Publikasi

Berita Balai

Pengelolaan Air Irigasi: Kunci Ketahanan Pangan di Sawah Padi
Balai Berita
26 Oct 2025

Pengelolaan Air Irigasi: Kunci Ketahanan Pangan di Sawah Padi

Sobat Cimancis, tahukah kamu bahwa kebutuhan air pada sawah padi dipengaruhi oleh berbagai faktor penting? Mulai dari penyiapan lahan, tingkat konsumsi air tanaman padi, perkolasi dan rembesan air ke dalam tanah, pergantian lapisan air di sawah, hingga curah hujan efektif yang menopang pertumbuhan tanaman. Semua faktor ini harus diperhitungkan secara tepat agar air irigasi dapat dimanfaatkan secara efisien dan hasil panen tetap optimal. Pengelolaan air yang tepat bukan sekadar teknis semata, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan. Dengan perhitungan yang akurat, petani dapat memaksimalkan penggunaan air, menekan risiko kekurangan pasokan di musim kemarau, dan meningkatkan produktivitas pertanian. Berdasarkan data BPS Jawa Barat 2024, efisiensi penggunaan air yang baik berpotensi meningkatkan hasil padi hingga 10–15% per musim tanam, terutama pada sawah yang dilayani sistem irigasi modern. BBWS Cimanuk Cisanggarung terus menerapkan prinsip pengelolaan irigasi yang berkelanjutan. Melalui pemantauan debit, perbaikan jaringan irigasi tersier, dan koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), distribusi air ke lahan pertanian dapat dijaga dengan baik. Upaya ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pengelolaan irigasi dan swasembada pangan, serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14 Tahun 2020 tentang standar kegiatan pengelolaan irigasi. Keberlanjutan pengelolaan air irigasi berperan penting dalam menjaga kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional. Air yang tersedia secara stabil memungkinkan peningkatan indeks pertanaman, mendukung penanaman padi lebih dari satu kali dalam setahun, dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan. Dengan komitmen yang konsisten, BBWS Cimanuk Cisanggarung memastikan setiap tetes air dari sistem irigasi berkontribusi pada masa depan pertanian yang produktif, efisien, dan berkelanjutan, sehingga kesejahteraan petani dan ketahanan pangan negeri terus terjaga.

Situ Lengkong: Sumber Air dan Penopang Ketahanan Pangan di Kabupaten Kuningan
Balai Berita
26 Oct 2025

Situ Lengkong: Sumber Air dan Penopang Ketahanan Pangan di Kabupaten Kuningan

Situ Lengkong yang terletak di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam yang memikat, tetapi juga memiliki fungsi vital dalam mendukung kehidupan masyarakat sekitar. Selain menjadi kawasan konservasi air, situ ini berperan sebagai sumber irigasi utama bagi lahan pertanian dengan cakupan layanan mencapai 20 hektare. Air yang mengalir dari situ tersebut menjadi tumpuan bagi petani dalam mengelola lahan mereka, terutama saat musim kemarau ketika ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan (2024), lebih dari 60% masyarakat di sekitar kawasan Situ Lengkong menggantungkan sumber penghidupan pada sektor pertanian. Oleh karena itu, pengelolaan situ secara berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjamin keberlanjutan produksi pangan daerah. Air dari Situ Lengkong tidak hanya mengairi sawah, tetapi juga menjaga kelembapan tanah, menekan risiko gagal panen, serta mendukung pertumbuhan tanaman padi dan palawija secara optimal. Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung berperan aktif dalam memastikan fungsi hidrologis Situ Lengkong tetap berjalan baik. Melalui kegiatan pemantauan debit air, perawatan tanggul, serta pengendalian sedimentasi, BBWS Cimanuk Cisanggarung menjaga agar kapasitas tampung situ tetap optimal. Upaya ini juga sejalan dengan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang menekankan pentingnya peningkatan efisiensi pengelolaan air untuk menunjang ketahanan pangan nasional. Secara ekologis, keberadaan Situ Lengkong juga memberikan manfaat besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Situ ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang menahan limpasan hujan dan mengurangi potensi banjir di wilayah sekitarnya. Selain itu, kawasan di sekitar situ menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan air tawar dan burung air yang memperkaya keanekaragaman hayati lokal. Dengan pengelolaan terpadu antara fungsi konservasi, irigasi, dan wisata, Situ Lengkong menjadi contoh nyata bagaimana sumber daya air dapat memberikan manfaat berlapis bagi masyarakat. Melalui peran aktif BBWS Cimanuk Cisanggarung, keberadaan situ ini tidak hanya menjaga pasokan air bagi petani, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem di Kabupaten Kuningan.

Rehabilitasi Irigasi Tersier Tegalmulya: Dorong Produktivitas dan Ketahanan Pangan Daerah
Balai Berita
26 Oct 2025

Rehabilitasi Irigasi Tersier Tegalmulya: Dorong Produktivitas dan Ketahanan Pangan Daerah

Sobat Cimancis, para petani di Desa Tegalmulya kini merasakan manfaat besar dari rehabilitasi jaringan irigasi tersier yang dilakukan di wilayah mereka. Aliran air yang kembali lancar dan merata membuat lahan pertanian menjadi lebih subur, sehingga produktivitas tanaman padi dan palawija mengalami peningkatan yang signifikan. Upaya ini menunjukkan bagaimana perbaikan infrastruktur irigasi berperan langsung dalam mendukung ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan petani di tingkat desa. Rehabilitasi irigasi tersier ini merupakan bagian dari tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang diimplementasikan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung. Program ini menitikberatkan pada peningkatan fungsi jaringan irigasi agar distribusi air ke lahan pertanian menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan air yang baik, petani Desa Tegalmulya kini dapat menanam dua hingga tiga kali dalam setahun, dibanding sebelumnya yang hanya satu kali karena keterbatasan air pada musim kemarau. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon (2024), peningkatan produktivitas padi di wilayah yang mendapatkan rehabilitasi irigasi mencapai 12–18 persen per musim tanam. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kontinuitas aliran air, berkurangnya kehilangan air akibat kebocoran saluran, serta meningkatnya efisiensi penggunaan air di tingkat petani. Dampak ekonominya pun terasa nyata, di mana pendapatan petani rata-rata meningkat hingga Rp4–5 juta per hektare setiap musim panen. Selain manfaat ekonomi, kegiatan rehabilitasi ini juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan dengan mendorong sistem pertanian yang lebih efisien dan ramah air. Melalui pemeliharaan saluran dan penerapan sistem irigasi terukur, BBWS Cimanuk Cisanggarung memastikan setiap tetes air dimanfaatkan secara optimal, sejalan dengan prinsip pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Dengan dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor, Desa Tegalmulya menjadi contoh nyata keberhasilan sinergi antara pemerintah, petani, dan instansi teknis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Bersama BBWS Cimanuk Cisanggarung, mari terus jaga dan kelola air dengan bijak demi masa depan pertanian Indonesia yang produktif dan berdaya saing.

P3-TGAI Kabupaten Indramayu: Peningkatan Saluran Irigasi untuk Ketahanan Pangan Nasional
Balai Berita
26 Oct 2025

P3-TGAI Kabupaten Indramayu: Peningkatan Saluran Irigasi untuk Ketahanan Pangan Nasional

Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Kabupaten Indramayu merupakan upaya konkret Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung dalam memperkuat layanan jaringan irigasi tersier yang dikelola secara partisipatif oleh masyarakat petani. Pada tahun anggaran 2025, program ini melibatkan 40 Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang tersebar di berbagai kecamatan, seperti Krangkeng, Sliyeg, Balongan, Juntinyuat, Indramayu, Tukdana, Terisi, dan Kandanghaur. Tujuan utamanya adalah meningkatkan fungsi saluran irigasi agar distribusi air menjadi lebih efisien, merata, dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan nasional. Pelaksanaan kegiatan mencakup 40 lokasi peningkatan saluran irigasi tersier dengan panjang bervariasi antara 213,5 meter hingga 320 meter, dan rata-rata mencapai 283,08 meter per lokasi. Berdasarkan rekapitulasi teknis, total panjang saluran yang ditingkatkan mencapai 11.323 meter (±11,32 km), dengan realisasi fisik dan keuangan mencapai 100%. Kegiatan ini tersebar di dua Daerah Irigasi utama, yaitu Rentang dan Cipanas (I & II), yang keduanya memiliki peran penting dalam menopang sistem irigasi pertanian di wilayah pesisir dan tengah Kabupaten Indramayu. Seluruh kegiatan dilaksanakan dengan pola padat karya tunai untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja lokal. Berdasarkan hasil perhitungan rencana tenaga kerja, total Hari Orang Kerja (HOK) yang terserap mencapai 25.741 OH, dengan rata-rata sekitar 643 HOK per lokasi. Angka ini sesuai dengan standar pelaksanaan padat karya pada proyek peningkatan saluran irigasi dengan volume pekerjaan pasangan batu dan pekerjaan tanah yang cukup tinggi. Pelibatan masyarakat dalam kegiatan ini tidak hanya mendorong percepatan penyelesaian pekerjaan, tetapi juga menambah pendapatan warga sekitar lokasi proyek, sehingga turut memperkuat daya beli masyarakat pedesaan. Dari sisi manfaat, peningkatan saluran irigasi ini berdampak signifikan terhadap efisiensi pengaliran air, kestabilan pola tanam, dan peningkatan produktivitas pertanian. Berdasarkan evaluasi lapangan dan hasil kajian kegiatan serupa di wilayah BBWS Cimancis, kegiatan ini berpotensi meningkatkan produktivitas hasil padi sebesar 10–15% per musim tanam serta menjaga Indeks Pertanaman (IP) di atas nilai 200. Kabupaten Indramayu sebagai lumbung padi terbesar di Jawa Barat dengan luas baku sawah 115.007 hektar (BPS, 2024) diharapkan semakin mampu menjaga kontribusinya terhadap pasokan beras nasional melalui infrastruktur irigasi yang lebih andal dan berkelanjutan. Pelaksanaan P3-TGAI ini berpedoman pada Petunjuk Teknis P3-TGAI Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Tahun 2024, serta mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12 Tahun 2015 tentang Eksploitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Ketahanan Pangan Nasional, yang mengamanatkan percepatan pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat dan optimalisasi infrastruktur sumber daya air. Melalui sinergi antara BBWS Cimancis, pemerintah daerah, dan kelompok P3A, program ini menjadi bentuk nyata dari pengelolaan sumber daya air yang partisipatif, efektif, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan petani serta ketahanan pangan nasional.

Rehabilitasi Saluran Sekunder Randegan: Tingkatkan Efisiensi Irigasi dan Produktivitas Pertanian di Majalengka
Balai Berita
26 Oct 2025

Rehabilitasi Saluran Sekunder Randegan: Tingkatkan Efisiensi Irigasi dan Produktivitas Pertanian di Majalengka

Sobat Cimancis, pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi saluran sekunder Randegan di Desa Randegan, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem irigasi yang menopang kebutuhan air bagi lahan pertanian setempat. Proyek ini dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS Cimanuk Cisanggarung) sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi jaringan irigasi yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah. Sebelum dilakukan rehabilitasi, saluran Randegan kerap mengalami kebocoran dan penurunan kapasitas akibat sedimentasi serta kerusakan pasangan dinding saluran. Kondisi tersebut mengakibatkan air irigasi tidak dapat mengalir optimal hingga ke lahan-lahan di bagian hilir, sehingga petani sering mengalami kekurangan pasokan air terutama pada musim kemarau. Melalui kegiatan rehabilitasi ini, perbaikan struktur saluran dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan aliran air kembali lancar, merata, dan sesuai kebutuhan tanam. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka (2024), wilayah Jatitujuh merupakan salah satu sentra produksi padi dengan luas baku sawah mencapai 3.214 hektar, dan sekitar 210 hektar di antaranya mendapatkan suplai air dari Saluran Sekunder Randegan. Setelah rehabilitasi dilakukan, efisiensi distribusi air meningkat hingga 15–20 persen, sehingga lahan pertanian yang sebelumnya sulit diairi kini dapat ditanami secara berkelanjutan. Dampaknya, hasil panen padi di wilayah tersebut diproyeksikan meningkat dari rata-rata 5,8 ton/ha menjadi 6,7 ton/ha per musim tanam. Kegiatan ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air, yang menekankan pentingnya perbaikan dan modernisasi jaringan irigasi guna mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional. Melalui pendekatan ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung memastikan setiap kegiatan pembangunan diarahkan untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat kemandirian pangan masyarakat pedesaan. Dengan mengalirnya kembali air secara optimal ke lahan-lahan pertanian di Randegan, para petani kini dapat mengelola sawah dengan lebih efisien dan berkelanjutan. Rehabilitasi ini bukan hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga memulihkan harapan dan memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat pertanian di Kabupaten Majalengka.

Harapan Baru Petani Krangkeng: Pembangunan Irigasi Tersier Dorong Produktivitas Pertanian Indramayu
Balai Berita
26 Oct 2025

Harapan Baru Petani Krangkeng: Pembangunan Irigasi Tersier Dorong Produktivitas Pertanian Indramayu

Kholid, seorang petani asal Desa Krangkeng, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, menuturkan tantangan yang selama ini dihadapi para petani di wilayahnya. Kekurangan air menjadi kendala utama yang kerap menghambat proses bercocok tanam, terutama pada masa tanam kedua (MT II). Kondisi ini menyebabkan banyak lahan tidak dapat diolah secara optimal, dan hasil panen pun mengalami penurunan signifikan dari musim ke musim. Permasalahan tersebut bukan hanya berdampak pada produktivitas pertanian, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan ekonomi para petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu tahun 2024, luas lahan sawah di Kecamatan Krangkeng mencapai 3.126 hektar, dengan sebagian besar bergantung pada sistem irigasi teknis. Namun, keterbatasan saluran irigasi yang mengalami sedimentasi dan kerusakan fisik menyebabkan air tidak mampu menjangkau seluruh areal pertanian secara merata. Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWS Cimanuk Cisanggarung) melaksanakan pembangunan saluran irigasi tersier di wilayah Krangkeng melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air. Pekerjaan ini bertujuan memperbaiki sistem distribusi air agar lebih efisien, mengurangi kehilangan air di saluran, serta memastikan kebutuhan air irigasi bagi petani dapat terpenuhi sepanjang musim tanam. Dengan adanya pembangunan jaringan irigasi baru ini, para petani seperti Kholid kini memiliki harapan besar terhadap peningkatan hasil panen. Air yang mengalir hingga ke lahan paling ujung memungkinkan peningkatan intensitas tanam (IP) dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Berdasarkan estimasi dari Kementerian Pertanian (2025), perbaikan jaringan irigasi mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 15–25 persen per musim tanam. Melalui langkah ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung tidak hanya memperbaiki infrastruktur fisik, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional serta kesejahteraan masyarakat pertanian di Indramayu. Upaya tersebut menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan, efisien, dan tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.