Upaya Pengendalian Abrasi Pantai Jeumpa Terus Dilanjutkan Hingga 2027
Berita Balai •
JEUMPA – Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, Asyari, S.T., M.M., M.T., mendampingi Anggota Komisi V DPR RI, H. Ruslan M. Daud (HRD), dalam kunjungan kerja ke pesisir Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Selasa (7/10/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau titik pantai yang selama ini terdampak abrasi cukup parah. Abrasi di kawasan tersebut sudah lama menjadi perhatian pemerintah karena mengancam permukiman warga. Tidak hanya rumah penduduk, tetapi juga infrastruktur publik seperti jalan desa terancam rusak bila tidak segera ditangani. Warga sekitar pun menyambut baik langkah pemerintah dalam menindaklanjuti masalah ini.
Penanganan abrasi Pantai Jeumpa dilakukan secara bertahap dan direncanakan selesai pada tahun 2027. Total panjang konstruksi pengaman pantai mencapai 3.225 meter yang meliputi enam desa di kawasan pesisir. Desa yang masuk dalam program ini antara lain Mon Jambee, Lhaksamana, Batee Timoh, Cot Geurundong, Ujong Blang Mesjid, dan satu desa pesisir lainnya. Proyek ini diharapkan dapat menjadi benteng utama yang melindungi masyarakat pesisir dari ancaman abrasi. Dengan adanya pembangunan ini, rasa aman masyarakat terhadap ancaman gelombang besar akan semakin meningkat.
Kepala BWS Sumatera I, Asyari, menjelaskan progres pengerjaan sejak tahun 2023. Pada tahap awal, pekerjaan dimulai di Desa Mon Jambee sepanjang 365 meter. Tahun berikutnya, penanganan berlanjut dari Mon Jambee hingga Batee Timoh sepanjang 900 meter. Kemudian pada tahun 2025 diteruskan dari Batee Timoh menuju Cot Geurundong dengan panjang 322 meter. Sementara untuk tahun 2026, ditargetkan tambahan pembangunan sepanjang 700 meter.
Bentuk konstruksi yang digunakan mengombinasikan repermen dengan susunan batu besar serta penguat tetrapod seberat 1 ton di bagian depan. Di atas susunan repermen, ditambahkan kubus beton untuk memperkuat ketahanan terhadap gelombang laut. Metode ini dipilih karena dinilai efektif dalam menahan laju abrasi yang semakin agresif setiap tahunnya. Selain itu, konstruksi ini juga dapat bertahan dalam jangka panjang dengan perawatan minimal. Desainnya disusun agar mampu beradaptasi dengan kondisi pesisir Jeumpa yang cukup dinamis.
Seluruh pekerjaan dilaksanakan oleh kontraktor dan konsultan lokal dengan pengawasan langsung dari BWS Sumatera I. Kehadiran tim pengawas di lapangan memastikan setiap tahap konstruksi sesuai standar teknis dan rencana desain. Pemerintah berharap proyek ini tidak hanya sekadar melindungi pantai, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan terlindunginya kawasan pesisir, aktivitas ekonomi nelayan dan masyarakat sekitar dapat terus berjalan. Pada akhirnya, pembangunan ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam melindungi masyarakat dari bencana abrasi. (zr)
Berita
Menteri PU Tinjau Sinkhole di Aceh Tengah, Penanganan Melalui Sumur Bor Dewatering dan Pengalihan Drainase
38 Muara Sungai di Aceh, Sumut, dan Sumbar Dipulihkan untuk Kurangi Risiko Banjir
Syukur Jadi WNI, Air yang Kita Anggap Biasa, Bagi Negara Lain Sangat Berharga
Peran Strategis Irigasi dan Bendungan dalam Mendukung Swasembada Pangan di Tengah Ancaman Perang Global
4 Bendungan Terbesar di Iran: Raksasa Infrastruktur Air Penopang Energi dan Irigasi
Penanganan Tanggul Jebol, BWS Sumatera I Aceh Pasang Bronjong Sepanjang 179 Meter Dipasang di Aceh Tenggara