JIAT Mengalirkan Air Tanah untuk Pertanian Tangguh


Kategori :

Tuesday, 21 October 2025


JIAT Mengalirkan Air Tanah untuk Pertanian Tangguh

Pernahkah kamu bayangkan, di tengah musim kemarau, mengapa sawah tetap hijau dan tanaman tumbuh subur meski hujan tak kunjung datang. Bagi daerah yang memiliki saluran irigasi yang memiliki sumber air tentu ia bisa mengatasi kekeringan. Namun, bagaimana dengan yang tidak memiliki sumber air permukaan baik untuk keperluan irigasi maupun air minum, yang kekeringan pada musim kemarau? 

Selain air yang mengalir di permukaan, rupanya air yang mengalir di dalam tanah bisa kita manfaatkan. Dengan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), pertanian di daerah-daerah kekeringan bisa tetap hijau dan tumbuh subur. 

Apa itu JIAT? 

Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) adalah sistem pengairan yang memanfaatkan air tanah untuk mendukung pertanian, terutama di wilayah yang tidak terjangkau oleh saluran irigasi pada umumnya. Air tanah itu berasal dari lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan bumi, tepatnya akuifer, tempat di mana air hujan tersimpan setelah meresap melalui pori-pori dan retakan tanah. Air itu kemudian mengalir perlahan secara alami karena gravitasi, menunggu untuk dimanfaatkan kembali oleh manusia. 

Mengapa JIAT Penting bagi Pertanian? 

Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) menjadi infrastruktur penting bagi pertanian masyarakat, terutama yang tidak teraliri saluran irigasi, seperti sawah tadah hujan atau kebun warga. Sistem JIAT dapat mengurangi ketergantungan pertanian dan perkebunan pada hujan, dengannya panen tetap berlangsung di musim kemarau. Karena tak kenal musim, JIAT dapat meningkatkan intensitas tanam karena lahan bisa ditanami lebih dari sekali dalam setahun tak hanya pada musim hujan 

Dengan dampak yang besar itu, JIAT berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional, ia menjaga produksi agar tetap stabil meski cuaca berubah-ubah. 

Bagaimana cara kerja JIAT? 

Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) memiliki tiga komponen utama, yaitu sumur, pompa air, dan box bagi. JIAT bekerja dengan mengambil air tanah melalui sumur bor yang mencapai lapisan akuifer. Air yang telah diambil itu lalu dipompa menggunakan tenaga listrik, diesel, atau bahkan panel surya di beberapa lokasi. Setelahnya, air dialirkan lewat pipa transmisi menuju jaringan distribusi yang membagi aliran ke beberapa titik layanan. 

Setiap titik dilengkapi katup pengatur (valve) dan alat ukur debit (flow meter) agar volume air bisa diatur sesuai kebutuhan lahan. Air yang keluar dari sistem ini bisa disalurkan lewat irigasi permukaan, sprinkler, atau tetes (drip irrigation), tergantung jenis tanaman dan kondisi tanah. Air yang keluar dari pipa dan saluran itu kemudian mengairi persawahan petani dan ladang warga, dengannya padi dan tanaman dapat bertumbuh. 

JIAT Dukung Swasembada Pangan  

Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) melalui Program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) 
menjadi bagian penting dari pelaksanaan Intruksi Presiden (Inpres) No. 2 Tahun 2025. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum turut mendukung program demi swasembada pangan nasional dengan membangun dan merehabilitasi JIAT.  

Di tahun 2025 ini melalui Inpres No. 2 Tahun 2025, terdapat 14 (empat belas) titik lokasi pembangunan JIAT baru, yang terdiri terdiri dari 10 (sepuluh) titik lokasi di Kabupaten Indramayu dan 4 (empat) titik lokasi di Kabupaten Cianjur. Selain itu, dilakukan juga rehabilitasi pada 72 (tujuh puluh dua) titik lokasi JIAT yang tersebar di Kabupaten Indramayu sebanyak 40 (empat puluh) titik lokasi, Kabupaten Bandung Barat sebanyak 30 (tiga puluh) titik lokasi, dan Kabupaten Subang sebanyak 2 (dua) titik lokasi. 

Dengan adanya JIAT, air tanah kini bukan lagi potensi yang tersembunyi, tapi sumber kehidupan nyata bagi petani. “Dengan JIAT, kita dapat memanfaatkan air tanah lewat sumur bor dan pompa lalu disalurkan ke sawah. Harapannya lahan kita tetap subur, panen meningkat, dan kehidupan menjadi lebih baik,” ujar Tasya Asyantina, PPK Pendayagunaan Air Tanah, SNVT Air Tanah dan Air Baku, BBWS Citarum.