Menjaga Daerah Aliran Sungai Citarum untuk Masa Depan Berkelanjutan


Kategori : Artikel ,

Monday, 05 January 2026


Menjaga Daerah Aliran Sungai Citarum untuk Masa Depan Berkelanjutan

Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum merupakan salah satu sumber daya air terpenting di Jawa Barat yang memberikan kehidupan bagi jutaan masyarakat. Membentang dari hulu di kawasan Gunung Wayang hingga hilir di Muara Gembong Bekasi, dengan panjang sungai Citarum 297 kilometer dan melintasi 14 wilayah administratif. Peran strategis DAS ini tidak hanya sebagai sumber air baku, tetapi juga sebagai penopang irigasi pertanian, pembangkit listrik, dan pengendali banjir.

DAS Citarum memiliki peran yang sangat krusial bagi kehidupan masyarakat Jawa Barat. Sebagai sumber air baku, DAS ini memasok kebutuhan air bersih untuk jutaan penduduk di wilayah Bandung, Karawang, Bekasi, hingga Jakarta. Dari segi pertanian, jaringan irigasi yang bersumber dari DAS Citarum mengairi sekitar 522.861 hektar lahan sawah, menjadikan kawasan ini sebagai lumbung pangan utama Jawa Barat. Tiga waduk besar yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur berkontribusi signifikan dalam penyediaan energi listrik dengan total kapasitas mencapai 2.631 MW.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian PU melaksanakan pengelolaan DAS melalui tiga pilar utama Sumber Daya Air (SDA) yaitu konservasi SDA, pendayagunaan SDA dan pengendalian daya rusak air.  Pertama, pada konservasi SDA, fungsi ini diwujudkan melalui pembangunan dan rehabilitasi bendungan, contohnya pembangunan Bendungan Sadawarna, dan yang sedang proses dibangun adalah Bendungan Cibeet dan Bendungan Cijurey yang manfaatnya untuk irigasi, pengedalian banjir, dan penyediaan air baku. Kemudian, ada juga rehabilitasi infrastruktur Situ Lembang untuk memasok air baku di wilayah Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. 

Kedua, pendayagunaan SDA yang bertujuan memanfaatkan sumber daya air untuk kemakmuran rakyat melalui pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan jaringan irigasi, pembangunan embung, dan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Salah satu pemanfaatannya pada pembangunan Embung Cikalong. Pembangunan infrastruktur tersebut untuk mengoptimalkan aliran harian PLTA Cikalong sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penyediaan air baku secara regional.

Ketiga, pengendalian daya rusak air yang berfungsi mencegah dan menanggulangi bencana akibat daya rusak air. Fungsi ini dilakukan salah satunya melalui pembangunan groundsill, pembangunan tanggul, dan pembangunan floodway. Pembangunan groundsill bertujuan untuk mengendalikan kemiringan dasar sungai, pembangunan tanggul bertujuan untuk mencegah banjir berulang, sementara pembangunan floodway bertujuan untuk mengurangi genangan. 

Dalam menjalankan 3 (tiga) pilar tersebut, kondisi Sungai Citarum saat ini banyak disoroti masalah kualitas airnya. Oleh sebab itu, menjaga kualitas air di Situ Cisanti sebagai sumber air Sungai Citarum sangat penting untuk dilakukan. Peran masyarakat menjadi kunci keberhasilan melalui tindakan sederhana seperti tidak membuang sampah ke sungai, berpartisipasi dalam kegiatan bersih sungai, dan menggunakan air secara bijak.

Kelestarian DAS Citarum adalah tanggung jawab bersama untuk menentukan kualitas dan keberlanjutan kehidupan generasi saat ini dan masa depan. Oleh karena itu, Mari bersama-sama menjaga kelestarian DAS Citarum, karena air yang berkualitas adalah untuk kehidupan yang berkelanjutan.


Galeri Foto