Publikasi
Berita Balai
Kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Magnoliales Famili : Annonaceae Juss. Genus : Cananga (DC.) Hook.f. & Thomson Spesies : Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Kenanga merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari Australia, Indonesia, Papua Nugini, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan India. Berhabitus pohon, kenanga memiliki sebaran yang sangat luas, populasi yang besar, dan saat ini tidak berpotensi mengalami ancaman kepunahan, sehingga dinilai sebagai spesies dengan status konservasi Berisiko Rendah (Least Concern) oleh IUCN. Kenanga dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 100–2.200 m dpl. Pohon kenanga dapat memiliki tinggi 6–18 m, bahkan dapat mencapai 33 m. Tumbuh dengan kulit batang berwarna abu-abu pucat, ranting muda memiliki bulu halus tetapi akan hilang seiring bertambahnya usia. Ranting tua berwarna gelap dan bergaris-garis. Daun kenanga berbentuk bulat telur–lonjong atau elips–lonjong dengan panjang 10–21 cm dan lebar 4–10 cm. Daunnya meruncing pada bagian ujung dan membulat pada bagian pangkal. Bunga kenanga memiliki mahkota berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi kuning pucat ketika tua dengan bintik ungu kecokelatan pada bagian pangkal dalam. Bunga berbentuk lanset linier dengan panjang 5–7,5 cm dan lebar 5–7 cm. Buah kenanga termasuk monokarp atau buah tunggal dengan bentuk bulat lonjong atau bulat telur terbalik. Buahnya berukuran 1,5–2,3 cm dengan permukaan halus (tidak berbulu). Biji kenanga berwarna cokelat pucat, berbentuk lonjong–elips dan pipih. Bijinya memiliki panjang 9 mm, lebar 6 mm, dan tebal 2,5 mm dengan permukaan yang berkerut atau berlubang-lubang kecil (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Kayu pohon kenanga biasa dimanfaatkan sebagai bahan bakar, pembuatan korek api, dan konstruksi lokal. Kulitnya dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan tali. Bunga kenanga mengandung minyak atsiri dengan aroma harum dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. Minyak yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan, ketegangan, dan ketakutan. Bijinya dapat dimanfaatkan untuk mengobati demam (Orwa et al., 2009 dalam Wulandari & Nurhayani, 2019). Pustaka IUCN SSC Global Tree Specialist Group & Botanic Gardens Conservation International (BGCI). 2019. Cananga odorata. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T61984545A156221485. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2019-3.RLTS.T61984545A156221485.en. Diakses pada 31 Oktober 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:72580-1/general-information. Diakses pada 31 Oktober 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson. In The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/CAOD. Diakses pada 31 Oktober 2025. Wulandari, A. S., & Nurhayani, F. O. (2019). Morfologi dan mutu fisik benih kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook. f. & Thomson forma genuina). Journal of Tropical Silviculture, 10(2), 95–99.
Kepuh (Sterculia foetida L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Malvales Famili : Sterculiaceae Vent. Genus : Sterculia L. Spesies : Sterculia foetida L. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Kepuh adalah salah satu tanaman berhabitus pohon yang berasal dari Bangladesh, India, Sri Lanka, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Indonesia (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Kepuh dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 0–400 m dpl, suhu tahunan 18–32 °C, curah hujan rata-rata 1.100–1.800 mm/tahun, dan mendapatkan sinar matahari penuh. Kepuh dapat tumbuh subur pada tanah dengan solum dalam, lembab, drainase yang baik, dan pH 6–7,5. Kepuh dapat tumbuh tinggi mencapai 40 m. Kepuh memiliki cabang yang tumbuh mendatar dan berkumpul pada ketinggian yang cenderung sama, dan bertingkat-tingkat (Sentana, 2016). Kepuh memiliki daun majemuk yang menjari, bertangkai, dan berkumpul di ujung ranting. Jumlah anak daun 7–9 dengan helaian berbentuk jorong lonjong dan memiliki bagian daun serta pangkal yang meruncing. Bunga kepuh termasuk dalam bunga majemuk dengan tipe perbungaan malai yang terletak dekat ujung ranting. Bunganya berwarna kuning keabu-abuan atau hijau pudar dan berubah menjadi merah atau jingga saat tua. Bunganya memiliki 5 kelopak dan mengeluarkan bau yang tidak sedap untuk memikat serangga agar melakukan penyerbukan. Buah kepuh berkumpul dalam karangan seperti bintang, berbentuk seperti bumbung besar, lonjong gemuk, memiliki kulit yang tebal, dan berwarna merah terang (Socfindo Conservation, t.t.). Daun kepuh dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena mengandung Sterculic acid (53%) yang berpotensi dijadikan sebagai anti-inflamasi, anti-diabetes, dan anti-obesitas (Kavitha et al., 2015). Pustaka de Kok, R. 2024. Sterculia foetida. The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T198991191A203234841. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T198991191A203234841.en. Diakses pada 1 November 2025. Kavitha, M., Vadivu, R., & Radha, R. (2015). A Review on Sterculia foetida Linn. Research Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 7(4), 23–244. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Sterculia foetida L. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:825227-1. Diakses pada 1 November 2025. Sentana, D. N. (2016). Kepuh. Biodiversity Warriors. Diambil dari https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/kepuh-2/. Diakses pada 1 November 2025. Socfindo Conservation. (t.t.). Sterculia foetida L. Diambil dari https://www.socfindoconservation.co.id/plant/592. Diakses pada 1 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Sterculia foetida L. In The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/STFO2. Diakses pada 1 November 2025.
Lempeni (Ardisia elliptica Thunb.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Dilleniidae Ordo : Primulales Famili : Myrsinaceae R. Br. Genus : Ardisia Sw. Spesies : Ardisia elliptica Thunb. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Lempeni merupakan tanaman yang berasal dari Brunei Darussalam, China, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Nepal. Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Lempeni tumbuh sebagai perdu atau pohon kecil yang tumbuh di sepanjang jalan atau semak belukar (de Kok, 2024). Habitat alam lempeni umumnya di hutan basah (hutan hujan tropis), daerah riparian (transisi daratan dan perairan), dan lahan terganggu (lahan yang sering dilalui aktivitas manusia atau alam). Lempeni juga merupakan jenis yang toleran terhadap naungan dan umumnya ditemukan di tempat yang teduh dan lembab. Lempeni biasanya tumbuh setinggi 1–4 cm, namun juga bisa tumbuh mencapai 6 m. Lempeni memiliki banyak cabang. Daunnya tersusun berselang-seling di sepanjang batang dan tumbuh pada tangkai daun sepanjang 5–20 mm. Tangkai daun lempeni berwarna hijau atau kemerahan. Helaian daun lempeni berwarna kemerahan ketika mudah dan berwarna hijau saat tua, berukuran panjang 6–20 cm dan lebar 1,5–7 cm. Daun berbentuk oval atau agak memanjang. Permukaan daun agak kasar tapi tidak berbulu, memiliki tepi yang rata, ujung daun runcing atau agak membulat (Weeds of Australia, t.t.). Bunga lempeni tumbuh pada ketiak daun di cabang kecil. Kuncup bunga lempeni berbentuk bulat dengan diameter 5–9 mm, berwarna hijau dan menjadi merah, ungu tua, atau hitam ketika tua. Bunganya memiliki tangkai sepanjang 1–2 cm yang ditutupi bintik-bintik hitam kecil dan tumbuh bergerombol atau hampir berdekatan. Bunga lempeni berukuran 6–13 mm dan biasanya memiliki 5 kelopak bunga dengan panjang 1–3 mm serta memiliki 5 mahkota bunga. Buah yang dihasilkan berbentuk bulat atau agak bulat dengan diameter 5–9 mm, Buahnya berwarna hijau ketika muda kemudian berangsur-angsur berubah menjadi merah, ungu tua atau hitam ketika masak. Setiap buah mengandung 1 biji bulat berdiameter sekitar 5 mm yang dikelilingi daging buah berwarna putih (Weed of Australia, t.t.). Pohon lempeni dapat dimanfaatkan tunas muda dan daunnya. Tunas mudanya dapat dikonsumsi secara langsung atau dimasak. Sedangkan daunnya digunakan sebagai obat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Agustini et al. (2023), ekstrak daun lempeni mengandung senyawa anti-diabetes dan berpotensi dikembangkan sebagai obat untuk penyakit diabetes melitus tipe 2. Pustaka Agustini, K., Rosidah, I., Ngatinem, N., Ningsih, S., Effendi, J., Amin, M., & Suryohastari, B. (2023). Effect of Ardisia elliptica Thunb. on Diabetes Mellitus Type 2 Rat Models. Dalam 1st International Conference for Health Research–BRIN (ICHR 2022, 719–728. de Kok, R. (2024). Ardisia elliptica. The IUCN Red List of Threatened Species 2024: e.T72045847A118561765. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2024-1.RLTS.T72045847A118561765.en. Diakses pada 7 November 2025. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Ardisia elliptica Thunb. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/GIAP. Diakses pada 7 November 2025. Van den Bergh, M. H. (1993). Ardisia elliptica Thunberg. Dalam J. S. Siemonsma & K. Piluek (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 8: Vegetables. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea Weeds of Australia. (t.t.). Ardisia elliptica. Keyserver.lucidcentral.org. https://keyserver.lucidcentral.org/weeds/data/media/Html/ardisia_elliptica.htm. Diakses pada 7 November 2025.
Maja (Aegle marmelos (L.) Corr. Serr.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Sapindales Famili : Rutaceae Juss. Genus : Aegle Corr. Serr. Spesies : Aegle marmelos (L.) Corr. Serr. (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN NT – Near Threatened Deskripsi Maja merupakan salah satu jenis tumbuhan yang tumbuh terutama di bioma tropis basah. Maja berasal dari Assam, Bangladesh, India, Nepal, Pakistan, dan Himalaya bagian barat (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Maja termasuk tumbuhan yang dapat tumbuh di bawah kondisi yang keras, termasuk perbedaan suhu yang ekstrem. Di daerah Punjab, India, tumbuhan ini dapat bertahan di suhu 49 °C pada musim panas dan suhu -7 °C pada musim dingin. Maja juga dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 0–1.200 m dpl. Di Asia Tenggara, maja dapat berbunga dan berbuah dengan baik di daerah dengan musim kemarau yang jelas. Selain itu, di Asia Tenggara, maja biasanya tidak ditemukan pada tempat dengan ketinggian di atas 500 m dpl. Maja dapat tumbuh pada tanah rawa dan tanah kering serta toleran terhadap kondisi tanah yang basa (Sunarto, 1991). Maja memiliki habitus pohon dan dapat tumbuh tinggi hingga 15 m. Batangnya tebal dan tertutup oleh kulit kayu yang lembut dan mengelupas. Cabang-cabang dan tunas muda pohon maja terkadang memiliki duri yang kaku dan lurus. Daun pohon maja tersusun berseling. Daunnya termasuk dalam golongan daun majemuk yang terdiri atas 3–5 anak daun yang berbentuk oval atau bulat telur. Helaian daunnya memiliki panjang 4–10 cm dan lebar 2–5 cm. Anak daun yang terletak di ujung memiliki tangkai daun yang lebih panjang, sedangkan anak daun yang berada di sampingnya biasanya memiliki tangkai yang lebih pendek atau bahkan tidak bertangkai. Bunga pohon maja memiliki warna putih kehijauan dengan wangi yang harum. Bunganya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan parfum. Buah maja berbentuk bulat telur atau bulat dengan diameter 5–20 cm. Buah maja memiliki kulit yang keras seperti kayu dengan warna kuning pucat ketika matang. Biji buah maja terdapat dalam daging buah yang berwarna jingga pucat. Buahnya memiliki aroma harum dan dapat diolah menjadi selai atau minuman. Buah maja kering dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nafsu makan dan digunakan sebagai obat diare dan disentri. Daging buah maja juga dimanfaatkan untuk mengobati penyakit pernapasan (National Parks Board, 2021). Pustaka National Parks Board. (2021). Aegle marmelos. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/3/2/3292. Diakses pada 9 November 2025. Plummer, J. (2020). Aegle marmelos. The IUCN Red List of Threatened Species 2020: e.T156233789A156238207. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-3.RLTS.T156233789A156238207.en. Diakses pada 9 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Aegle marmelos (L.) Corrêa. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:789924-1. Diakses pada 9 November 2025. Sunarto, A.T. (1991). Aegle marmelos (L.) Correa. Dalam E. W. M. Verheij & R. E. Coronel (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 2: Edible fruits and nuts. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Aegle marmelos (L.) Corr. Serr. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/AEMA3. Diakses pada 9 November 2025.
Merbau (Intsia bijuga (Colebr.) Kuntze)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Lindl. Genus : Intsia Thouars Spesies : Intsia bijuga (Colebr.) Kuntze (USDA, t.t.) Status Konservasi IUCN NT – Near Threatened Deskripsi Merbau merupakan tumbuhan yang habitatnya mencakup berbagai pulau di Pasifik Selatan dan merupakan tumbuhan asli di Australia bagian utara. Merbau juga ditemukan di Asia, termasuk Vietnam, Thailand, Kamboja, Filipina, Malaysia, Indonesia, Myanmar, dan India. Merbau juga ditemukan di pulau-pulau di Samudra Hindia seperti Madagaskar dan Seychelles (Barstow, 2020). Merbau sering ditemukan di hutan pesisir dan di sepanjang sungai pasang surut, namun juga ditemukan di pedalaman hingga ketinggian 600 m (Sosef, 1993). Berhabitus pohon, merbau dapat tumbuh tinggi mencapai 50 m dengan diameter hingga 250 cm. Merbau juga dapat memiliki akar banis setinggi 4 m dengan lebar 2 m. Daun merbau termasuk daun majemuk yang tersusun secara spiral. Setiap daun memiliki tangkai yang terhubung dengan 1–3 pasang anak daun yang tipis. Anak-anak daun tersusun berhadapan, berbentuk bulat telur lebar atau seperti tetesan air dengan panjang 2,5–18 cm dan lebar 1,5–12 cm. Bunga merbau termasuk bunga majemuk dengan panjang tangkai bunga mencapai 17 cm. Bunganya bersifat biseksual, setiap bunga memiliki benang sari dan putik. Mahkota bunga merbau berwarna putih atau merah muda dengan ukuran panjang 10–35 mm dan lebar 6–30 mm. Buah merbau termasuk ke dalam tipe polong yang memiliki satu rongga dan satu baris biji. Buahnya berbentuk lonjong dan sedikit pipih dengan panjang 8,5–28 cm dan lebar 4–7,5 cm, dan berwarna cokelat atau hitam saat matang. Biji merbau memiliki kulit yang keras. Bijinya berbentuk pipih dengan diameter sekitar 2–3,5 cm dan tebal 0,8 cm (National Parks Board, 2022). Merbau memiliki kayu dengan kualitas yang baik. Teksturnya agak keras dengan serat lurus atau berpadu. Kayu teras kering udara berwarna cokelat atau merah–cokelat tua dengan garis-garis agak terang. Kayu merbau bersifat keras, berat, kuat, dan taan terhadap serangga dan jamur, sehingga cocok digunakan untuk pembuatan jembatan, bantalan rel kereta api, pembuatan perahu, tiang rumah, dan funitur (Plant For A Future, t.t.). Selain itu, kayu merbau juga cocok dijadikan dek dan teras kapal karena sifat kayunya yang tahan terhadap perubahan cuaca. Pustaka Barstow, M. (2020). Intsia bijuga. The IUCN Red List of Threatened Species 2020: e.T32310A2813445. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2020-3.RLTS.T32310A2813445.en. Diakses pada 9 November 2025. National Parks Board. (2022). Intsia bijuga (Colebr.) Kuntze. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/9/2971. Diakses pada 9 November 2025. Plant For A Future. (t.t.). Intsia bijuga - (Colebr.) Kuntze. Plant For A Future. Diambil dari https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Intsia+bijuga. Diakses pada 9 November 2025. Sosef, M. S. M. (1993). Intsia bijuga (Colebr.) O. Kuntze. Dalam I. Soerianegara & R. H. M. J. Lemmens (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 5(1):Timber trees; Major commercial timbers. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea. United States Department of Agriculture (USDA), Natural Resources Conservation Service. (t.t.). Intsia bijuga (Colebr.) Kuntze. Dalam The PLANTS Database. Diambil dari https://plants.usda.gov/plant-profile/INBI. Diakses pada 9 November 2025.
Nam-nam (Mesua ferrea L.)
Klasifikasi Kingdom : Plantae Filum : Streptophyta Kelas : Equisetopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Genus : Cynometra Spesies : Cynometra cauliflora L. (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.) Status Konservasi IUCN LC – Least Concern Deskripsi Nam-nam merupakan tanaman yang berasal dari Indonesia (Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Sumatera), Malaysia, dan Myanmar (Royal Botanic Gardens, Kew, t.t.). Biasanya nam-nam tumbuh di hutan dataran rendah hingga ketinggian 900 m dpl dan dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian hingga 1.350 m dpl di hutan primer, hutan sekunder, lereng bukit, punggung bukit, dan daerah dekat sungai (Chua et al., 2023). Nam-nam memiliki beberapa sebutan lain, seperti Namu-namu (Manado), Kopi Anjing (Jawa), Puki (Sunda), Puki Anjing (Malaysia), Amphawa (Thailand), Nang-ai (Bangkok), dan Hima (Pattani). Nam-nam termasuk dalam habitus pohon kecil dengan tinggi 3–15 m dengan kulit batang yang halus. Nam-nam memiliki daun majemuk dengan tiap daun terdiri atas sepasang anak daun. Daunnya berbentuk bulat telur hingga bulat telur memanjang dengan panjang 5,5–16,6 cm dan lebar 1,6–5,6 cm. Permukaan daun halus, licin, dan tidak berbulu. Tangkai utama daun memiliki panjang 2–8 mm. Sedangkan tangkai anak daun sangat pendek. Bunga nam-nam berwarna merah muda keputihan. Bunga nam-nam tumbuh pada batang utama atau cabang yang sudah tua dan membentuk rangkaian bunga. Dalam satu rangkaian bunga, terdapat 4–5 tandan bunga kecil. Tandan bunga ini berkumpul pada bagian batang atau cabang yang menonjol. Buah yang dihasilkan termasuk dalam golongan bunga polong berdaging dengan bentuk seperti ginjal dan hanya berisi satu biji. Buahnya berwarna cokelat kehijauan saat matang, sedangkan bijinya berwarna coklat dengan bentuk pipih (National Parks Board, 2022). Buah nam-nam memiliki rasa yang asam. Buah yang sudah matang dapat langsung dimakan dalam keadaan segar. Buahnya juga dapat diolah menjadi manisan, salad buah, acar, atau digunakan sebagai campuran masakan (Sunarjono, 1991). Pustaka Chua, L. S. L., Hamidi, A., Kusuma, Y. W. C. K, Pereira, J. T., & Phang, A. (2023). Cynometra cauliflora. The IUCN Red List of Threatened Species 2023: e.T158293950A224978243. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2023-1.RLTS.T158293950A224978243.en. Diakses pada 9 November 2025. National Parks Board. (2022). Cynometra cauliflora. National Parks Board. Diambil dari https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/8/2833. Diakses pada 9 November 2025. Royal Botanic Gardens, Kew. (t.t.). Cynometra cauliflora L. Plants of the World Online. Diambil dari https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:489381-1. Diakses pada 9 November 2025. Sunarjono, H. H. (1991). Cynometra cauliflora L. Dalam E. W. M. Verheij, & R. E. Coronel (Eds.), Plant Resources of South-East Asia No 2: Edible fruits and nuts. PROSEA Foundation, Bogor, Indonesia. Database record: prota4u.org/prosea.