Ditjen SDA Perkuat Penanganan Pascagempa Flores melalui Pemenuhan Air Bersih dan Pemulihan Infrastruktur
Flores, Nusa Tenggara Timur — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) terus memperkuat penanganan pascagempa bermagnitudo 7,7 yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Upaya penanganan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air bersih, serta penanganan dan pemulihan infrastruktur sumber daya air yang terdampak.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Arnold A. P. Ritiauw bersama Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) meninjau langsung kondisi infrastruktur dan kebutuhan masyarakat di Pulau Palue, Kabupaten Sikka. Salah satu yang ditinjau adalah sumur bor berkapasitas 1,8 liter per detik yang selama ini menjadi salah satu sumber layanan air bagi masyarakat Pulau Palue.
Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih, Ditjen SDA juga mengirimkan empat unit tandon air dengan total 4.800 liter. Selain itu, dilakukan peninjauan terhadap kebutuhan perbaikan bangunan pengaman pantai sepanjang 250 meter di kawasan Maluriu.
“Kementerian PU memastikan penanganan infrastruktur terdampak di Pulau Palue dilakukan secara bertahap dengan menempatkan fokus utama pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih,” ujar Arnold.
Sebagai bagian dari tanggap darurat, BBWS NT II terus melakukan pendistribusian air bersih ke sejumlah wilayah terdampak pada 18–20 Agustus 2026. Distribusi tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk warga yang berada di lokasi pengungsian.
Distribusi Bantuan Air Bersih
Kabupaten Nagekeo
- Desa Rendu Butowe: 1.500 liter untuk 200 jiwa pada 18 Agustus 2026.
- Desa Aeramo: 2.000 liter untuk 500 jiwa pada 18 Agustus 2026.
- Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa: 2.200 liter untuk 610 jiwa pada 19 Agustus 2026.
- Desa Danga, Kecamatan Aesesa: 6.600 liter untuk 175 jiwa pada 19 Agustus 2026.
- Desa Lape, Kecamatan Aesesa: 5.000 liter untuk 111 jiwa serta 1 unit tandon air berkapasitas 1.200 liter pada 19 Agustus 2026.
- Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa: 15.000 liter untuk 200 jiwa serta 3 unit tandon air berkapasitas masing-masing 1.200 liter untuk mendukung kebutuhan 1.275 jiwa pada 19 Agustus 2026.
Kabupaten Manggarai
- Kecamatan Reok: 15.000 liter pada 19 Agustus 2026.
- Kecamatan Reok: 5.000 liter untuk posko pengungsian pada 20 Agustus 2026.
- Desa Berangkolong, Kecamatan Reok: 5.000 liter untuk pengungsian mandiri, 5.000 liter untuk Kodim Reok, dan 15.000 liter untuk Polsek Reok pada 20 Agustus 2026.
- Kecamatan Reok: 150 dos air mineral pada 20 Agustus 2026.
Kabupaten Manggarai Timur
- Kecamatan Borong: 4.400 liter pada 19 Agustus 2026.
Kabupaten Sikka
- Kecamatan Palue: 4 unit tandon air dengan kapasitas masing-masing 1.200 liter pada 19 Agustus 2026.
Selain pemenuhan kebutuhan air bersih melalui distribusi, BBWS NT II juga menyiapkan langkah untuk menghadirkan sumber air baru bagi masyarakat terdampak. Salah satunya melalui survei geolistrik untuk memetakan potensi air tanah dan menentukan lokasi yang dapat dikembangkan sebagai sumber air tambahan.
Survei tersebut dipersiapkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bagi sekitar 7.000 warga yang tersebar di delapan desa di Kabupaten Sikka.
Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya tanggap darurat Ditjen SDA dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sekaligus mendukung percepatan pemulihan wilayah yang terdampak gempa.
Melalui penanganan yang dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi, Kementerian PU terus berupaya memastikan layanan air bersih bagi masyarakat tetap tersedia serta mendukung pemulihan infrastruktur SDA di wilayah terdampak.
Sumber :
https://sda.pu.go.id/post/detail/ditjen_sda_upayakan_pemenuhan_air_bersih_bagi_warga_terdampak_gempa_flores