Publikasi

Berita Balai

SALURAN BGD.4.KA RAMPUNG: BBWS CIMANUK CISANGGARUNG PERKUAT INFRASTRUKTUR IRIGASI DUKUHJATI UNTUK DUKUNG SWASEMBADA PANGAN
Balai Berita
08 Oct 2025

SALURAN BGD.4.KA RAMPUNG: BBWS CIMANUK CISANGGARUNG PERKUAT INFRASTRUKTUR IRIGASI DUKUHJATI UNTUK DUKUNG SWASEMBADA PANGAN

Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan dan mendukung produktivitas pertanian di Kabupaten Indramayu, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung telah menyelesaikan pembangunan Saluran BGD.4.KA yang berlokasi di Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng. Pekerjaan ini merupakan bagian dari Program Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 02 Tahun 2025 yang berfokus pada peningkatan infrastruktur irigasi di wilayah pertanian guna memperkuat distribusi air dan menjaga ketersediaannya sepanjang musim tanam. Pembangunan saluran tersier ini dilakukan untuk memperbaiki sistem tata air yang sebelumnya kurang optimal akibat sedimentasi dan keterbatasan kapasitas saluran lama. Dengan panjang saluran lebih dari satu kilometer dan konstruksi beton bertulang yang dirancang untuk ketahanan jangka panjang, saluran BGD.4.KA kini mampu menyalurkan air dengan lebih efisien ke seluruh petak sawah yang berada di bawah layanan jaringan irigasi tersebut dengan Panjang saluran 928 meter dan luas layanan 105 hektare. Bagi masyarakat petani, khususnya Kelompok Tani Jaga Wiryan I dan II, kehadiran saluran ini memberikan manfaat langsung berupa meningkatnya kelancaran pasokan air ke lahan pertanian. Kondisi ini diharapkan dapat memperpanjang masa tanam, mengurangi risiko gagal panen akibat kekurangan air, serta meningkatkan hasil produksi pertanian. Pembangunan ini juga menjadi bukti nyata komitmen BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam memberikan solusi konkret terhadap tantangan pertanian di daerah rawan kekeringan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu Tahun 2024, produktivitas padi rata-rata di wilayah ini mencapai 7,3 ton per hektare. Dengan berfungsinya saluran BGD.4.KA secara optimal, diperkirakan produktivitas dapat meningkat sebesar 10–15%, atau setara dengan 8,0–8,4 ton per hektare. Jika cakupan layanan saluran ini mencapai 40 hektare lahan sawah, maka tambahan produksi padi dapat mencapai sekitar 28–44 ton gabah kering panen setiap musim tanam, yang secara signifikan memperkuat ketahanan pangan lokal. Pembangunan ini dilaksanakan berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan. Inpres tersebut mengamanatkan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam pembangunan irigasi yang berkelanjutan. Rampungnya saluran BGD.4.KA menjadi bukti nyata implementasi kebijakan nasional hingga ke tingkat desa, menghadirkan manfaat langsung bagi petani dan memperkuat kemandirian pangan di Indramayu.

NORMALISASI SITU BAGENDIT: MENJAGA KELESTARIAN AIR, MENGUATKAN KETAHANAN PANGAN GARUT
Balai Berita
08 Oct 2025

NORMALISASI SITU BAGENDIT: MENJAGA KELESTARIAN AIR, MENGUATKAN KETAHANAN PANGAN GARUT

Normalisasi Situ Bagendit di Desa Sukamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut menjadi wujud nyata komitmen BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air dan mendukung ketahanan pangan nasional. Sebagai salah satu situ strategis di wilayah hulu Sungai Cimanuk, Situ Bagendit memiliki fungsi vital dalam pengaturan tata air bagi kebutuhan pertanian, perikanan, hingga pariwisata. Melalui kegiatan normalisasi ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung berupaya mengembalikan kapasitas tampungan air agar dapat berfungsi optimal kembali dalam mendukung kegiatan pertanian masyarakat sekitar. Secara teknis, kegiatan normalisasi meliputi pengerukan sedimen yang menumpuk di dasar situ, perbaikan tanggul, serta penataan saluran masuk dan keluar air. Situ Bagendit memiliki luas genangan mencapai 187 hektare dengan volume tampung sekitar 1,2 juta meter kubik. Sebelum dilakukan normalisasi, pendangkalan akibat sedimentasi menyebabkan berkurangnya kapasitas tampung dan terganggunya distribusi air ke saluran irigasi primer dan sekunder di wilayah Banyuresmi. Setelah pekerjaan selesai, debit air yang mengalir ke jaringan irigasi diharapkan meningkat secara signifikan dan lebih merata. Manfaat dari kegiatan ini sangat dirasakan oleh para petani yang mengandalkan pasokan air dari Situ Bagendit. Dengan ketersediaan air yang lebih stabil, lahan pertanian seluas 753 hektare kini dapat terairi secara optimal. Hal ini berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas padi yang sebelumnya rata-rata 6,2 ton per hektare, kini berpotensi naik menjadi 7 ton per hektare. Jika dikonversi, tambahan produksi gabah dapat mencapai sekitar 600 ton per musim tanam, memberikan dorongan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat petani di sekitar situ. Dari sisi lingkungan, normalisasi Situ Bagendit juga berperan penting dalam mengurangi risiko banjir di kawasan hilir serta menjaga keseimbangan ekosistem perairan. Dengan kapasitas tampung yang telah kembali optimal, situ ini mampu menampung limpasan air hujan lebih baik dan mengatur aliran sungai secara alami. Upaya ini sejalan dengan prinsip pengelolaan sumber daya air terpadu (Integrated Water Resources Management/IWRM) yang menekankan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian lingkungan. Kegiatan ini berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air, serta didukung oleh Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai yang menegaskan pentingnya pemeliharaan dan konservasi waduk, situ, dan embung sebagai infrastruktur pengairan nasional. Melalui langkah strategis ini, BBWS Cimanuk Cisanggarung tidak hanya memulihkan fungsi hidrologis Situ Bagendit, tetapi juga memperkuat pondasi menuju kemandirian pangan dan ketahanan air di Kabupaten Garut.

TESTIMONI PETANI DESA MANDAPA: AIR LANCAR, PANEN MELIMPAH!
Balai Berita
08 Oct 2025

TESTIMONI PETANI DESA MANDAPA: AIR LANCAR, PANEN MELIMPAH!

Pembangunan infrastruktur pertanian terus menjadi prioritas pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Melalui Program Instruksi Presiden Nomor 02 Tahun 2025, berbagai wilayah di Indonesia kini merasakan perubahan nyata, termasuk para petani di Desa Mandapa. Program ini memberikan dampak besar bagi pengelolaan air dan sistem irigasi di tingkat desa. Dengan saluran irigasi yang kini lebih lancar dan teratur, para petani Desa Mandapa dapat mengelola lahan pertanian dengan lebih efektif. Air yang mengalir merata membuat proses tanam menjadi lebih mudah, dan hasil panen meningkat secara signifikan. Para petani mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan mereka atas perubahan ini. Kini, sawah yang dulunya sulit diairi, dapat menghasilkan panen yang melimpah. Program Inpres 02 Tahun 2025 benar-benar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Inilah wujud nyata komitmen pemerintah dalam membangun sektor pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Dengan irigasi yang lancar dan panen yang melimpah, petani Desa Mandapa menatap masa depan dengan penuh optimisme.Program Inpres 02 Tahun 2025 — membawa perubahan, menumbuhkan harapan, dan meningkatkan kesejahteraan bangsa.

DENGAN SUMUR JIAT, SAWAH TETAP HIJAU SEPANJANG MUSIM
Balai Berita
06 Oct 2025

DENGAN SUMUR JIAT, SAWAH TETAP HIJAU SEPANJANG MUSIM

Sobat Cimancis, swasembada pangan bukan hanya mimpi, melainkan nyata di tangan para petani kita. Melalui pemanfaatan sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), petani merasakan langsung manfaat air yang tersedia sepanjang musim. Sawah tetap hijau meskipun di musim kemarau, panen menjadi lebih melimpah, dan ketahanan pangan semakin kokoh.Sumur JIAT hadir sebagai solusi inovatif dari BBWS Cimanuk Cisanggarung untuk memastikan ketersediaan air irigasi secara berkelanjutan. Teknologi ini membantu petani mengatasi keterbatasan air permukaan, sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah layanan.Inilah kisah nyata dari para petani yang berjuang dengan keringatnya, ditemani solusi nyata dari BBWS Cimanuk–Cisanggarung. Dari aliran air di sumur JIAT, tumbuh harapan baru untuk mewujudkan kesejahteraan petani dan swasembada pangan nasional.

BBWS CIMANUK CISANGGARUNG TINGKATKAN SALURAN IRIGASI DI RENTANG UNTUK DUKUNG PETANI CIREBON
Balai Berita
06 Oct 2025

BBWS CIMANUK CISANGGARUNG TINGKATKAN SALURAN IRIGASI DI RENTANG UNTUK DUKUNG PETANI CIREBON

Melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 02, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung melaksanakan kegiatan peningkatan dan rehabilitasi jaringan tersier Daerah Irigasi (D.I.) Rentang yang berlokasi di Kabupaten Cirebon.Pekerjaan ini difokuskan pada Saluran Tersier AWS. 2 Ka, dengan tujuan meningkatkan fungsi dan kinerja saluran irigasi sehingga distribusi air ke lahan pertanian dapat berjalan lebih optimal. Dengan tersedianya air yang merata dan terukur, petani dapat mengelola lahan secara lebih produktif dan berkesinambungan.Upaya ini merupakan bagian penting dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan. Dengan infrastruktur irigasi yang lebih baik, diharapkan produktivitas pertanian meningkat, kesejahteraan petani semakin terjamin, serta cita-cita swasembada pangan dapat terus diwujudkan.

BENDUNG CIKEUSIK: WARISAN 135 TAHUN YANG MENJADI SUMBER KEHIDUPAN PETANI
Balai Berita
06 Oct 2025

BENDUNG CIKEUSIK: WARISAN 135 TAHUN YANG MENJADI SUMBER KEHIDUPAN PETANI

Bendung Cikeusik merupakan salah satu infrastruktur irigasi bersejarah di wilayah Cirebon dan Kuningan. Dibangun pada masa kolonial Belanda pada tahun 1890, bendung ini telah berusia lebih dari 135 tahun. Sejak awal beroperasi pada 1884, Bendung Cikeusik menjadi penopang utama pertanian dengan cakupan layanan awal mencapai 6.899 hektare. Meski kini melayani sekitar 6.178 hektare, keberadaannya tetap vital bagi petani di lebih dari 100 desa di dua kabupaten.Sepanjang perjalanannya, Bendung Cikeusik telah beberapa kali menjalani rehabilitasi besar, termasuk pada tahun 1978 dan kemudian pemeliharaan rutin sejak 2012 oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung. Rehabilitasi terbaru dimulai tahun 2020 dengan memperbaiki tubuh bendung, kolam olak, sayap hulu–hilir, tanggul, dan elemen pendukung lainnya. Upaya ini bertujuan agar kapasitas layanan irigasi tetap optimal serta mampu menjawab tantangan kebutuhan pertanian modern.Dengan mengairi sawah seluas ribuan hektare, Bendung Cikeusik menjadi tulang punggung ketahanan pangan lokal sekaligus berkontribusi terhadap swasembada pangan nasional. Bagi petani, bendung ini bukan sekadar bangunan, melainkan sumber kehidupan yang memastikan padi dan tanaman pangan tumbuh subur setiap musim tanam. Dari aliran airnya, lahir harapan untuk hasil panen yang melimpah dan kesejahteraan yang lebih baik.Hari ini, Bendung Cikeusik bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga bukti nyata bahwa infrastruktur yang dibangun ratusan tahun lalu dapat terus berfungsi dengan baik berkat pemeliharaan dan peran aktif masyarakat. Keberadaannya menjadi penghubung antara sejarah panjang pertanian tradisional dengan masa depan pertanian yang berkelanjutan di Cirebon dan Kuningan.