Kunjungan Delegasi World Bank Tinjau Implementasi Program NUFReP di Medan
Delegasi World Bank melakukan kunjungan lapangan ke Kota Medan untuk meninjau progres pelaksanaan National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) pada triwulan IV. Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam memastikan efektivitas program pengendalian banjir perkotaan yang didukung oleh pendanaan internasional.
Rombongan delegasi World Bank didampingi oleh Kepala Subdirektorat Wilayah I Direktorat Sungai dan Pantai, I Putu Eddy Purna Wijaya, Analis Kerja Sama Subdirektorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri Direktorat Sistem dan Strategi Pengelolaan SDA, Dewi Artrishanty, serta Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan, Feriyanto Pawenrusi. Wali Kota Medan, Rico Waas, juga turut hadir dalam sesi diskusi di lapangan.
Kunjungan pertama dilakukan di lokasi pembangunan Kolam Detensi dan Kolam Retensi Selayang, yang menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir Sungai Selayang. Kolam Detensi Selayang dirancang untuk menampung debit puncak banjir, dengan target penurunan sekitar 10% dari Q25 Sungai Selayang. Perhitungan dilakukan berdasarkan kapasitas eksisting sungai sepanjang 4 kilometer, lebar 3 meter, dan kedalaman basah rata-rata 2,3 meter. Dengan rencana peningkatan dimensi sungai menjadi lebar 6 meter dan kedalaman 3,3 meter, penurunan debit puncak diproyeksikan akan lebih signifikan.
Selain berfungsi mereduksi debit banjir, kolam retensi di Selayang juga dibangun dengan konsep Nature-Based Solution (NBS) yang memungkinkan air meresap secara alami sehingga memperkuat ketahanan hidrologis di kawasan tersebut.
Rombongan kemudian melanjutkan peninjauan ke Sungai Kera, yang merupakan drainase primer bagi Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Sungai ini menjadi jalur utama aliran air dari permukiman menuju Selat Malaka. Namun, sedimentasi yang cukup parah menyebabkan air tidak mengalir optimal sehingga memicu genangan di beberapa wilayah seperti Medan Deli, Medan Labuhan, Percut Sei Tuan, dan Labuhan Deli.
Sebagai tindak lanjut, direncanakan penanganan terpadu melalui kegiatan Pengendalian Genangan Drainase Primer Sungai Kera Hilir, yang mencakup normalisasi sepanjang 6,8 km, pembangunan pompa banjir berkapasitas 3 m³/detik, kolam retensi berkapasitas 120.000 m³, serta pembangunan saluran jalur 1 sepanjang 3,1 km, jalur 2 sepanjang 4,4 km, dan jalur 3 sepanjang 3,3 km.
Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Sumatera II Medan menegaskan komitmen untuk terus memperkuat sistem pengendalian banjir di wilayah perkotaan, khususnya di Medan, melalui sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta mitra internasional seperti World Bank. Langkah ini diharapkan mampu memberikan solusi berkelanjutan bagi masyarakat dan meminimalkan risiko banjir pada masa mendatang.