Kilometer Nol Sungai Citarum: Simbol Tanggung Jawab dalam Merawat Aliran Kehidupan


Kategori :

Tuesday, 16 December 2025


Kilometer Nol Sungai Citarum:  Simbol Tanggung Jawab dalam Merawat Aliran Kehidupan

Matahari pagi di Situ Cisanti selalu datang dengan tenang. Kabut tipis menghiasi pepohonan, sementara permukaan air memantulkan bayangan Gunung Wayang, di sinilah Sungai Citarum bermula. Bukan hanya sebagai sungai yang mengalir panjang membelah Jawa Barat, melainkan juga sebagai air yang menghidupi jutaan orang hingga ke Laut Jawa.

 

Situ Cisanti, yang terletak di kaki Gunung Wayang, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, dikenal sebagai kilometer nol Sungai Citarum. Situ Cisanti menjadi tempat pertemuan tujuh mata air, diantaranya mata air Cikahuripan (Pangsiraman), mata air Cihaniwung, mata air Mastaka Citarum, mata air Cisadane, mata air Cikoleberes, mata air Cikawedukan dan terakhir mata air Cisanti. 

 

Lokasi Situ Cisanti yang terletak di kaki gunung membuatnya memiliki suhu udara yang sejuk walau siang hari datang. Pemandangan situ yang asri, udara yang sejuk, dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan membuat Situ Cisanti memikat banyak pengunjung dari sekitar Jawa Barat untuk berkunjung dan menenangkan pikiran sejenak di sana. 

 

Namun, pesona Situ Cisanti bukan hanya terletak pada keindahan visualnya. Kawasan ini adalah benteng pertahanan pertama bagi ekosistem Jawa Barat. Apa yang dimulai di sini, memikul beban berat untuk tetap bersih hingga melewati puluhan kota dan desa di sepanjang alirannya.

 

Kini, menjaga "Kilometer Nol" bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Kesadaran untuk melestarikan lingkungan di sekitar Gunung Wayang terus ditingkatkan agar ketujuh mata air tersebut selalu bersih. Sebab, jika Situ Cisanti tercemar, dampaknya akan terasa hingga jauh ke utara, ke rumah-rumah penduduk dan industri yang menggantungkan hidup pada napas Sungai Citarum.


Setiap tetesan air dari Situ Cisanti yang mengalir di Sungai Citarum akan menjadi warisan tidak ternilai yang akan dirasakan oleh anak dan cucu kita di masa yang akan datang. Jika hari ini kita gagal menjaga ekosistem Situ Cisanti, maka kita mewariskan sungai yang ‘sakit’ dan berpotensi mengancam kelangsungan hidup generasi masa depan. 

Menjaga ekosistem Situ Cisanti bukan hanya menjaga kebersihan air, namun juga menjaga hutan sekitar agar tetap rimbun dan bebas dari polusi. Dengan usaha tersebut, generasi di masa depan akan merasakan aliran Sungai Citarum sebagai berkah, bukan bencana yang mengancam kehidupan. 

 

Situ Cisanti adalah pengingat abadi bahwa sungai adalah urat nadi peradaban dan tulang punggung perekonomian. Di bawah naungan kabut Kertasari dan Gunung Wayang, Citarum memulai langkah pertamanya, membawa harapan bahwa air yang jernih di hulu akan tetap menjadi berkah hingga tiba di muara.


Galeri Foto