BWS Sumatera I Identifikasi Pendangkalan Sungai Krueng Meureudu Melalui Pengukuran Tampang Sungai

Berita Balai

Unit Hidrologi dan Kualitas Air BWS Sumatera I bersama Balai Teknik Sungai dan Relawan Kementerian PU melakukan pengukuran tampang Sungai Krueng Meureudu
Unit Hidrologi dan Kualitas Air BWS Sumatera I bersama Balai Teknik Sungai dan Relawan Kementerian PU melakukan pengukuran tampang Sungai Krueng Meureudu

Pidie Jaya, 20/1 — Upaya penanganan dampak bencana hidrometeorologi di wilayah Kabupaten Pidie Jaya terus dilakukan secara terukur oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui kegiatan teknis di lapangan. Salah satu langkah yang dilaksanakan adalah pengukuran tampang Sungai Krueng Meureudu untuk mengidentifikasi tingkat pendangkalan pascabanjir. Kegiatan ini bertujuan memperoleh data aktual kondisi sungai sebagai dasar penanganan lanjutan. Pengukuran dilakukan secara menyeluruh dari muara hingga Bendung Seunong (± 8 Km). Langkah ini menjadi bagian penting dalam evaluasi morfologi sungai.

Pengukuran tampang Sungai Krueng Meureudu dilaksanakan selama lima hari, mulai 10 hingga 14 Januari 2026. Rentang waktu tersebut dipilih untuk memastikan data yang diperoleh mencerminkan kondisi sungai setelah kejadian banjir besar. Perubahan alur dan dasar sungai akibat sedimentasi intens menjadi perhatian utama dalam kegiatan ini. Pendangkalan yang terjadi berpotensi meningkatkan risiko banjir pada musim hujan berikutnya. Oleh karena itu, pengukuran dilakukan secara detail dan berulang di sejumlah titik strategis.

Kegiatan lapangan melibatkan tim teknis yang didukung Unit Hidrologi dan Kualitas Air. Tim berperan aktif dalam pengambilan data hidrometri, pengamatan kondisi aliran, serta pencatatan parameter pendukung kualitas lingkungan perairan. Setiap titik pengukuran dilakukan secara sistematis untuk mendapatkan profil melintang dan memanjang sungai yang representatif. Pendekatan ini diharapkan mampu menggambarkan kontur dasar sungai secara akurat. Seluruh data dikumpulkan sesuai standar teknis yang berlaku.

Hasil pengukuran tampang sungai ini akan digunakan sebagai bahan analisis teknis dalam penyusunan rekomendasi penanganan Sungai Krueng Meureudu. Rekomendasi tersebut mencakup rencana normalisasi sungai, pengendalian sedimentasi, serta upaya mitigasi risiko banjir. Data lapangan menjadi dasar penting dalam menentukan jenis dan skala penanganan yang tepat. Dengan dukungan data akurat, perencanaan dapat dilakukan secara lebih efektif. Hal ini diharapkan mampu mengurangi potensi dampak bencana di masa mendatang.

Selain mendukung penanganan pascabencana, data hasil pengukuran juga menjadi bagian dari perencanaan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Pendekatan berbasis kondisi aktual lapangan diharapkan dapat meningkatkan ketepatan kebijakan teknis. Sungai sebagai infrastruktur alam perlu dikelola secara adaptif terhadap perubahan lingkungan. Melalui kegiatan ini, penanggulangan dampak bencana hidrometeorologi dapat dilakukan secara lebih terarah. Pemerintah berkomitmen menjaga fungsi sungai demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Berita

berita/0a4dd830-ae78-4cba-97a6-337ae3feb28c/1768896158.jpg

BWS Sumatera I Identifikasi Pendangkalan Sungai Krueng Meureudu Melalui Pengukuran Tampang Sungai

berita/62a2a9af-fad4-4714-bb66-c80c625977c3/1768984057.png

Generasi Muda Kementerian PU Hadir di Lokasi Bencana, Menyemai Harapan dari Reruntuhan

berita/db27cb85-0155-4dc8-84a0-5bed446dd866/1768983436.png

Menteri PU Tinjau TPA dan IPLT Rantau, Percepat Pemulihan Sanitasi Pascabencana Aceh Tamiang

berita/1a4f477d-fd9c-49f4-bb86-4971162b3178/1768879323.jpg

Penanganan Terpadu Bencana Hidrometeorologi di Aceh Terus Dipercepat

berita/9eba5723-199d-4728-b776-4aeeeb58061c/1768807344.jpg

BWS Sumatera I Bersihkan Bendung Krueng Aceh di Seulimeum untuk Kurangi Risiko Banjir dan Jaga Irigasi

berita/e345f16f-a194-41a1-b5d8-466d17ef4abf/1768793104.png

Kementerian PU Dorong Pemulihan Lingkungan Pascabanjir melalui Rehabilitasi TPA dan IPLT di Aceh Tamiang