Seputar BBWS Citarum
Dari Kemandirian Mengelola Irigasi Menuju Kemandirian Pangan Nasional
Kategori :
Friday, 14 November 2025
Tawa para petani bersama petugas Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum pada Rabu pagi (5/11) itu kian menghangatkan hamparan sawah yang mulai disinari mentari pagi. Mereka bercengkrama dan saling berbagi keluh kesah yang dihadapi, bukan tentang percintaan atau perselingkuhan, melainkan tentang pertanian dan sumber daya air yang menopangnya.
Para petugas OP SDA itu tidak datang hanya dengan tangan kosong ketika menemui kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Saluyu III di Desa kutaraharja, Kabupaten Karawang. Melalui program Pengembangan Tata Guna Air (PTGA), para petugas mendampingi petani untuk dapat mengelola pertanian dan irigasi secara mandiri.
“Kita melakukan pendampingan, kemandirian pun kita coba sentuh dengan kegiatan ini, agar setelah mandiri mereka bisa mengelola budidaya pertanian ini dengan baik, mereka punya kemampuan sendiri untuk mengembangkan di bidang pertaniannyamaupun di bidang sumber daya airnya,” ujar Jaya Sampurna, Kepala Bidang OP SDA BBWS Citarum.
Dalam program PTGA ini, terdapat lima pilar yang hendak dicapai, yaitu:
- Konservasi air di wilayah pemanfaatan dan pengelolaan air baik di wilayah irigasi maupun di lahan.
- Efisiensi air dalam mendukung tata guna lahan untuk meningkatkan hasil produksi padi.
- Pengendalian daya rusak terhadap pemanfaatan air yang berlebih baik di saluran irigasi maupun di lahan.
- Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penggunaan dan pengelolaan irigasi secara partisipatif.
- Pemberdayaan petani untuk mandiri dalam mengelola jaringan irigasi.
Kelima tujuan itu pada akhirnya akan bermuara pada satu visi yang berkelanjutan yakni swasembada pangan nasional melalui cara-cara sederhana yang bisa diterapkan langsung oleh petani. Melalui bagaimana caranya mengatur pintu air saluran irigasiagar air dapat mengalir dengan cukup ke sawah-sawah misalnya seperti yang diajarkan petugas OP SDA. Petani juga dibimbing untuk menggunakan cairan organik sebagai pupuk yang dapat mendukung pertumbuhan padi.
Cara-cara sederhana itu kini mampu memberikan manfaat yang nyata bagi para petani dalam meningkatkan hasil produksi pertaniannya seperti yang diungkapkan oleh Adang, petani P3A Saluyu III.
“Produksi dari awal kita sebelum mengenal dengan adanya program PTGA itu biasanya satu bahu (700 meter lahan pertanian) kita hanya mendapatkan tonasi 3 ton, tapi sekarang alhamdulillah dengan adanya program dari PTGA 2025 kita bisa mencapai 4sampai 5 ton per bahu,” cerita Adang penuh syukur.
Kehadiran petugas OP SDA dalam program PTGA ini tidak hanya menjawab keluh-kesah petani, tapi juga membekali kemandirian yang utuh dan berkelanjutan dalam mengelola pertanian dan jaringan irigasi yang menopang keberlangsungannya. Dengankemandirian pengembangan tata guna air yang terarah, swasembada pangan bukan lagi sekadar harapan, melainkan hasil dari sebuah ikhtiar.