Publikasi

Berita Balai

BBWS Cimanuk Cisanggarung Gelar Pelatihan TPM P3TGAI Tahap 02 Tahun 2025
Balai Berita
17 Oct 2025

BBWS Cimanuk Cisanggarung Gelar Pelatihan TPM P3TGAI Tahap 02 Tahun 2025

Cirebon, 7 Oktober 2025 — Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR), menyelenggarakan Pelatihan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) Tahap 02. Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam memperkuat kapasitas tenaga pendamping lapangan agar mampu mendukung terwujudnya pembangunan infrastruktur irigasi yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Melalui pelatihan ini, para TPM dibekali pengetahuan teknis serta pemahaman mengenai pemberdayaan masyarakat, sehingga dapat mendampingi desa dalam mengelola sumber daya air secara mandiri. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan peran aktif para TPM, tidak hanya dalam memastikan infrastruktur irigasi berfungsi optimal, tetapi juga dalam mendorong terwujudnya desa mandiri air. Desa mandiri air menjadi pondasi penting dalam menjaga ketahanan dan swasembada pangan nasional. Dengan adanya kegiatan ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung terus menunjukkan komitmennya untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang pengelolaan sumber daya air, guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Peringatan Hari Pangan Dunia 2025: Bergandengan Tangan untuk Pangan dan Masa Depan yang Lebih Baik
Balai Berita
16 Oct 2025

Peringatan Hari Pangan Dunia 2025: Bergandengan Tangan untuk Pangan dan Masa Depan yang Lebih Baik

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Dunia yang jatuh pada 16 Oktober 2025, Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWSCimanCis), di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR), turut berpartisipasi dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Dengan tema “Bergandengan Tangan untuk Pangan dan Masa Depan yang Lebih Baik”, peringatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para petani dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air sebagai penopang utama sektor pertanian. Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan dan teknologi, tetapi juga pada pengelolaan air yang efektif dan berkelanjutan. Melalui berbagai program pengelolaan sumber daya air, seperti pembangunan jaringan irigasi, pengendalian banjir, dan konservasi daerah aliran sungai, BBWSCimanCis terus mendukung produktivitas pertanian di wilayah kerja Cimanuk–Cisanggarung. Para petani merupakan garda terdepan dalam menjaga ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dengan kerja sama yang erat antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan terwujud masa depan yang lebih baik, di mana setiap warga negara dapat menikmati akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi. Mari bersama kita wujudkan kedaulatan pangan nasional melalui pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat dan generasi mendatang.

Edukasi Sumber Daya Air: Cara Mudah Menghitung Debit Irigasi
Balai Berita
16 Oct 2025

Edukasi Sumber Daya Air: Cara Mudah Menghitung Debit Irigasi

Debit air adalah volume air yang mengalir melalui saluran dalam waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam meter kubik per detik (m³/det). Rumus umumnya adalah:Q = A × vdengan keterangan:a. Q = Debit air (m³/det)b. A = Luas penampang saluran (m²)c. v = Kecepatan aliran air (m/det) Pada kesempatan ini kita manfaatkan menggunakan alat Current Meter TH-400 untuk mengukur kecepatan aliran air. Namun masyarakat juga dapat melakukan pengukuransederhana dengan metode pelampung. Caranya mudah:1. Ukur lebar dan kedalaman saluran;2. Catat waktu tempuh pelampung untuk jarak tertentu;3. Hitung kecepatan (v = jarak/waktu);4. Kalikan luas saluran dengan kecepatan untuk mendapatkan debit. Sebagai contoh, saluran selebar 1 meter dan kedalaman 0,5 meter (A = 0,5 m²) dengan kecepatan 0,4 m/det menghasilkan debit 0,2 m³/det atau 200 liter per detik. Menghitung debit penting untuk memastikan air irigasi cukup bagi tanaman, menjaga efisiensi penggunaan air, dan mendukung ketahanan pangan nasional.Mari bersama BBWS Cimanuk Cisanggarung menjaga dan mengelola air secara bijak

Semangat Gotong Royong P3-TGAI di Ciawigebang: 280 Meter Saluran Irigasi untuk 74 Hektare Lahan Pertanian
Balai Berita
15 Oct 2025

Semangat Gotong Royong P3-TGAI di Ciawigebang: 280 Meter Saluran Irigasi untuk 74 Hektare Lahan Pertanian

Sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) telah menyelesaikan pembangunan saluran irigasi di Desa Ciawigebang, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan. Pekerjaan ini melibatkan masyarakat secara langsung dengan panjang saluran mencapai 280 meter dan manfaat layanan irigasi untuk 74 hektare lahan pertanian produktif. Pembangunan yang dilaksanakan secara padat karya tunai (HOK) ini berhasil menciptakan 681 Hari Orang Kerja (HOK), menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dalam pelaksanaan program berbasis masyarakat. Keterlibatan petani melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini, karena seluruh proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Kunjungan Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung ke lokasi kegiatan menjadi wujud nyata perhatian pemerintah terhadap efektivitas pembangunan jaringan irigasi di tingkat desa. Dalam kunjungan tersebut, beliau menegaskan bahwa infrastruktur irigasi yang kuat dan terpelihara merupakan fondasi utama ketahanan pangan nasional. Melalui kolaborasi antara BBWS, pemerintah daerah, dan masyarakat, diharapkan seluruh sistem pengairan dapat berfungsi optimal untuk mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan. Manfaat dari pembangunan saluran ini dapat dirasakan langsung oleh para petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan tahun 2024, rata-rata produktivitas padi mencapai 5,9 ton per hektare. Dengan peningkatan efisiensi distribusi air yang dihasilkan dari pembangunan P3-TGAI, produktivitas tersebut berpotensi meningkat hingga 10–12 persen per musim tanam, atau sekitar 440–500 kilogram gabah kering giling (GKG) per hektare. Dampak positif ini bukan hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketersediaan pangan di wilayah Kuningan. Pelaksanaan kegiatan ini berpedoman pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Peningkatan Ketersediaan Air Irigasi Nasional, serta Peraturan Menteri PUPR Nomor 13/PRT/M/2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Program P3-TGAI. Kedua regulasi tersebut menegaskan pentingnya tata kelola irigasi yang efisien, transparan, dan berbasis partisipasi masyarakat. Melalui pelaksanaan P3-TGAI di Desa Ciawigebang, BBWS Cimanuk Cisanggarung tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan untuk menghadirkan air kehidupan bagi petani dan mendorong terwujudnya swasembada pangan nasional.

Perlindungan Tebing Sungai Cisanggarung dengan Nature-Based Solution CWC-2K Dukung Ketahanan Pangan di Kuningan
Balai Berita
15 Oct 2025

Perlindungan Tebing Sungai Cisanggarung dengan Nature-Based Solution CWC-2K Dukung Ketahanan Pangan di Kuningan

Upaya pelestarian lingkungan dan penguatan infrastruktur alami terus dilakukan BBWS Cimanuk Cisanggarung melalui penerapan Nature-Based Solution (NBS) tipe CWC-2K pada tebing Sungai Cisanggarung di Desa Andamui, Kabupaten Kuningan. Program ini menjadi langkah strategis dalam menanggulangi erosi tanggul sekaligus menjaga keberlanjutan lahan pertanian masyarakat di sekitar bantaran sungai. Metode CWC-2K (Coir-Wattling Combination 2 Layers Kuningan Model) merupakan inovasi berbasis vegetatif dan material alami seperti sabut kelapa, anyaman bambu, serta vegetasi lokal yang dipadukan secara struktural untuk memperkuat tebing sungai. Pendekatan ini terbukti ramah lingkungan dan memiliki efektivitas tinggi dalam menahan laju erosi, terutama pada wilayah dengan kondisi tanah labil dan debit air fluktuatif seperti di Sungai Cisanggarung bagian hulu. Selain menjaga stabilitas tebing sungai, penerapan NBS CWC-2K memiliki manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Desa Andamui. Dengan tebing sungai yang lebih stabil, lahan pertanian seluas ±45 hektar yang sebelumnya terancam longsor kini kembali produktif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan, produktivitas padi sawah di wilayah tersebut mencapai rata-rata 5,6 ton per hektar pada tahun 2024. Dengan perlindungan tanggul yang lebih baik, potensi peningkatan hasil panen diproyeksikan naik hingga 10–15%, atau setara dengan tambahan ±25 ton gabah setiap musim tanam. Langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai serta Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2021 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air (Jakstranas SDA), yang menekankan pentingnya penerapan solusi berbasis alam dalam pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Penerapan NBS juga mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-13 tentang aksi terhadap perubahan iklim dan poin ke-15 tentang ekosistem daratan. Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat, BBWS Cimanuk Cisanggarung menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Perlindungan tebing sungai berbasis alam bukan hanya solusi teknis, tetapi juga bagian dari gerakan bersama untuk melestarikan lingkungan, menjaga air tetap mengalir, dan memastikan keberlanjutan pangan bagi generasi mendatang.

Pembangunan Saluran Gs.15.Ki di Desa Tegal Karang, Cirebon: Optimalisasi Irigasi Rentang untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Balai Berita
15 Oct 2025

Pembangunan Saluran Gs.15.Ki di Desa Tegal Karang, Cirebon: Optimalisasi Irigasi Rentang untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Sebagai bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 02 Tahun 2025 tentang Percepatan Peningkatan Ketersediaan Air Irigasi Nasional, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung terus melaksanakan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi di berbagai wilayah kerja. Salah satu kegiatan penting berada di Daerah Irigasi (D.I.) Rentang, tepatnya di Desa Tegal Karang, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Melalui pembangunan Saluran Gs.15.Ki, BBWS Cimanuk Cisanggarung berupaya memperkuat sistem irigasi yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan di wilayah Pantura Jawa Barat. Pembangunan saluran dengan panjang 98,8 meter ini dirancang untuk mengairi area pertanian seluas 16 hektare yang dikelola oleh Kelompok Tani Mitra Cai Tegal Karang. Secara teknis, saluran Gs.15.Ki berfungsi untuk menyalurkan air secara efisien dari jaringan utama di D.I. Rentang menuju lahan pertanian yang berada di wilayah hilir. Bahkan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh petani di Desa Tegal Karang, tetapi juga mampu mengalirkan air hingga ke Desa Sende, Kecamatan Arjawinangun. Peningkatan jangkauan aliran ini menunjukkan efektivitas desain jaringan yang mampu memperluas cakupan layanan irigasi. D.I. Rentang sendiri merupakan salah satu daerah irigasi terbesar di Indonesia dengan luas layanan mencapai 87.198 hektare, mencakup wilayah Indramayu, Majalengka, dan Cirebon (Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PUPR, 2024). Pembangunan saluran sekunder dan tersier seperti Gs.15.Ki berperan penting dalam menjaga keseimbangan distribusi air di seluruh jaringan. Berdasarkan data Ditjen SDA, perbaikan jaringan irigasi sekunder dapat meningkatkan efisiensi penyaluran air sebesar 20–30 persen, yang berimplikasi langsung terhadap kenaikan produktivitas hasil pertanian hingga 10–15 persen per musim tanam. Dengan rata-rata produktivitas padi di Kabupaten Cirebon mencapai 6,3 ton per hektare (BPS Kabupaten Cirebon, 2023), potensi tambahan hasil panen dari area seluas 16 hektare dapat mencapai 10–15 ton gabah kering giling (GKG) setiap musim. Selain manfaat langsung terhadap peningkatan produksi pangan, pembangunan saluran Gs.15.Ki juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani dan keberlanjutan sistem pertanian lokal. Dengan aliran air yang stabil, para petani dapat meningkatkan intensitas tanam dari dua kali menjadi tiga kali per tahun, sehingga pendapatan rata-rata petani diproyeksikan meningkat 25–35 persen per tahun (Kementerian Pertanian, 2024). Keberhasilan program ini menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat tani dalam mewujudkan kemandirian pangan di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung. Dari sisi regulasi, kegiatan ini berlandaskan pada Instruksi Presiden Nomor 02 Tahun 2025 yang mengarahkan percepatan peningkatan infrastruktur irigasi nasional, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, serta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Permen PUPR) Nomor 14 Tahun 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Daerah Irigasi. Seluruh peraturan tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan air yang efisien, adil, dan berkelanjutan sebagai fondasi utama bagi ketahanan pangan nasional. Dengan selesainya pembangunan Saluran Gs.15.Ki, BBWS Cimanuk Cisanggarung kembali menegaskan komitmennya dalam memastikan air tidak hanya mengalir, tetapi juga menghidupkan—dari Tegal Karang hingga Sende, Arjawinangun. Air yang dikelola dengan baik membawa kesejahteraan bagi petani dan harapan bagi negeri