Publikasi

Berita Balai

Kaliandra Merah (Calliandra calothyrsus (Meisn.))
Balai Berita
25 Nov 2025

Kaliandra Merah (Calliandra calothyrsus (Meisn.))

Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Genus : Calliandra Spesies : Calliandra houstoniana   Calliandra calothyrsus (Meisn.) (KEW) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Deskripsi : Kaliandra merah adalah tanaman jenis perdu asli Amerika Tengah dan Meksiko. Kulit batangnya berwarna merah keabu-abuan. Bunganya berbentuk mangkuk dengan lima kelopak yang tersusun teratur dan banyak  benang merah panjang (Plant Booklet Project). Kaliandra merah merupakan jenis legum tidak berduri yang biasanya tingginya sekitar 5-6 m, namun dapat mencapai tinggi 12 m. Memiliki batang lurus dengan diameter hingga 30 cm dan banyak cabang yang membentuk kanopi lebat. Warna kulit kayunya sangat bervariasi, dari putih hingga coklat merah atau coklat kehitaman (Orwa dkk,2009). Kaliandra merah merupakan tanaman invasif pada daerah dengan ketinggian sedang di bawah 1300 m. Di Jawa, spesies ini ditanam hingga ketinggian 1500 m, namun tumbuh paling baik pada ketinggian antara 250-800 m di daerah dengan curah hujan tahunan 2000-4000 mm dan periode kering 3-6 bulan. Kaliandra merah tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah tetapi lebih menyukai tanah bertekstur ringan dan sedikit asam. Tanaman ini dapat mentolerir tanah yang tidak subur dan padat atau memiliki aerasi yang buruk, namun tidak dapat mentolerir tanah yang tergenang air dan bersifat basa. Tanaman ini bermanfaat untuk konservasi lahan, reklamasi lahan marginal, pengendali erosi dan tanah longsor. Tegakan kaliandra juga menjadi habitat bagi burung Pycnonotus aurigaster (cucak kutilang) sebagai tempat bertengger dan mencari makan. Kaliandra banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pakan lebah, penyedia pupuk kompos, kayu bakar, bubur kayu (pulp).  Pustaka Plant Booklet Project https://selva.sith.itb.ac.id/pbp/browse/plant.php?p=18 Plants of the World Online Royal Botanic Gardens Kew (Kew) https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:1010291-1 The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/130103720/146771864

Huru (Litsea glutinosa C.D.)
Balai Berita
25 Nov 2025

Huru (Litsea glutinosa C.D.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Laurales Famili : Lauraceae Genus : Litsea Spesies : Litsea glutinosa C.D. Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Litsea glutinosa C.D. atau dikenal Huru merupakan jenis pohon yang berasal dari India, Sri Lanka, Kepulauan Nikobar, Nepal, Bangladesh, Myanmar, Cina, Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, Indonesia, Filipina, Nugini dan Australia. Pohon ini pun diperkenalkan ke Afrika Selatan, Madagaskar, Mauritius, Rodrigues, Reunion, Seychelles dan Trinidad-Tobago. Pohon Huru mampu tumbuh tinggi mencapai 3-15 m dengan diameter 26 - 33 cm. Pohon ini tumbuh di hutan serta semak belukar pada ketinggian antara 0 - 1450 m dpl. Pohon Huru memiliki batang berkayu dan bercabang-cabang. Daun tergolong tunggal dengan berbentuk seperti elip, berwarna hijau dan berbulu halus. Bunga Huru berbentuk malai dengan mahkota bunga berwarna putih kekuningan. Buah Huru berbentuk bulat dengan buah muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam. Jenis perakaran pohon ini yaitu akar tunggang berwarna coklat muda. Pemanfaatannya di Vietnam pada parutan kulit yang di potong-potong. Di Indonesia bagian yang sering dimanfaatkan yaitu akar, daun atau kulit batangnya. Pemanfaatannya dijadikan sebagai obat. Akarnya berguna untuk mengobati mencret, kencing manis dan radang usus. Tumbuhan ini mengandung alkaloid (golongan fenantren dan aporfin), flavonoid, tannin, polifenol dan minyak atsiri.   Pustaka IPBioticcs https://ipbiotics.apps.cs.ipb.ac.id/index.php/tumbuhanObat/846  Plantamor https://plantamor.com/species/info/litsea/glutinosa#gsc.tab=0  The International Union for Conservation of Nature (IUCN) https://www.iucnredlist.org/species/145824211/153621601

Jabon Putih (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.)
Balai Berita
25 Nov 2025

Jabon Putih (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae  Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta  Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Asteridae Ordo : Rubiales Famili : Rubiaceae Genus : Neolamarckia Spesies : - Neolamarckia cadamba (Roxb.) F. Bosser  - Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq. (USDA) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Jabon Putih merupakan tanaman yang berasal dari Asia dan Asia Tenggara dan tumbuh secara alami di India, China ke bagian selatan hingga Australia. Jabon putih umumnya tumbuh pada tanah aluvial lembab di pinggir sungai dan di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang kadang-kadang digenangi air. Selain itu dapat juga tumbuh dengan baik pada tanah liat, tanah lempung podsolik coklat, tanah tuf halus atau tanah lempung berbatu yang tidak sarang. Jenis ini memerlukan iklim basah hingga kemarau kering di dalam hutan gugur daun dengan tipe curah hujan A-D,Jabon putih dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 1000 mdpl. Permudaan alam banyak sekali terdapat terutama pada tempat-tempat terbuka seperti pada bekas tebangan, bekas jalan sarad atau bekas perladangan. Jabon termasuk jenis pionir yang dapat membentuk kelompok hutan alam murni pada tempat yang bebas persaingan cahaya. Pohon jabon putih berbuah setiap tahun pada bulan Juni-Agustus. Buahnya majemuk berbentuk bulat dan lunak, mengandung biji yang sangat kecil. Jumlah biji kering udara 18-26 juta butir per kg. Buah yang berukuran sedang dapat menghasilkan se-kitar 8.300 pohon. Pertumbuhan jabon termasuk cepat, sehingga pada umur 3 tahun harus dilakukan penjarangan pertama dan pada umur 25 tahun sudah dapat menghasilkan kayu pertukangan. Kayu jabon putih dapat dipergunakan untuk korek api, peti pembungkus, cetakan beton, mainan anak-anak, pulp, kelom dan konstruksi darurat yang ringan. Pustaka   Martawijaya, A., Kartasujana, I., Mandang, Y. I., Prawira, S. A., & Kadir, K. (1989). Atlas kayu Indonesia jilid II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor, Indonesia. United States Department of Agriculture (USDA) https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=NECA7

Ki putri (Podocarpus neriifolius D. Don)
Balai Berita
25 Nov 2025

Ki putri (Podocarpus neriifolius D. Don)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Coniferophyta Kelas : Pinopsida Ordo : Pinales Famili : Podocarpaceae Endl. Genus : Podocarpus L'Hér. ex Pers. Spesies : Podocarpus neriifolius D. Don. (USDA) Status Konservasi IUCN LC- Least Concern Deskripsi Ki putri merupakan spesies yang memiliki persebaran yang paling luas dalam genus Podocarpus, persebarannya meliputi Nepal, Myanmar, kawasan Indo-China dan China selatan, hingga ke wilayah Malesiana dan negara-negara di sekitar samudra Pasifik. Di dataran China, tanaman ini tumbuh pada ketinggian 100-1.000 meter di atas permukaan air laut, namun di daerah-daerah dengan iklim tropis, ki putri dapat tumbuh di dekat pantai hingga mencapai elevasi 2.300 meter di atas permukaan air laut. Ki putri dapat tumbuh pada kondisi tanah yang beragam, mulai dari lahan kritis hingga tanah dengan kondisi basa yang tinggi, namun umumnya tanaman ini tumbuh di lahan dengan drainase yang baik dan jauh dari sungai. Ki putri banyak digunakan untuk dimanfaatkan kayunya untuk konstruksi rumah, veneer, dan bahan baku pembuatan bermacam furnitur, Suku-suku dataran tinggi di Papua Nugini memanfaatkan kulit batang pohon ini untuk digunakan sebagai pelapis tembok rumah mereka (IUCN). Ki putri merupakan pohon besar dengan mahkota berbentuk kubah, umumnya memiliki tinggi 5-30 meter, namun dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 40 meter bahkan lebih, batangnya lurus dan silindris dengan diameter 10-100 cm, tinggi batang bebas cabang ki putri dapat mencapai tinggi 20 meter (UTP). Pustaka The International Union for Conservation of Nature (IUCN)  https://plants.usda.gov/home/plantProfile?symbol=PONE21 United States Department of Agriculture (USDA)  https://www.iucnredlist.org/species/42521/2984612 Useful Tropical Plants (UTP) https://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Podocarpus+neriifolius

Apel (Malus sylvestris (L.) Mill.)
Balai Berita
25 Nov 2025

Apel (Malus sylvestris (L.) Mill.)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Rosales Famili : Rosaceae Juss. Genus : Malus Mill. Spesies : Malus sylvestris (L.) Mill.  (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN  DD – Data Deficient Deskripsi Apel merupakan tanaman berbuah yang berasal dari Eropa dan menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Meskipun tersebar luas, hibridisasi budidaya apel diketahui memiliki dampak yang signifikan terhadap populasi dan tidak diketahui sejauh mana pengaruhnya terhadap keanekaragaman genetik. Oleh karena itu, secara regional apel dinilai memiliki status konservasi DD (Data Deficient) menurut IUCN (Kik et al., 2011). Apel dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.800 m dpl (Iberia), ketinggian 1.000 m dpl (Jerman), dan 550 mdpl (Norwegia). Apel menyukai tempat tumbuh yang memiliki drainase baik, lembab dengan tanah cenderung liat dan pH yang cenderung netral. Apel termasuk dalam habitus pohon kecil dengan tinggi 5–10 m dan diameter batang lebih dari 5 cm (FAO, t.t.). Buah apel berbentuk pome, bulat, atau lonjong. Buah apel dapat dikonsumsi secara langsung atau diolah menjadi makanan lain seperti selai, jeli, dan jus. Buah apel memiliki ukuran beragam, mulai dari diameter 2–4 cm. Buah apel mengandung pektin (serat) dan dapat bermanfaat untuk tubuh manusia. Buah apel memiliki sifat astringen dan pencahar. Daging buahnya dapat digunakan dalam pengobatan radang atau luka (Plant For A Future, t.t.). Pustaka Food and Agriculture Organization (FAO). (t.t.). EcoCrop. Malus Domestica. Diambil dari https://ecocrop.apps.fao.org/ecocrop/srv/en/cropView?id=1407. Diakses pada 2 November 2025.  Kik, C., Korpelainen, H., Vögel, R., Asdal, Å., Eliáš, P., Draper, D. & Magos Brehm, J. (2011). Malus sylvestris. The IUCN Red List of Threatened Species 2011: e.T172170A6841688. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2011-1.RLTS.T172170A6841688.en. Diakses pada 2 November 2025. Plant For A Future. (t.t.). Malus sylvestris Mill. Plant For A Future. Diambil dari https://pfaf.org/user/plant.aspx?LatinName=Malus+sylvestris. Diakses pada 2 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Malus sylvestris (L.) Mill. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/MASY2. Diakses pada 2 November 2025.

Bambu Apus (Gigantochloa apus (Schult. f.) Kurz ex Munro)
Balai Berita
25 Nov 2025

Bambu Apus (Gigantochloa apus (Schult. f.) Kurz ex Munro)

Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta  Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Subkelas : Commelinidae Ordo : Cyperales Famili : Poaceae Barnhat Genus : Gigantochloa Kurz ex Munro Spesies : Gigantochloa apus (Schult. f.) Kurz ex Munro.  (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN  NE – Not Evaluated Deskripsi Bambu apus adalah salah satu jenis bambu yang berasal dari India, Indonesia China, Malaysia, Myanmar, dan Thailand. Bambu apus disebut juga sebagai bambu tali, awi tali, pring tali, pring apus, dan sebagainya. Seperti bambu lainnya, bambu apus dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah yang lembab, namun juga dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.500 m dpl. Bambu apus tumbuh dengan  baik pada tanah lempung atau liat. Ketika tumbuh di tanah yang cenderung kering, batangnya akan tetap mengecil. Dalam satu tahun setelah penanaman, akan ditemukan 10–15 batang rumpun bambu yang baru tumbuh. Bambu dapat hidup bertahun-tahun sebelum berbunga. Biasanya bambu akan berbunga dalam jangka waktu 1–3 tahun sebelum biasanya mati. Bunga bambu apus tumbuh dengan daun pelindung. Bunganya mengelompok pada buku-buku batang, dalam susunan berbentuk seperti bintang, dan ditopang daun pelindung penyangga yang menyerupai sekam. Kepala sari pada bambu apus berjumlah 6, dengan panjang 9–11 mm, berwarna merah. Ujung kepala sari memiliki penghubung yang memanjang dan berambut halus. Tangkai sari bersatu membentuk tabung sepanjang seperempat dari total panjangnya. Buahnya berbentuk seperti padi dengan dinding buah yang melekat erat pada biji. Buah bambu apus berbentuk lanset, beralur di sisi halus, panjang sekitar 12 mm, dan berbulu halus di bagian ujung (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Bambu biasanya diperbanyak dengan memanfaatkan rumpun baru yang tumbuh, sehingga dapat mempercepat perbanyakan. Batang bambu apus biasanya memiliki panjang hingga 20 m, sedangkan bambu lainnya memiliki tinggi beragam antara 8–30 m, diameter 4–13 cm, dan berdinding tebal hingga 15 mm dengan panjang ruas 20–60 cm (Plant For A Future, t.t.). Bambu apus dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan alat musik seperti angklung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Masiswo et al. (2015), angklung yang dibuat dari bambu apus menghasilkan kualitas nada yang mendekati standar frekuensi nada internasional sebagai peralatan alat musik. Selain itu, bambu apus dapat digunakan sebagai produk sarana bawa karena memiliki sifat yang kokoh dan lentur. Anyaman bambu apus dapat dibuat menjadi tas tangan, tas genggam, dan dompet yang dikombinasikan dengan bahan pewarna alami sebagai perwujudan konsep eco-cardio modular bamboo bag (Anita, 2016). Pustaka Anita, W. (2016). PENGOLAHAN BATANG BAMBU GIGANTOCHLOA APUS MENJADI PRODUK SARANA BAWA DENGAN TAMBAHAN AKSESORIS MODULAR. CALYPTRA, 5(1), 1–13. Masiswo, M., Mandegani, G. B., & Atika, V. (2015). Karakteristik Angklung Berbahan Bambu Apus (Gigantochloa apus). Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah, 32(1), 41–50. Plant For A Future. (t.t.). Gigantochloa_apus - (Schult. & Schult.f.) Kurz ex Munro. Plant For A Future. Diambil dari https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Gigantochloa_apus. Diakses pada 2 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Gigantochloa apus (Schult.f.) Kurz ex Munro. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:403988-1/general-information. Diakses pada 2 November 2025 United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Gigantochloa apus (Schult. f.) Kurz ex Munro. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/GIAP. Diakses pada 2 November 2025.