Pohon Produksi Ramah Lereng Jadi Solusi Kebutuhan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan
Berita Balai •
Banda Aceh, 6/1 — Kebutuhan ekonomi masyarakat untuk mengoptimalkan lahan produktif terus meningkat, terutama di wilayah perbukitan dan lereng. Jika tidak direncanakan dengan baik, pemanfaatan lahan ini dapat berdampak pada kerusakan struktur tanah dan memicu risiko longsor serta banjir. Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai pihak kini mengembangkan strategi budidaya pohon produksi yang dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus menjaga kestabilan lereng. Pendekatan ini menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik.
Beberapa jenis pohon produksi telah terbukti kompatibel dengan kondisi lahan miring karena memiliki sistem perakaran kuat yang membantu menahan erosi. Di antaranya, alpukat menjadi komoditas penting dengan produksi buah mencapai ribuan ton per tahun di beberapa daerah di Indonesia, sementara durian juga tercatat sebagai salah satu buah unggulan dengan produksi puluhan ribu ton pada wilayah tertentu. Data dari Kabupaten Dairi menunjukkan produksi alpukat mencapai lebih dari 4 ton dan durian mencapai hampir 13 ton dalam satu musim panen. Selain itu, tanaman seperti jengkol dan petai juga memberikan kontribusi produksi yang signifikan di tingkat lokal. Bahkan tanaman kopi, yang banyak dibudidayakan di berbagai wilayah, menjadi sumber pendapatan penting meskipun datanya tidak tercantum dalam statistik buah tropis.
Para petani yang telah menerapkan model tanam ini menyebut bahwa selain hasil panen yang menjanjikan, keberadaan pohon-pohon dengan perakaran kuat juga membantu menjaga tutupan tanah. Hal tersebut menjadi strategi mitigasi alami terhadap erosi dan penurunan tanah di lereng-lereng terjal. Dengan demikian, upaya menanam pohon produksi bukan semata soal mengejar panen, tetapi juga meminimalkan dampak kerusakan lingkungan yang dapat menimbulkan bencana. Penerapan sistem tanam campuran dan teknik konservasi tanah menjadi bagian tak terpisahkan dari pendekatan ini.
Pendampingan dari dinas pertanian dan lembaga terkait juga menjadi faktor kunci dalam memastikan budidaya berjalan optimal. Masyarakat diberikan pembekalan teknis tentang cara menanam, perawatan, hingga pemasaran hasil panen. Dukungan ini diharapkan dapat membantu petani memaksimalkan pendapatan sekaligus menjaga fungsi ekologis lahan. Dengan pengelolaan yang tepat, harapan akan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan semakin nyata.
Upaya ini merupakan bagian dari komitmen untuk menciptakan ketahanan ekonomi berbasis sumber daya alam yang lestari. Tanaman produktif yang aman bagi lereng dan tanah bukan hanya menjadi solusi lokal, tetapi juga potensi strategi di berbagai daerah lain yang memiliki tantangan serupa. Dengan alam yang terjaga, masyarakat dapat terus mendapatkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan sekaligus memperkuat daya dukung lingkungan terhadap berbagai ancaman alam.
Berita
Pohon Produksi Ramah Lereng Jadi Solusi Kebutuhan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan
Penanganan Tanggul Jebol di Lhoksukon Terus Berjalan, BWS Sumatera I Turun Langsung
Koordinasi Pengendalian Banjir dan Irigasi, Bupati Aceh Besar Kunjungi BWS Sumatera I
Infrastruktur Jalan dan Sungai Lawe Alas Gayo Lues Jadi Fokus Kunjungan Menteri PU
Dirjen Sumber Daya Air Kementerian PU Tinjau Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, BWS Sumatera I Siap Kelola Dengan Optimal
Dirjen SDA Tinjau Bendung Pante Lhong, Respons Banjir Sungai Peusangan di Bireuen