Seputar BBWS Citarum
Mengurangi Genangan Banjir Bandung Selatan dengan Infrastruktur Pengendali Banjir
Kategori :
Wednesday, 12 November 2025
Setiap musim hujan, sekitar 14.793 (empat belas ribu tujuh ratus sembilan puluh tiga) hektar area Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum rawan terkena banjir. Banjir itu disebabkan oleh topografi aliran sungai yang unik, anak sungai yang curam, aliran yang sering berbalik akibat sedimentasi di muara, hingga aktivitas penduduk seperti perusakan hutan, pembangunan di tepi sungai yang tidak sesuai peruntukan, penggunaan air tanah berlebih, dan penumpukan sampah di sungai.
Diketahui, 8.763 (delapan ribu tujuh ratus enam puluh tiga) meter kubik sampah masuk ke wilayah Sungai Citarum per harinya. Data tersebut menunjukan besarnya permasalahan yang dihadapi Sungai Citarum karena kurangnya pengelolaan sampah dan minimnya kesadaran masyarakat. Banjir itu mungkin sulit untuk dicegah, tapi bisa kita antisipasi dan kurangi dengan infrastruktur pengendali banjir.
Dalam rangka mengendalikan banjir, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum membangun infrastruktur pengendali banjir di daerah strategis dan rawan banjir, seperti Kolam Retensi Cieunteung dan Andir, Floodway Cisangkuy, dan TerowonganNanjung.
Kolam retensi merupakan area penampungan buatan yang didesain khusus untuk menampung sementara air limpasan hujan, sebelum air tersebut dialirkan secara perlahan ke saluran drainase atau sungai terdekat. Dengan menahan air limpasan tersebut, kolam retensi dapat mengurangi risiko meluapnya sungai ke daerah hilir sepanjang DAS sehingga risiko banjir dapat dikendalikan.
Dengan kapasitas lebih dari 700.000 (tujuh ratus ribu) meter kubik, Kolam Retensi Cieunteung telah berhasil mengurangi genangan banjir di wilayah Baleendah dan sekitarnya. Kolam Retensi Cieunteung juga bekerja terintegrasi dengan sistem pengendalibanjir lainnya di Wilayah Sungai (WS) Citarum, seperti bangunan polder dan tanggul.
Dengan sistem pengendali banjir Kolam Retensi Cieunteung yang terintegrasi itu, masyarakat merasakan langsung manfaatnya. Ribuan rumah, fasilitas umum, dan area ekonomi di wilayah langganan banjir tersebut kini lebih terlindung dari luapan air.
Kolam retensi juga memiliki fungsi lain, seperti penempatan untuk konservasi sumber daya air dan juga fungsi rekreasi atau pariwisata. Misalnya, kolam retensi Andir yang menjadi ruang terbuka publik serta menjadi sarana untuk memancing dan berolahraga bagi masyarakat Dayeuhkolot.
Setelah kolam retensi, floodway memiliki peran yang signifikan pula dalam mengendalikan banjir. Kalau kolam retensi menampung air limpasan hujan, floodway menyalurkan air hujan melalui atau kanal yang dengannya debit tekanan air menurun dan air tidak akan meluap ke pemukiman penduduk.
Floodway Cisangkuy dapat mengalirkan debit air hujan sebesar 215 (dua ratus lima belas) meter kubik per detik. Air yang semula bermuara ke Dayeuhkolot itu, kini bermuara ke Pameungpeuk sehingga mengurangi lama genangan dan luas genangan diWilayah Bandung Selatan seperti daerah Dayeuhkolot, Baleendah, Andir, dan sekitarnya.
Terakhir, ada Terowongan Nanjung yang juga tak kalah pentingnya. Terowongan Nanjung yang berada di area hulu Sungai Citarum tepatnya di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung ini dapat mempercepat aliran air Sungai Citarum di kawasan CurugJompong. Dengan mengurangi penyempitan aliran sungai, debit air dapat mengalir lebih cepat menuju Waduk Saguling sebagai tempat penampung air dalam skala besar.
Dengan ketiga infrastruktur pengendali banjir itu, kini di wilayah Bandung Selatan khususnya mulai berkurang wilayah yang tergenang airnya. Keberadaan infrastruktur pengendali banjir itu menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko genangan dan menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat di daerah rawan banjir tersebut.