Kota Rentan Banjir, Ini Faktor Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Berita Balai

Ilustrasi: Banjir menggenagi area perkotaan di Banda Aceh (perfe.com)
Ilustrasi: Banjir menggenagi area perkotaan di Banda Aceh (perfe.com)

Aceh, 2#/1 — Banjir masih menjadi persoalan berulang di kawasan perkotaan, terutama saat intensitas hujan tinggi terjadi dalam waktu singkat. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor cuaca, tetapi juga oleh perubahan lingkungan dan tata kota. Dalam beberapa tahun terakhir, curah hujan ekstrem semakin sering terjadi dan melampaui kapasitas infrastruktur pengendali air. Akibatnya, genangan hingga banjir kerap muncul di berbagai titik kota. Situasi ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada aktivitas dan keselamatan masyarakat.

Selain faktor hujan, sistem drainase perkotaan juga menjadi salah satu penyebab utama banjir. Banyak saluran air yang tersumbat oleh sampah dan sedimen sehingga aliran air tidak berjalan optimal. Drainase yang dibangun puluhan tahun lalu juga tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan kawasan terbangun saat ini. Ketika hujan deras turun, air tertahan dan meluap ke jalan serta permukiman. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeliharaan drainase secara rutin dan berkelanjutan.

Permukaan kota yang didominasi beton dan aspal turut memperparah risiko banjir. Area resapan air semakin berkurang akibat masifnya pembangunan gedung, jalan, dan kawasan permukiman. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru langsung mengalir ke saluran drainase. Beban saluran pun meningkat dan mudah meluap saat hujan deras. Kota yang tertutup beton membuat air kehilangan tempat untuk kembali ke alam.

Kondisi sungai di wilayah perkotaan juga mengalami penurunan daya tampung. Sungai banyak yang menyempit dan dangkal akibat sedimentasi serta alih fungsi lahan di bantaran. Kapasitas sungai yang berkurang menyebabkan air meluap ketika debit meningkat. Luapan tersebut kemudian menggenangi kawasan di sekitarnya. Sungai yang sehat membutuhkan ruang, pengelolaan, dan perawatan rutin agar tetap berfungsi optimal.

Tata kota yang belum sepenuhnya ramah air menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian banjir. Permukiman masih berkembang di kawasan rawan banjir dan sempadan sungai. Ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area resapan juga masih terbatas. Kondisi ini membuat kota semakin rentan terhadap genangan dan banjir musiman. Penataan ruang yang berkelanjutan menjadi kunci untuk mengurangi risiko banjir ke depan.

Berita

berita/bfdccac3-e87b-40db-bf98-902afb9f1097/1769141230.jpg

Kota Rentan Banjir, Ini Faktor Penyebab yang Perlu Diwaspadai

berita/1842d9db-b38e-446f-b56a-a265ed26fd52/1769131245.png

BWS Sumatera I Bersama Adhi Karya Pulihkan Fungsi Irigasi Bendung Pante Lhong Pascabencana

berita/a64571ae-a43c-4610-a5c2-ef78f68fea84/1769068254.png

Kementerian PU Terapkan Padat Karya untuk Pulihkan Infrastruktur dan Ekonomi Pascabencana di Sumatera

berita/ed9514d3-7f28-44ec-81d1-80c804d5a2a7/1769067721.png

Warga Merasakan Dampak Nyata Pembangunan Sumur Bor Kementerian Pekerjaan Umum

berita/0a4dd830-ae78-4cba-97a6-337ae3feb28c/1768896158.jpg

BWS Sumatera I Identifikasi Pendangkalan Sungai Krueng Meureudu Melalui Pengukuran Tampang Sungai

berita/62a2a9af-fad4-4714-bb66-c80c625977c3/1768984057.png

Generasi Muda Kementerian PU Hadir di Lokasi Bencana, Menyemai Harapan dari Reruntuhan