Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
03 November 2021
Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo menggelar acara Sidang Pleno IV TKPSDA WS Bengawan Solo di Kantor BBWSBS, di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (03/11/2021). Acara yang dilaksanakan secara teleconference tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Maksud dan tujuan sidang pleno TKPSDA untuk membahas sekaligus sinkronisasi program dan kegiatan bertujuan agar TKPSDA WS melakukan pengecekan program dan kegiatan masing-masing instansi terhadap Pola dan Rencana Sinkronisasi Program dan Kegiatan dibahas di akhir tahun anggaran, untuk memonitor dan evaluasi dokumen Pola dan/atau dokumen Rencana, sesuai tahun berjalan. Salah satu materi dalam sidang pleno kali ini adalah pembahasan review pola pengelolaan sumber daya air. Kepala Bidang (Kabid) Keterpaduan Pembangunan Infrastuktur (KPI) SDA Bengawan Solo, Ali Rahmat, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pola SDA Bengawan Solo telah ditetapkan pada tahun 2010 oleh menteri PUPR. “Prinsip rancangan pola pada tahun 2020-2040 nanti, sekarang ini sudah terjadi perubahan dari Millennium Development Goals (MDGs) ke target Sustainable Development Goals (SDGs), fokus pembangunan nasional, perubahan lahan yang signifikan di WS Bengawan Solo, perubahan RTRW kabupaten/kota, pembangunan infrastruktur pengelolaan SDA baik yang dilakukan pemerintah kabupaten/kota dan wilayah Sungai Bengawan Solo sendiri,” terangnya. Hasil sidang pleno berkaitan dengan pola tersebut antara lain, terkait dengan ketahan air, pada Tahun 2015, tingkat layanan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kabupaten/kota yang masuk dalam WS Bengawan Solo, yang terdiri dari 21 kabupaten/kota, rata-rata baru 45,9% terpenuhi. Pada beberapa daerah, tingkat layanan air PDAM ada yang sudah mencapai lebih dari 70% seperti; Kota Surabaya (98,6%), Kota Madiun (98,1%) dan Kota Solo (80,9%) sedangkan wilayah yang lain masih di bawah 70%. Kemudian pada aspek ketahanan pangan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2021, produksi padi di WS Bengawan Solo pada tahun 2019 sebesar 7.486.754,29 ton dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 7.638.027,91 ton. Sedangkan untuk ketahanan energi, pembangkit energi di WS bengawan Solo, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Gajah Mungkur dengan kapasitas 28,2 Mega Watt, Telogo Ngebel 2,25 Mega Watt. Beberapa PLTA sedang dalam proses pembangunan yang berlokasi di anak-anak Sungai Bengawan Solo diantaranya di Waduk Gongseng sebesar 0,73 Mega Watt, Waduk Gondang 0,5 Mega Watt, Waduk Pidekso 175 Kilo Watt dan Waduk Tukul 0,64 Mega Watt. Merujuk pada isu strategis nasional, kejadian banjir di WS Bengawan Solo pada tahun 2010 hingga 2020 tercatat sebanyak 629 kali dengan jumlah kejadian terbanyak di tahun 2011, yakni 101 kali, dan pada tahun 2020 tercatat sebanyak 49 kali. Untuk kejadian kekeringan pada periode tahun 2010-2020 diperoleh data sebanyak 132 kali. penambahan luas lahan tidak kritis yang pada tahun 2009 seluas 5.182 km2 (35%) menjadi 9.302 km2 (63 %) pada tahun 2020 atau meningkat sebesar 28%. Peningkatan luas juga terjadi pada lahan dengan kriteria sangat kritis dari semula 7,6 km 2 (0.1%) pada tahun 2009 menjadi 515 km 2 (3%). Sedangkan luas lahan yang menurun adalah lahan Agak Kritis (3403 km2/tahun 2020), potensial kritis (1106 km2/tahun 2020) dan kritis (469 km2/tahun 2020). Dari data monitoring kualitas air di beberapa lokasi pengamatan di Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun, menunjukkan bahwa kualitas air di daerah perkotaan seperti Kota Surakarta, Sukoharjo, Gresik, dan Kota Madiun sudah melampaui ambang batas (kualitas air kelas II). Dari hasil pengukuran sampel pada tahun 2020 didapatkan hampir disepanjang ruas Bengawan Solo memiliki kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) yang diatas baku mutu PP No. 82 Tahun 2001. “Kami berharap melalui sidang pleno ini, bahwa pola SDA Bengawan Solo di tahun 2010 memerlukan review dan perlu dilakukan penetapan pola yang lebih baik untuk jangka waktu tahun 2020 hingga 2040. Serta kami berharap adanya dukungan terkait skenario yang dipilih hingga 2040 nanti,” pungkas Ali. (BBWSBS/Ferri)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
24 February 2021
Penelitian dengan judul Model Waktu Puncak Hidrograf Satuan Sintetis Program Doktor Teknik Sumber Daya Air (SDA) Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, telah mengantarakan Pejabat Pengganti Sementara (Pgs.) PPK Sungai dan Pantai III SNVT PJSA Bengawan Solo, Yudhi Triana Dewi, meraih gelar Doktor, Rabu (24/02/2021). Yudhi Triana Dewi berhasil mempertahankan disertasinya yang dilaksanakan secara daring dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Adapun sebagai Promotor Prof. Dr. Ir. Lily Montarcih L., M.Sc., Co-Promotor Dr. Ery Suhartanto, ST, MT. dan Sri Wahyuni ST., MT., Ph.D., Penguji Internal Dr. Ir. Widandi Soetopo, M.Eng., Penguji Tamu Dr. Ir. Agus Rudyanto M.Tech. selaku Kepala BBWSBS, serta Penguji Eksternal Dr. Ir. RR Rintis Hadiani, M.T. Disertasi tersebut dilatarbelakangi oleh perubahan kondisi daerah aliran sungai (DAS), yang diduga mengakibatkan terjadinya perubahan waktu puncak banjir, dimana sering kali banjir terjadi lebih cepat dibandingkan waktu puncak banjir teoritis yang dihitung dengan pendekatan hidrograf satuan sintetis. Model Waktu Puncak ini dikembangkan di beberapa DAS di Indonesia yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi dengan mempertimbangkan parameter antara lain A (Luas DAS), L (Panjang Sungai), Lc (Jarak Titik Berat DAS s/d Outlet), n (Koef. Kekasaran), Fb (Faktor Bentuk), S (Kemiringan Sungai), dan Karakteristik Fraktal (FD, RB, & RL). Terkait unsur kebaruan (novelty) sebuah disertasi, ketiga parameter yakni n, RB, dan FD belum pernah dikaji sebelumnya dalam pembuatan Model Waktu Puncak di Indonesia. Dan secara umum (universal) Model Waktu Puncak ini dapat digunakan dimana saja dan kapan saja dikarenakan parameter yang digunakan bersifat umum dan banyak digunakan pada penelitian terdahulu di seluruh dunia. Disisi lain Yudhi Triana Dewi yang juga sebagai praktisi di bidang SDA mengharapkan adanya pendekatan dalam penentuan waktu puncak banjir yang mudah dan cepat untuk digunakan dalam proses mitigasi banjir. “Manfaat penelitian ini menghasilkan suatu model waktu puncak hidrograf satuan sintetis khas Indonesia yang bermanfaat dalam penentuan desain infrastruktur SDA pada DAS yang tidak memiliki data debit dan curah hujan yang memadai. Perlu diketahui juga, bahwa waktu puncak DAS-DAS yang tidak memiliki data debit dan curah hujan yang memadai. untuk kemudian dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan dalam membuat strategi mitigasi akibat bencana banjir, termasuk diantaranya adalah pembuatan Early Warning System (EWS),” paparnya. Diharapkan pula kedepannya pejabat di lingkungan BBWSBS yang telah menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang Doktoral dapat menjalankan tugas semaksimal mungkin, serta memberikan sumbangsih keilmuan untuk kemajuan bidang SDA baik dalam dalam arti umum maupun spesifik. Hal tersebut tentunya bertujuan untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan dan kegiatan di bidang SDA. (BBWSBS/Ferri)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
03 June 2022
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melalui Unit Hidrologi menyelenggarakan Pelatihan Petugas Pos Hidrologi, di Puri Asri Hotel & Resort, Magelang, Jawa Tengah, Kamis – Jumat (02-03/06/2022). Kegiatan ini diikuti oleh 100 Petugas yang terdiri dari Petugas Pos Curah Hujan, Petugas Pos Duga Air dan Petugas Klimatologi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dalam kegiatan Pelatihan Petugas Hidrologi, para peserta diberikan materi perihal Evaluasi Kinerja Petugas Pos Hidrologi di Wilayah Sungai Bengawan Solo yang disampaikan oleh Adiel Putra Wijaya ST, M.Eng selaku Sub Koordinator Perencanaan Umum BBWS Bengawan Solo dan materi mengenai SOP Pembacaan Data Hidrologi di Lapangan disampaikan oleh Drs. Petrus Syariman, MT. Kepala Bidang KPI SDA BBWS Bengawan Solo Ali Rahmat, ST, MT, dalam hal ini mewakili Kepala BBWSBS menyampaikan Petugas pos hidrologi adalah kepanjangan tangan BBWS Bengawan Solo di dalam melaksanakan pencatatan dan pelaporan data hidrologi di lapangan serta di dalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan pos hidrologi. Petugas pos hidrologi ini harus memiliki kemampuan yang handal dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, sehingga data yang dihasilkan akan tepat dan akurat. “Data hidrologi mempunyai peran dan manfaat yang sangat penting di dalam pengelolaan sumber daya air, misalnya untuk keperluan alokasi air di saat musim kemarau dan untuk mendukung Sistem Peringatan Dini Bencana di saat musim hujan. Oleh karena itu, pencatatan data hidrologi harus kita lakukan secara tepat dan akurat,” ujarnya. Ali Rahmat berharap melalui pelatihan ini, para petugas pos hidrologi dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik. Sehingga setelah pelatihan ini dapat melaksanakan tugas dengan tepat dan akurat. Sebagai apresiasi atas kinerja yang baik, BBWS Bengawan Solo memberikan Penghargaan kepada Petugas Pos Curah Hujan dan Klimatologi Terbaik yaitu Ibu Sri Hartini selaku Petugas Pos Curah Hujan Jatisrono, Bapak Aris Sugiyarto selaku Petugas Pos Curah Hujan Bangunsari dan Ibu Patemi selaku Petugas Pos Curah Hujan Sembung. Selain itu terdapat Penghargaan kepada Petugas Pos Duga Air Terbaik yaitu Bapak Sugiyanto selaku Petugas Pos Duga Air Serenan, Bapak Suwarno selaku Petugas Pos Duga Air Ketonggo dan Bapak Ekwan selaku Petugas Pos Duga Air Malo Bridge. (BBWSBS/Tamara)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
09 June 2021
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., didampingi Kepala Bidang Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) Bengawan Solo, Ali Rahmat, ST, MT dan Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA), Ir. Isgiyanto, MT melakukan koordinasi dengan Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (08/06/2020). Kegiatan koordinasi tersebut sebelumnya telah menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dalam kunjungan kali ini, Bupati Bojonegoro, Dr. Hj. Anna Mu’awanah dan Kepala BBWS Bengawan Solo turut membahas progress pengembangan infrastruktur SDA di kawasan hilir. Beberapa progress kegiatan tersebut terkait rencana impounding dan peresmian Bendungan Gongseng. Sebagai informasi, Bendungan Gongseng berada di Desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro yang dibangun pada tahun 2014. Tipe bendungan tersebut berupa urugan dengan inti batu . Pembangunan Bendungan Gongseng sangat diperlukan dalam rangka pengembangan insfrastruktur irigasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan penyediaan air baku di wilayah Kabupaten Bojonegoro dalam rangka pengelolaan SDA berkelanjutan dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, koordinasi BBWS Bengawan Solo dengan Bupati Bojonegoro juga terkait dengan rencana pembangunan Bendungan Pejok dan Bendung Gerak Karangnongko. Pembangunan Bendung Gerak Karangnongko berfungsi sebagai infrastruktur pengendali banjir Sungai Bengawan Solo sebagai kesatuan dengan tiga bendung gerak yang sudah ada yaitu Bendung Gerak Babat, Bendung Gerak Bojonegoro dan Bendung Gerak Sembayat. Bendung Gerak Karangnongko akan berfungsi untuk pasokan air irigasi dan air baku di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo sebelah hilir yang cukup luas. Agus Rudyanto menyebut jika pengembangan SDA oleh BBWS Bengawan Solo di Bojonegoro telah mendapat dukungan penuh oleh Pemerintah setempat. “Prinsipnya Pemkab mendukung upaya percepatan untuk semua kegiatan strategis BBWS Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro“ paparnya. (BBWSBS/Fira)
Baca Selengkapnya