Berita Balai


Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Selain Pengendalian Banjir, Ini Manfaat Lain Bendungan Gongseng di Bojonegoro

22 September 2021

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) yang diwakili oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melaksanakan pengisian awal (impounding) waduk di Bendungan Gongseng di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (22/09/2021). Acara yang dilaksanakan tetap dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Bendungan Gongseng merupakan bendungan yang terletak di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Bendungan ini dirancang memiliki kapasitas 22,43 juta meter kubik dan memiliki lima potensi manfaat yakni untuk irigasi seluas 6.191 hektare, penyediaan air baku 300 liter/detik, konservasi pariwisata, reduksi banjir hingga 133,27 meter kubik/detik serta sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sebesar 0,7 mega watt. Pekerjaan Bendungan Gongseng dilaksanakan mulai tahun 2013 dan direncanakan selesai pada tahun 2021 sementara progres fisik pembangunan Bendungan Gongseng saat ini sebesar 93,85%. Proses impounding dilakukan secara simbolis dengan menekan sirine oleh Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., dan didampingi Bupati Bojonegoro, Anna Muawanah beserta jajarannya. Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan pembangunan Bendungan Gongseng telah melewati perjalanan panjang untuk mencapai momen ini antara lain sertifikasi persetujuan desain, izin pelaksanaan konstruksi, dan sertifikasi persetujuan pengisian waduk. Proses ini perlu dilalui untuk menjamin keamanan terhadap konstruksi bendungan yang dilaksanakan. “Bendungan Gongseng telah memasuki akhir pekerjaan konstruksi sehingga diperlukan pengisian awal waduk sebagai salah satu persyaratan pengoperasian bendungan,” ujarnya. Agus menambahkan bahwa masyarakat Kabupaten Bojonegoro sendiri hidup dari pertanian dan industri yang sangat membutuhkan air untuk keperluan pertanian maupun air baku untuk air minum. Dengan adanya bendungan Gongseng ini juga diharapkan dapat mengurangi bencana banjir wilayah Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya. Selain sebagai sumber air baku, Bendungan Gongseng dapat diandalkan saat musim kemarau tiba. “Di musim hujan, Bendungan Gongseng difungsikan sebagai waduk tadah hujan dan pengendali banjir. Selain sebagai sumber air baku, Bendungan Gongseng juga dapat menjadi salah satu destinasi wisata. Saya berharap proyek pembangunan Bendungan Gongseng, dapat segera terselesaikan dan bisa segera dinikmati manfaatnya oleh warga, utamanya untuk keperluan irigasi, penyedia air baku, dan pengendali banjir di Kabupaten Bojonegoro,” pesan Agus. Pengisian Bendungan Gongseng dilaksanakan secara bertahap agar dapat memantau perilaku bendungan secara intensif. Selama pelaksanaan yang membutuhkan waktu 63 hari, air tetap dialirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bagian hilir bendungan. Bupati Bojonegoro, Anna Muawanah menyampaikan atas nama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama masyarakat mengungkapkan terima kasih kepada BBWS Bengawan Solo dengan dibangunnya Bendungan Gongseng. Kehadiran Bendung Gongseng tidak hanya sebagai pengendali banjir dan tampungan air baku, tapi juga sebagai objek konservasi pariwisata. Semoga Bendungan Gongseng menjadi tujuan wisata untuk beragam kegiatan seperti bersantai, berolahraga maupun sekadar swafoto. “Kami akan pelihara pembangunan infrastuktur bendungan ini, karena manfaat yang dihasilkan akan membawa kemakmuran bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya. (BBWSBS/Tamara)

Baca Selengkapnya

Berita Balai,

UPB di WS Bengawan Solo untuk Wilayah Hulu Tumbuhkan Harapan Pangan Bangsa

BBWS/Kompu BBWS Bengawan Solo

27 October 2025

<div>Unit Pengelola Bendungan (UPB) memiliki peran strategis dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional melalui pemeliharaan dan pengoperasian bendungan secara optimal. Salah satunya UPB di Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo untuk Wilayah Hulu.<br>&nbsp;<br>Dalam pelaksanaannya, UPB BBWSBS memastikan ketersediaan air irigasi yang stabil dan merata bagi lahan pertanian di wilayah layanan. Hal ini dilakukan melalui pengaturan debit air yang tepat, pemantauan kondisi bendungan secara rutin, serta penerapan sistem operasional yang efisien dan adaptif terhadap kondisi hidrologi.<br>&nbsp;<br>Selain itu, kegiatan pemeliharaan infrastruktur bendungan dan infrastruktur pelengkapnya menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi dan keandalan bendungan. BBWSBS berkomitmen untuk terus meningkatkan profesionalisme dan kinerja UPB dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.&nbsp;<br>&nbsp;<br>Sekarang, Mimin mau mengajak #KoncoBengawan untuk menyimak sebaran UPB di WS Bengawan Solo untu Wilayah Hulu melalui postingan berikut ini 😉<br><br></div>

Baca Selengkapnya

Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Rakor Percepatan Pembangunan Infrastruktur SDA untuk Penanganan Banjir Kabupaten Tuban

09 April 2021

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menghadiri acara Rapat Koordinasi (Rakor) terkait Percepatan Pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 di Ruang Rapat R.A. Dandang Watjono, Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat (09/04/2021). Rakor tersebut dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dalam pertemuan ini, membahas rencana pengelolaan dan pengembangan sumber daya air di Kabupaten Tuban seperti rencana percepatan pembangunan Jabung Ring Dyke, Avour Kuwu, dan Waduk Jadi. Rakor tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Tuban, Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, pejabat dan staf BBWSBS, serta jajaran pejabat kedinasan di lingkungan Provinsi Jawa Timur. Luapan air dari Sungai Bengawan Solo yang terjadi hampir menyebabkan kerugian sosial-ekonomi bagi masyarakat terutaman di bagian hilir. Salah satu solusinya, adalah pembuatan ring dyke (tanggul keliling) di wilayah Kabupaten Tuban dan Lamongan, Jawa Timur. Lokasi proyek Jabung Ring Dyke berada di Kecamatan Widang, Tuban, yakni Desa Mlangi dan Kujung. Dan lokasi yang berbatasan langsung di daerah hilir, yakni Desa Jabung, Kecamatan Laren, Lamongan dengan luas waduk sebesar 1.400 Ha dengan panjang tanggul sekitar 24,4 Km. Sambutan Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana, M.Si., Sekda Tuban, menyampaikan terkait ada 13 kegiatan terkait Percepatan Pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 di Tuban, dan empat diantaranya menjadi kewenangan BBWSBS, namun untuk saat ini akan dilaksanakan pembahasan tiga proyek penanganan banjirnya. “Semoga melalui pertemuan ini dapat diinvetarisasi dan monitoring-evaluasi oleh seluruh stakeholder di Pemkab Tuban, sehingga dapat menjelaskan progres-progres Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk penanganan banjir, kepada masyarakat,” ujarnya. Wakil Bupati Tuban, Ir. Noor Nahar Hussein, M.Si., memohon agar proyek Jabung Ring Dyke dan Avour Kuwu segera dapat dipercepat pelaksanaannya, terutama yang menyangkut masalah hukum, karena dua proyek tersebut saling berkaitan dan masyarakat petani yang paling terdampak. “Selain itu, proyek Waduk Jadi kami harap juga dapat segera terlakasana. Sebab, permasalahan banjir di kawasan sebelah barat Tuban, yang menggenangi area persawahan dan permukiman, menyebabkan kerusakan infrastruktur serta gagal panen pada ratusan hektar lahan pertanian,” harapnya. Kepala SNVT PJSA Bengawan Solo, R. Panji Satrio, S.T., M.M., M.D.M., memaparkan bahwa penyebab banjir di Avour Kuwu disebabkan oleh adanya sedimentasi (sampah) di pintu banjar Avour Kuwu, sedimentasi pada saluran Gendong di sepanjang Jabung Ring Dyke serta kondisinya yang belum dapat digenangi. “Dengan adanya Jabung Ring Dyke, nantinya akan memberikan manfaat sebagai penyediaan air baku sebesar 30,5 juta m3 untuk potensi perikanan tangkap. Untuk jumlah area irigasi yang dapat dialiri dengan air waduk pada saat musim kemarau bisa mencakupi sekitar 5.000 Ha dengan debit sebesar 1 lt/dt/Ha melalui 29 pintu air, sehingga diharapkan hasil panen meningkat dengan ketersediaan air sepanjang tahun,” paparnya. Selain itu, Jabung Ring Dyke juga dapat menampung sementara debit banjir besar (Q50 tahunan) untuk mengurangi resiko dampak banjir terhadap pemukiman, jalan dan bangunan infrastruktur di daerah kabupaten Lamongan, Tuban, dan sekitarnya sebagaimana pernah terjadi banjir pada tahun 2007, 2008, dan 2009. Terkait manfaat sosial-ekonominya, yakni pemenuhan keperluan air minum dan industri kecil yang berbasis pada ekonomi kerakyatan. Serta, berpotensi pariwisata air yang akan menumbuhkan usaha baru masyarakat sekitar. BBWSBS akan senantiasa bekerjasama dengan Pemkab Tuban dalam hal pengelolaan sumber daya air (SDA) agar masyarakat di sekitar Tuban dapat merasa aman dan terpenuhi kebutuhan airnya. (BBWSBS/Ferri)

Baca Selengkapnya

Berita Balai,

Tanggap Darurat - Wamen PU Pastikan Penanganan Bendung Kedungrejo

BBWS/Kompu BBWS Bengawan Solo

02 April 2026

<div>Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti didampingi Kepala BBWSBS Gatut Bayuadji beserta jajaran meninjau langsung lokasi penanganan darurat akibat jebolnya Bendung Kedungrejo di Desa Wonoayu, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun pada 1/4/2026. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan langkah penanganan berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi dengan baik di lapangan. Sebagai informasi, Bendung Kedungrejo merupakan aset yang menjadi kewenangan Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur.<br>&nbsp;<br>Kerusakan bendung terjadi akibat tingginya curah hujan yang mencapai sekitar 20,80 mm/hari, sehingga meningkatkan debit Sungai Kedungrejo secara signifikan. Peningkatan aliran ini menyebabkan terjadinya scouring pada fondasi mercu bendung serta kerusakan pada sayap kiri bangunan, yang berdampak pada terganggunya fungsi bendung.<br>&nbsp;<br>Sebagai langkah awal penanganan, BBWSBS bersama Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur telah melakukan penanganan darurat di lokasi terdampak. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan kerusakan lebih lanjut sekaligus menjaga keberlangsungan fungsi infrastruktur air bagi masyarakat sekitar.<br>&nbsp;<br><strong>Bendung Kedungrejo, Desa Wonoayu, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun</strong></div><div>Luas Layanan 1554 Ha</div><div>Tahun Konstruksi 1936</div><div>Lebar Bendung 19.67 m<strong><br></strong><br></div><div><strong>Kolaborasi Penanganan Darurat Oleh Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur bersama BBWS Bengawan Solo</strong></div><div>1200 buah Sandbag</div><div>300 buah Bronjong</div><div>1 Unit Excavator Long Arm<br>1 Unit Excavator Breaker</div><div><strong><br></strong><br></div><div><em>“Hari ini saya langsung kesini untuk melihat bagaimana kondisi dari jebolnya Bendung Kedungrejo. Kami bersama dengan BBWS Bungawan Solo segera melakukan perbaikan. Namun, tidak hanya kami sendiri, melainkan juga bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Madiun. Harapannya, ketersediaan air tetap terjaga sehingga aliran air dapat segera diarahkan kembali untuk irigasi.”<br></em><br></div><div><strong>Diana Kusumastuti, Wakil Menteri Pekerjaan Umum<br></strong><br></div>

Baca Selengkapnya