Seputar BBWS Citarum
Menjaga Keberlangsungan Bendungan Jatiluhur: Infrastruktur Penyokong Swasembada Pangan di Jawa Barat
Kategori : Artikel ,
Monday, 19 January 2026
Setelah lebih dari setengah abad beroperasi, tantangan pemeliharaan bendungan berusia 58 tahun ini semakin kompleks. Mulai dari pencemaran kualitas air yang terus memburuk akibat masalah di hulu Sungai Citarum hingga aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan turbin pembangkit listrik, pintu-pintu air, dan dinding bendungan. Operasional dan pemeliharaan Bendungan Jatiluhur telah dilakukan oleh Perum Jasa Tirta II, perbaikan juga terus dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.
BBWS Citarum memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan fungsi Bendungan Ir. H. Djuanda melalui berbagai program rehabilitasi infrastruktur. Bendungan Ir. H. Djuanda memiliki luas genangan mencapai 8.300 hektar dengan kapasitas tampung 2,44 miliar meter kubik. Bendungan ini berfungsi sebagai pembangkit listrik berkapasitas 187,5 MW untuk wilayah Jawa – Bali, dan mengairi Daerah Irigasi Jatiluhur seluas 242.000 hektar. Dengan luasan irigasi yang sangat besar, Bendungan Jatiluhur menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Namun, dalam mendukung ketahanan pangan tersebut, tantangan pada permasalahan sistem irigasi muncul. Untuk mengatasi tantangan tersebut, BBWS Citarum menerapkan program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). Program ini ditujukan untuk menciptakan pengelolaan air yang efisien, terukur, dan berkelanjutan untuk mendukung swasembada pangan nasional.
Program SIMURP menerapkan prinsip Climate Smart Agriculture (CSA) dimana pengairan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Saat masa tanam, debit air dialirkan tinggi untuk membasahi tanah secara optimal. Pada fase pertumbuhan, debit air dikurangi agar penggunaan lebih efisien. Menjelang panen, air dialirkan secukupnya supaya tanah tidak terlalu lembek sehingga memudahkan proses pemanenan.
Pendekatan CSA ini terbukti meningkatkan produktivitas padi di seluruh Indonesia. Pada tahun 2024, berdasarkan data dari 41 sampel lokasi, rata-rata produktivitas padi meningkat sebesar 1,28 ton per hektar gabah kering panen. Salah satu contoh keberhasilannya terlihat di Saluran Sekunder Cengkong, Kabupaten Karawang. Produktivitas padi meningkat dari 5-6 ton menjadi 7-8 ton per hektar setelah dilakukan modernisasi sistem irigasi sepanjang 3,7 kilometer yang mengairi 382 hektar sawah di tiga desa, yaitu Desa Sukasari, Desa Karangsari, dan Desa Darawolong.
Berkat upaya modernisasi irigasi yang terus dilakukan, komitmen pemerintah dalam mengelola ketersediaan air irigasi membuahkan hasil nyata. Pada Rabu, (7/1), Presiden Prabowo Subianto secara resmi mendeklarasikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan nasional. Pencapaian itu disampaikan dalam Kegiatan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang.
Panen Raya tersebut didukung oleh pasokan air irigasi dari Saluran Sekunder Tanjungsari (SS Tanjungsari), bagian dari Daerah Irigasi Jatiluhur yang mengairi 237.790 hektare lahan pertanian di Kabupaten Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi, dan Purwakarta. Ini memperlihatkan peran besar Bendungan Ir. H. Djuanda yang menyimpan air dan D.I Jatiluhur yang mengalirkan air tersebut telah menopang swasembada pangan nasional. Dengannya, warisan monumental ini harus kita jaga agar keberadaannya kian berdampak dan tetap lestari.
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementrian Pekerjaan Umum (PU), melalui BBWS Citarum berkontribusi aktif dalam pencapaian prioritas nasional melalui penyediaan dan pengelolaan ketersediaan air D.I Jatiluhur yang menjadi urat nadi swasembada pangan nasional, agar terus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.