Seputar BBWS Citarum
Sistem Irigasi Modern (SIMURP) BBWS Citarum Meningkatkan Produktivitas Padi, Menyejahterakan Petani
Kategori :
Thursday, 23 October 2025
Suara gemericik air di Saluran Sekunder Cengkong, Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang kini terdengar lebih deras dari sebelumnya. Alirannya tak lagi tersendat, mengalir lancar melewati dinding irigasi yang berdiri kokoh di tepi sawah. Bagi petani di sini, air bukan sekadar kebutuhan rumah tangga saja, tapi juga sumber penghidupan yang layak.
“Yang dulunya penghasilan (panen) petani itu di antara 5 (lima) sampai 6 (enam) ton (padi), sekarang 7 (tujuh) sampai 8 (delapan) ton (padi) ada,” ujar Sudono, Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Harapan Makmur, yang kini merasakan manfaat nyata dari adanya Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) di daerahnya.
Program SIMURP mulai dijalankan pemerintah sejak 2020, kolaborasi antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertanian dengan didanai oleh World Bank dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
Program ini ditujukan untuk menciptakan pengelolaan air yang efisien, terukur, dan berkelanjutan untuk mendukung swasembada pangan nasional.
Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) memiliki tiga komponen proyek utama, yaitu:
- Rehabilitasi dan Revitalisasi Sistem Irigasi dan Drainase Mendesak dengan memperbaiki jaringan yang rusak berat agar air bisa segera mengalir kembali ke sawah.
- Modernisasi Sistem Irigasi dan Drainase Strategis melalui pendekatan baru dalam pengelolaan air yang berbasis data, efisien, dan adaptif terhadap iklim
- Manajemen Proyek dan Dukungan Konsultan dengan memastikan seluruh tahapan proyek berjalan dengan baik melalui dukungan manajemen dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lapangan.
Saluran Sekunder Cengkong, Kabupaten Karawang menjadi salah satu lokasi penerapan Komponen B yaitu Modernisasi Sistem Irigasi dan Drainase Strategis. Sistem irigasi modern dibangun di Saluran Sekonder Cengkong sepanjang 3,7 (tiga koma tujuh) kilometer yang kini mengairi 382 (tiga ratus delapan dua) hektar sawah di tiga desa yaitu Desa Sukasari, Desa Karangsari, dan Desa Darawolong.
Dengan adanya SIMURP, “yang dulunya saluran air itu jelek sekali, alhamdulillah sekarang udah bagus,” tutur Sudono dengan sumringah.
Memang, sebelum adanya SIMURP, pengaturan air dilakukan secara manual dengan petugas membuka pintu air berdasarkan pengalaman atau perkiraan semata. Akibatnya, aliran air sering tidak merata: sawah di hulu mendapat banyak air, sementara di hilir kekurangan air. Kini, dengan sistem hidromekanikal, pintu air dapat dibuka dan ditutup dengan kendali presisi sesuai kebutuhan tiap sawah. Hasilnya, distribusi air menjadi lebih seimbang dan efisien sehingga panen lebih teratur.
Tak hanya itu, di beberapa titik juga dipasang alat ukur volumetrik dan sistem telemetri. Teknologi ini memungkinkan debit air dipantau dalam waktu nyata (realtime). Dengannya, petugas bisa memantau kondisi saluran, mendeteksi kebocoran, atau menentukan kapan perlu dilakukan perawatan.
Program SIMURP juga dijalankan melalui prinsip Climate Smart Agriculture (CSA), pengairan disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Saat tanam, debit air tinggi untuk membasahi tanah; saat pertumbuhan, dikurangi agar efisien; dan menjelang panen, dialirkan secukupnya supaya tanah tak terlalu lembek. Pendekatan ini terbukti meningkatkan produktivitas padi di seluruh Indonesia. Pada 2024 misalnya, rata-rata kenaikan mencapai 1,28 (satu koma dua puluh delapan) ton per hektar gabah kering panen berdasarkan 41 sampel lokasi.
Bagi Sudono dan petani lainnya, dampak SIMURP terasa nyata. “Alhamdulillah untuk air, untuk Kecamatan Purwasari, Alhamdulillah cukup bagus,” ujarnya bersyukur. Air kini mengalir tepat waktu, sawah lebih subur, dan produktivitas meningkat.
Keberhasilan ini bukan hanya soal infrastruktur, melainkan hasil kolaborasi lintas sektor yang saling terhubung — dari perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan. Program ini menunjukkan bahwa modernisasi irigasi tidak hanya soal teknologi, tapi juga soal komitmen menjaga ketahanan pangan nasional.