk Linggau. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Kementrian Pertanian, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah  Kabupaten Musi Rawas dan Pemerintah Kota Lubuk Linggau, KOREM/KODIM, Kepolisian, pengusaha kolam ikan, para petani sawah dan instansi terkait lainnya. Bahkan hadir juga Komandan Korem Garuda Dempo Kol. Inf. Kunto Arief Wibowo, S.IP yang didampingi oleh Komandan Kodim 0406 MURA Letkol. Kav. Dodi Samsurizal, SH Serta Wakil Bupati MURA Hj. Suwarti, S.IP. menurut Kamlan Yanseri, SE dari Komisi TKPSDA WS-MSBL yang bertindak selaku PIC bahwa hasil dari pertemuan ini adalah kesepakatan para pihak terkait untuk mencari silusi konflik pemakaian air yang ada sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan serta produksi padi pada daerah irigasi ini tetap dapat dipertahankan demikian juga dengan produksi ikan kolam arus deras, karena keduanya merupakan produk unggulan bagi Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuk Linggau.

Untuk itu konfik yang ada sekarang ini harus dikelola dengan bijaksana, dimana semua pihak merasa diuntungkan karena kita menghendaki penyelesaian yang permanen dan oleh karena itu perlu kerjasama yang baik. Rekomendasi dari hasil pertemuan tersebut banyak sekali yang disampaikan, namun jika ditarik kesimpulan ada beberapa pokok-pokok penting seprti antara lain : menegakkan peraturan yang ada (low enforcement) tanpa pandang bulu dengan memberikan sanksi kepada siapapun ; semua pihak kolam ikan harus mempunyai izin dan untuk kolam ikan yang airnya tidak kembali lagi kesaluran semula agar kontruksinya dirubah sehingga air bisa kembali lagi kesaluran semula serta mengendalikan pemakaian airnya; membatasi jumlah kolam ikan arus deras dan pemakaian volume airnya (dengan memasang alat ukur); merehabilitasi jaringan dan bangunan irigasi yang sudah rusak agar dapat berfungsi lagi dengan baik ; membentuk Komisi Irigasi Provinsi untuk menetapkan pola tanam dan jadwal tanam; mensosialisasikan pertanian yang hemat air memberdayakan lembaga-lembaga yang sudah ada seperti P3A ditingkat tersier, sekunder dan primer. Pertemuan juga dilanjutkan dengan peninjauan dilapangan terutama pada lokasi-lokasi yang dianggap kritis karena adanya pengrusakan fasilitas irigasi yang ada.

Print Friendly, PDF & Email

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *