Publikasi
Berita Balai
NORMALISASI SITU BAGENDIT: UPAYA BBWS CIMANUK CISANGGARUNG WUJUDKAN KETAHANAN AIR DAN SWASEMBADA PANGAN DI GARUT
Normalisasi Situ Bagendit di Desa Sukamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, merupakan langkah nyata BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam menjaga dan meningkatkan kapasitas tampungan air sekaligus melestarikan fungsi situ sebagai sumber daya air yang berkelanjutan. Dengan luas genangan mencapai 187 hektare dan volume tampungan sekitar 1,2 juta meter kubik, kegiatan ini menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan sumber daya air di wilayah hulu untuk mendukung kebutuhan irigasi dan konservasi lingkungan. Upaya normalisasi meliputi pengerukan sedimen, perbaikan tanggul, serta penataan area sempadan untuk memastikan kualitas dan kapasitas air tetap terjaga. Melalui kegiatan ini, Situ Bagendit kembali berfungsi optimal sebagai tampungan air yang menopang sistem irigasi bagi lahan pertanian di sekitarnya, khususnya seluas 753 hektare sawah produktif. Dengan kondisi situ yang lebih bersih dan kapasitas tampungan meningkat, aliran air ke jaringan irigasi menjadi lebih stabil, terutama saat musim kemarau tiba. Manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Garut (2024), produktivitas padi di wilayah Banyuresmi sebelumnya berada pada kisaran 6,2 ton per hektare. Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin berkat peningkatan fungsi Situ Bagendit, potensi kenaikan produktivitas bisa mencapai 10–12 persen, atau sekitar 6,8 hingga 7 ton per hektare. Artinya, dari luas layanan 753 hektare, peningkatan hasil panen berpotensi menambah sekitar 450–600 ton gabah kering panen setiap musimnya — kontribusi signifikan bagi ketahanan pangan daerah. Kini, Situ Bagendit tampil lebih bersih, indah, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tidak hanya sebagai sumber air pertanian, tetapi juga sebagai ruang publik dan kawasan wisata edukatif berbasis lingkungan. Keberadaannya menjadi simbol sinergi antara pelestarian ekosistem dan peningkatan produktivitas pertanian, memperkuat keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlanjutan alam. Program ini dilaksanakan dalam kerangka Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan. Melalui kebijakan ini, pemerintah menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara terpadu dan berkelanjutan. Normalisasi Situ Bagendit menjadi wujud nyata implementasi kebijakan nasional tersebut — mengalirkan manfaat bagi petani, masyarakat, dan lingkungan Garut.
PEMBANGUNAN SALURAN IRIGASI PASIRPIS: BBWS CIMANUK CISANGGARUNG DUKUNG SWASEMBADA PANGAN DI MAJALENGKA
Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung kesejahteraan petani, BBWS Cimanuk Cisanggarung terus melaksanakan pembangunan infrastruktur irigasi di wilayah pertanian. Melalui Program Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025, BBWS Cimanuk Cisanggarung membangun saluran irigasi di Desa Pasirpis, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka dengan panjang sekitar 1.000 meter dan cakupan layanan area seluas 20 hektare. Pembangunan ini menjadi bagian dari upaya strategis untuk memperkuat sistem irigasi di daerah pertanian potensial Majalengka yang berkontribusi besar terhadap pasokan pangan Jawa Barat. Kehadiran saluran irigasi baru ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi distribusi air serta menjamin ketersediaan air yang stabil sepanjang tahun. Sebelum adanya saluran ini, petani di Desa Pasirpis kerap menghadapi kendala kekeringan di musim kemarau yang menyebabkan berkurangnya hasil panen. Dengan tersedianya jaringan irigasi permanen, aliran air kini dapat menjangkau seluruh petak sawah secara merata, sehingga produktivitas lahan dapat meningkat dan risiko gagal panen berkurang secara signifikan. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka (2024), produktivitas padi di wilayah Kertajati rata-rata mencapai 6,1 ton per hektare per musim tanam. Dengan adanya irigasi yang lebih efisien, potensi peningkatan hasil panen diproyeksikan mencapai 10–15 persen, atau sekitar 6,7 hingga 7 ton per hektare. Jika diterapkan pada total luas layanan 20 hektare, maka tambahan produksi gabah kering panen dapat mencapai 12–18 ton setiap musimnya. Tak hanya itu, sistem irigasi yang handal memungkinkan peningkatan intensitas tanam dari dua kali menjadi tiga kali setahun, yang berarti peningkatan total hasil panen tahunan hingga 50 persen lebih tinggi dibanding kondisi sebelumnya. Para petani Desa Pasirpis pun menyampaikan rasa syukur atas kehadiran saluran irigasi baru ini. Menurut keterangan salah satu anggota P3A setempat, program ini menjadi berkah besar karena air kini lebih lancar dan dapat diatur sesuai kebutuhan tanam. “Dulu kami sering khawatir air tidak cukup untuk tanam kedua, tapi sekarang kami yakin bisa panen tiga kali setahun,” ujar seorang petani dengan penuh semangat. Harapan ini mencerminkan dampak nyata dari infrastruktur irigasi yang dirancang dengan pendekatan teknis dan sosial sekaligus. Pembangunan saluran irigasi Pasirpis merupakan implementasi langsung dari Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan. Kebijakan ini menegaskan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam memperkuat sistem irigasi nasional. Melalui langkah konkret seperti ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung tidak hanya membangun saluran air, tetapi juga mengalirkan harapan baru bagi pertanian Majalengka — menuju kemandirian pangan dan kesejahteraan petani yang berkelanjutan.
SALURAN IRIGASI DAWUAN RAMPUNG: WUJUD KOMITMEN BBWS CIMANUK CISANGGARUNG PERKUAT KETAHANAN PANGAN MAJALENGKA
Sebagai bagian dari implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025, BBWS Cimanuk Cisanggarung melaksanakan pembangunan saluran irigasi di Desa Dawuan, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka. Pembangunan saluran sepanjang 1.628 meter ini bertujuan untuk mengairi lahan pertanian seluas 15 hektare, yang selama ini sangat bergantung pada curah hujan musiman. Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memperkuat infrastruktur irigasi guna menunjang ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di wilayah Majalengka. Sebelum adanya saluran irigasi permanen, para petani di Dawuan kerap menghadapi permasalahan pasokan air yang tidak menentu, terutama pada musim kemarau. Kondisi ini sering berdampak pada penurunan hasil panen bahkan risiko gagal tanam. Dengan terbangunnya jaringan irigasi baru yang terukur dan terkelola, distribusi air kini dapat berlangsung lebih stabil dan efisien, menjangkau seluruh petak sawah yang sebelumnya sulit diairi. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka (2024), produktivitas padi di wilayah Dawuan rata-rata mencapai 6 ton per hektare per musim tanam. Dengan peningkatan efisiensi irigasi yang diperkirakan mencapai 20–25 persen, potensi hasil panen dapat naik menjadi 7–7,5 ton per hektare. Hal ini berarti, pada total area 15 hektare, tambahan produksi bisa mencapai 15–22 ton gabah kering panen per musim. Peningkatan ini bukan hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga menambah pendapatan petani hingga 15 persen setiap musim tanam. Para petani setempat mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan saluran baru ini. Air kini mengalir lebih lancar dan mudah diatur sesuai kebutuhan tanam, membuat mereka lebih optimistis menghadapi musim berikutnya. “Airnya sekarang tidak lagi tersendat. Kami bisa tanam lebih cepat dan hasilnya lebih banyak,” ujar salah satu anggota Kelompok Tani Dawuan dengan penuh semangat. Pembangunan saluran irigasi Dawuan merupakan bagian penting dari pelaksanaan Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan. Kebijakan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam memperkuat sistem irigasi nasional. Melalui proyek ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung tidak hanya membangun saluran air, tetapi juga mengalirkan harapan baru bagi petani Majalengka — bahwa air yang mengalir kini menjadi sumber kehidupan, kemakmuran, dan kemandirian pangan bangsa.
PENDAMPINGAN KEJAKSAAN AGUNG RI PERKUAT TRANSPARANSI PEMBANGUNAN MODERNISASI IRIGASI RENTANG
Air yang dikelola dengan baik adalah kunci ketahanan pangan bangsa. Dalam mewujudkan tata kelola pembangunan infrastruktur yang bersih dan akuntabel, BBWS Cimanuk Cisanggarung mendapatkan pendampingan dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia dalam pelaksanaan Program Modernisasi Irigasi Rentang. Pendampingan ini bertujuan memastikan seluruh proses pembangunan berjalan aman, transparan, dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya para petani di wilayah Indramayu dan sekitarnya. Program Modernisasi Irigasi Rentang merupakan salah satu proyek strategis nasional yang berfokus pada peningkatan efisiensi jaringan irigasi dan optimalisasi distribusi air di Daerah Irigasi Rentang, yang melayani lebih dari 87.000 hektare lahan pertanian. Melalui pendekatan modern berbasis data dan teknologi, sistem irigasi ini dirancang agar pengelolaan air menjadi lebih presisi, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan dalam mendukung produktivitas pertanian. Pendampingan hukum oleh Kejaksaan Agung RI dilakukan dalam bentuk pengawasan preventif dan asistensi administratif untuk memastikan setiap tahap pembangunan mematuhi ketentuan perundangan, termasuk aspek pengadaan, pelaksanaan konstruksi, dan pelaporan keuangan. Langkah ini sejalan dengan prinsip good governance di sektor sumber daya air, sehingga risiko penyimpangan dapat diminimalkan dan kualitas hasil pembangunan terjaga. Kolaborasi antara BBWS Cimanuk Cisanggarung dan Kejaksaan Agung RI mencerminkan sinergi kuat antara pembangunan infrastruktur dan penegakan hukum. Pendampingan ini tidak hanya memastikan proyek berjalan sesuai aturan, tetapi juga menjadi bentuk edukasi bagi pelaksana lapangan agar selalu menjunjung tinggi nilai integritas dan tanggung jawab publik. Melalui semangat “Bersama menjaga integritas, bersama membangun negeri,” BBWS Cimanuk Cisanggarung menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari hasil fisik yang tampak, tetapi juga dari kejujuran, transparansi, dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. Air yang mengalir dari sistem irigasi modern ini bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan simbol komitmen bersama untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkeadilan dan berkelanjutan.
bersana lawan gratifikasi
Bersama Lawan Gratifikasi: Wujudkan Layanan Publik yang Bersih dan Berintegritas Dalam upaya menciptakan pelayanan publik yang bersih dan bebas dari praktik korupsi, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung mengajak seluruh pegawai dan masyarakat untuk bersama melawan gratifikasi. Apa Itu Gratifikasi? Gratifikasi adalah pemberian atau penerimaan suap, hadiah, atau bentuk lain yang dimaksudkan untuk memengaruhi kinerja, keputusan, atau tindakan pejabat publik. Praktik ini sering dianggap hal kecil, namun sesungguhnya berdampak besar terhadap keadilan dan kemajuan bangsa. Dampak Gratifikasi Perbuatan gratifikasi dapat: ???? Menghambat pembangunan nasional, karena keputusan tidak lagi berdasarkan kebutuhan publik. ?? Merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. ?? Meningkatkan kesenjangan sosial antara pihak yang diuntungkan dan dirugikan. ???? Melemahkan demokrasi serta hak asasi manusia. Bentuk Gratifikasi yang Perlu Diwaspadai Beberapa bentuk gratifikasi yang sering terjadi di lingkungan kerja maupun pelayanan publik antara lain: ???? Uang, bingkisan, atau hadiah lainnya. ????? Hiburan seperti makan malam, tiket perjalanan, atau fasilitas tertentu. ???? Janji pekerjaan, proyek, atau bentuk keuntungan pribadi lainnya. Mari Wujudkan Layanan Publik yang Bersih Sebagai bagian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), BBWS Cimanuk–Cisanggarung berkomitmen untuk mewujudkan layanan publik yang bersih, transparan, dan berintegritas.Setiap individu memiliki peran penting untuk menolak segala bentuk gratifikasi dan melaporkan jika menemukan indikasi pelanggaran. “Integritas dimulai dari diri sendiri. Katakan tidak pada gratifikasi untuk Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.” Direktorat Jenderal Sumber Daya AirBalai Besar Wilayah Sungai Cimanuk–Cisanggarung???? https://sda.pu.go.id/balai/bbwscimancis???? IG: @pu_sda_cimancis
PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN MELALUI PEMBANGUNAN SUMUR JIAT SEKARMULYA
Pembangunan empat titik Sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Sekarmulya, Kecamatan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu, merupakan salah satu langkah strategis BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam memperkuat ketersediaan air bagi sektor pertanian. Setiap titik sumur memiliki debit air sekitar 7,5 liter per detik dengan jaringan saluran distribusi sepanjang hampir 1 kilometer, yang secara keseluruhan mampu melayani lebih dari 90 hektare lahan sawah produktif. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu menjawab tantangan klasik yang dihadapi petani, yaitu keterbatasan air irigasi pada musim kemarau yang kerap menurunkan hasil panen. Sebelum adanya pembangunan JIAT, produktivitas padi di wilayah Indramayu, khususnya di Kecamatan Gabuswetan, rata-rata berada pada kisaran 6,7 ton per hektare berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu tahun 2023. Namun, pada musim kemarau, sebagian besar petani mengalami penurunan hasil hingga 20–30 persen akibat pasokan air yang tidak stabil. Kondisi ini menyebabkan menurunnya pendapatan petani sekaligus menekan kontribusi daerah terhadap produksi beras nasional, padahal Indramayu merupakan salah satu lumbung padi terbesar di Jawa Barat dengan luas lahan sawah mencapai lebih dari 115 ribu hektare. Dengan beroperasinya Sumur JIAT Sekarmulya secara optimal, diproyeksikan akan terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 10 hingga 20 persen, atau setara dengan 7,4 hingga 8 ton per hektare. Jika dikonversi terhadap total area layanan 90 hektare, maka tambahan hasil produksi bisa mencapai 70 ton gabah kering panen setiap musim tanam. Peningkatan ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tetapi juga menjadi kontribusi signifikan bagi capaian program swasembada pangan nasional yang digagas pemerintah pusat. Lebih dari sekadar penyediaan air, pembangunan JIAT juga membawa manfaat sosial-ekonomi yang luas bagi masyarakat. Ketersediaan air yang stabil memungkinkan petani melakukan dua kali masa tanam dalam setahun secara lebih pasti tanpa khawatir kekeringan. Hal ini tentu akan meningkatkan frekuensi panen, memperkuat pendapatan petani, dan membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian dan jasa penunjang. Selain itu, proyek ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah pusat melalui BBWS Cimanuk Cisanggarung, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam membangun sistem irigasi yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim. Secara keseluruhan, JIAT Sekarmulya merupakan bentuk investasi jangka panjang yang tidak hanya memperbaiki infrastruktur pertanian, tetapi juga memperkuat ekosistem pangan berkelanjutan. Dengan optimalnya fungsi empat titik sumur ini, diharapkan kesejahteraan petani meningkat, risiko gagal panen berkurang, dan ketahanan pangan daerah Indramayu semakin kokoh. Air yang mengalir dari bumi Sekarmulya kini bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga simbol harapan baru bagi keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.