Berita Balai,
14 July 2026
<div>Revitalisasi Embung Dangkak di Kabupaten Ponorogo diawali dengan kegiatan pengukuran lapangan yang dilaksanakan oleh kontraktor dan konsultan supervisi bersama Tim PPK Air Tanah Air Baku (ATAB) II SNVT ATAB BBWS Bengawan Solo pada awal bulan Juli 2026.<br><br>Saat ini, kegiatan masih berada pada tahap survei dan pengumpulan data untuk memperoleh informasi mengenai kondisi eksisting embung secara akurat. Pengukuran dilakukan dengan meninjau dan mendata berbagai aspek teknis di lapangan, seperti dimensi, elevasi, serta kondisi fisik embung.<br><br>Hasil pengukuran tersebut akan menjadi dasar dalam penyusunan desain dan perencanaan revitalisasi, sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi eksisting di lapangan.</div>
Baca Selengkapnya
Berita Balai,
16 December 2025
<div><br>Bendungan Cengklik yang berada di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, merupakan salah satu bendungan yang dibangun pada masa kolonial Belanda pada tahun 1923–1931 sebagai upaya memperkuat penyediaan air di wilayah sekitar.<br> <br>Memanfaatkan aliran Sungai Pepe, Bendungan Cengklik memiliki kawasan genangan yang cukup luas dan menjadi sumber air penting bagi masyarakat. Perannya sangat besar dalam mendukung pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga di sekitarnya.<br> <br>Salah satu manfaat utama Bendungan Cengklik adalah penyediaan air irigasi untuk lahan pertanian seluas 1.460 hektar. Ketersediaan air dari bendungan ini membantu menjaga keberlanjutan produksi pertanian di Boyolali dan daerah sekitarnya.<br> <br>BBWSBS berkomitmen memastikan bendungan Cengklik tetap berfungsi optimal untuk mendukung kesejahteraan dan ketahanan air di Wilayah Sungai Bengawan Solo.<br> <br><strong>Manfaat Bendungan</strong></div><div>Manfaat untuk irigasi seluas 1,460 Ha<br><br></div><div><strong>Data Teknis</strong></div><div>Tipe Bendungan : Urugan Tanah Homogen dengan Material Inti Lempung Kelanauan</div><div>Luas Genangan : 3,311,352 m²</div><div>Volume Total : 12,782,030 m<strong>³<br></strong><br></div><div><br><br></div>
Baca Selengkapnya
Berita Balai,
28 December 2025
<div>Bencana akibat daya rusak air, seperti banjir, banjir bandang, erosi, sedimentasi, dan tanah ambles, merupakan ancaman yang dapat terjadi kapan saja. Risiko tersebut semakin nyata pada wilayah dengan dinamika sungai yang tinggi, seperti Sungai Bengawan Solo. Pemahaman terhadap karakteristik setiap jenis bencana menjadi langkah penting agar upaya mitigasi dapat dilakukan secara tepat dan responsif.<br><br>Banjir terjadi ketika debit air sungai melampaui kapasitas tampungnya. Pemicunya beragam, antara lain curah hujan tinggi, kondisi daerah aliran sungai, aliran permukaan, serta keberadaan sedimen dan sampah yang mengurangi kapasitas sungai. Sementara itu, erosi dan sedimentasi yang pada kondisi normal merupakan proses alami, dapat berkembang menjadi bencana sedimen massa apabila material dalam jumlah besar bergerak cepat, seperti pada aliran debris atau banjir lahar dingin.<br><br>Tanah ambles juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. Fenomena ini terjadi akibat penurunan muka tanah yang dipicu oleh berkurangnya air tanah. Pada tanah berbutir lepas, penurunan dapat berlangsung relatif cepat sehingga berpotensi membahayakan permukiman dan infrastruktur di sekitarnya.<br><br>BBWS Bengawan Solo terus berkomitmen dalam pengelolaan sumber daya air secara terpadu melalui pemantauan kondisi sungai, pengurangan risiko bencana, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Sinergi, kolaborasi, dan kewaspadaan bersama menjadi kunci untuk menjaga Wilayah Sungai Bengawan Solo tetap aman dan tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bencana.</div>
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
09 April 2021
Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menghadiri acara Rapat Koordinasi (Rakor) terkait Percepatan Pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 di Ruang Rapat R.A. Dandang Watjono, Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat (09/04/2021). Rakor tersebut dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dalam pertemuan ini, membahas rencana pengelolaan dan pengembangan sumber daya air di Kabupaten Tuban seperti rencana percepatan pembangunan Jabung Ring Dyke, Avour Kuwu, dan Waduk Jadi. Rakor tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Tuban, Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, pejabat dan staf BBWSBS, serta jajaran pejabat kedinasan di lingkungan Provinsi Jawa Timur. Luapan air dari Sungai Bengawan Solo yang terjadi hampir menyebabkan kerugian sosial-ekonomi bagi masyarakat terutaman di bagian hilir. Salah satu solusinya, adalah pembuatan ring dyke (tanggul keliling) di wilayah Kabupaten Tuban dan Lamongan, Jawa Timur. Lokasi proyek Jabung Ring Dyke berada di Kecamatan Widang, Tuban, yakni Desa Mlangi dan Kujung. Dan lokasi yang berbatasan langsung di daerah hilir, yakni Desa Jabung, Kecamatan Laren, Lamongan dengan luas waduk sebesar 1.400 Ha dengan panjang tanggul sekitar 24,4 Km. Sambutan Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana, M.Si., Sekda Tuban, menyampaikan terkait ada 13 kegiatan terkait Percepatan Pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 di Tuban, dan empat diantaranya menjadi kewenangan BBWSBS, namun untuk saat ini akan dilaksanakan pembahasan tiga proyek penanganan banjirnya. “Semoga melalui pertemuan ini dapat diinvetarisasi dan monitoring-evaluasi oleh seluruh stakeholder di Pemkab Tuban, sehingga dapat menjelaskan progres-progres Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk penanganan banjir, kepada masyarakat,” ujarnya. Wakil Bupati Tuban, Ir. Noor Nahar Hussein, M.Si., memohon agar proyek Jabung Ring Dyke dan Avour Kuwu segera dapat dipercepat pelaksanaannya, terutama yang menyangkut masalah hukum, karena dua proyek tersebut saling berkaitan dan masyarakat petani yang paling terdampak. “Selain itu, proyek Waduk Jadi kami harap juga dapat segera terlakasana. Sebab, permasalahan banjir di kawasan sebelah barat Tuban, yang menggenangi area persawahan dan permukiman, menyebabkan kerusakan infrastruktur serta gagal panen pada ratusan hektar lahan pertanian,” harapnya. Kepala SNVT PJSA Bengawan Solo, R. Panji Satrio, S.T., M.M., M.D.M., memaparkan bahwa penyebab banjir di Avour Kuwu disebabkan oleh adanya sedimentasi (sampah) di pintu banjar Avour Kuwu, sedimentasi pada saluran Gendong di sepanjang Jabung Ring Dyke serta kondisinya yang belum dapat digenangi. “Dengan adanya Jabung Ring Dyke, nantinya akan memberikan manfaat sebagai penyediaan air baku sebesar 30,5 juta m3 untuk potensi perikanan tangkap. Untuk jumlah area irigasi yang dapat dialiri dengan air waduk pada saat musim kemarau bisa mencakupi sekitar 5.000 Ha dengan debit sebesar 1 lt/dt/Ha melalui 29 pintu air, sehingga diharapkan hasil panen meningkat dengan ketersediaan air sepanjang tahun,” paparnya. Selain itu, Jabung Ring Dyke juga dapat menampung sementara debit banjir besar (Q50 tahunan) untuk mengurangi resiko dampak banjir terhadap pemukiman, jalan dan bangunan infrastruktur di daerah kabupaten Lamongan, Tuban, dan sekitarnya sebagaimana pernah terjadi banjir pada tahun 2007, 2008, dan 2009. Terkait manfaat sosial-ekonominya, yakni pemenuhan keperluan air minum dan industri kecil yang berbasis pada ekonomi kerakyatan. Serta, berpotensi pariwisata air yang akan menumbuhkan usaha baru masyarakat sekitar. BBWSBS akan senantiasa bekerjasama dengan Pemkab Tuban dalam hal pengelolaan sumber daya air (SDA) agar masyarakat di sekitar Tuban dapat merasa aman dan terpenuhi kebutuhan airnya. (BBWSBS/Ferri)
Baca Selengkapnya