Direktorat Kepatuhan Intern Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) melaksanakan webinar Integrity and Corruption Risk Control in Construction (ICONIC) 2026 pada Rabu (17/06). Forum ini merupakan komitmen Ditjen SDA dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), transparan, serta akuntabel pada seluruh tahapan proyek konstruksi di lingkungan Ditjen SDA.
Karakteristik sektor konstruksi yang kompleks dan berisiko tinggi terhadap penyimpangan, Ditjen SDA menekankan pentingnya instrumen Corruption Risk Assessment (CRA) untuk memitigasi potensi korupsi sejak tahap perencanaan.
Berdasarkan Pedoman Penilaian Risiko Korupsi di Kementerian Pekerjaan Umum, Corruption Risk Assessment (CRA) didefinisikan sebagai sebuah prosedur yang mencakup identifikasi, analisis, evaluasi, serta penentuan respon terhadap risiko secara terstruktur dan kontinu. Tujuan utamanya adalah untuk menekan kemungkinan terjadinya penyimpangan serta mencegah timbulnya kerugian negara. Strategi ini dipandang sebagai instrumen krusial dalam memperkokoh tata kelola sektor konstruksi agar tetap transparan, efisien, efektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Oleh sebab itu, implementasi pendekatan CRA berperan sebagai instrumen penting dalam memetakan, menganalisis, serta mengendalikan risiko korupsi yang mungkin muncul di setiap fase pekerjaan, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan.
Adapun fokus utama dari penyelenggaraan ICONIC 2026 meliputi:
Penguatan pemahaman mengenai aplikasi metodologi CRA dalam lingkup pekerjaan teknis;
Peningkatan kewaspadaan terhadap risiko fraud, gratifikasi, serta konflik kepentingan;
Internalisasi strategi mitigasi untuk mengoptimalkan tata kelola dan pengendalian intern;
Edukasi mengenai prosedur formal dalam penghitungan potensi kerugian negara;
Penanaman integritas dan budaya anti korupsi guna mencapai target organisasi yang bersih dan kredibel.
Dalam arahannya, Arnold A.P. Ritiauw selaku Direktur Jenderal SDA memberikan peringatan keras bahwa korupsi bukan hanya masalah anggaran, melainkan ancaman bagi kualitas infrastruktur dan kepercayaan masyarakat.
“Integritas adalah pilar utama bagi setiap pegawai SDA dalam menjalankan amanah pembangunan nasional”, ujar Arnold.
Kegiatan ini diharapkan akan menjadi investasi jangka panjang yang berharga bagi organisasi karena infrastruktur yang tangguh hanya dapat dihasilkan oleh organisasi yang juga tangguh.
“Kekuatan organisasi tersebut bersumber dari internalisasi budaya integritas yang kokoh, yang harus diimplementasikan secara menyeluruh mulai dari jajaran pimpinan tertinggi hingga ke seluruh tingkatan aparatur di bawahnya” lanjut Arnold.
Acara yang diikuti oleh lebih dari 1.600 peserta ini turut menghadirkan pakar dari berbagai institusi, antara lain Syauqiyatul Afnani Rangkuti (Plt. Dir. Kepatuhan Intern), Elbert Marangkup (Koordinator Inspektorat I), Ranto Haposan (Contract Administration And Risk Manager PT PP), serta Hery Antaris (Pemeriksa Ahli Madya BPK).
- Kompu SDA