Berita Balai


Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Pidekso

28 December 2021

Presiden Joko Widodo meresmikan Bendungan Pidekso yang berada di Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, yang ditandai dengan penandatanganan prasasti, Selasa (28/12/2021). Hadir dalam acara peresmian tersebut diantaranya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahli Lahadalia. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Bupati Wonogiri, Joko Sutopo. Bendungan Pidekso merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Pidekso yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri. Bendungan Pidekso nantinya akan memberikan manfaat untuk pemenuhan kebutuhan air untuk irigasi seluas 1.500 Ha, penyediaan air baku sebesar 300 lt/detik dan dapat mereduksi banjir sebesar 322,60 m3/detik, meningkatkan indeks pertanian di kabupaten wonogiri dari 133% ke 240%. Pemenuhan kebutuhan air tersebut dapat dipenuhi dari tampungan Bendungan Pidekso sebesar 25 juta m3 yang berada di area genangan seluas 232 Ha. Selain irigasi, juga sebagai pengendali banjir dan lahan konservasi sekaligus pariwisata sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Jokowi mengatakan pada hari ini dua bendungan telah diresmikan yakni Bendungan Ladongi di Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara dan Bendungan Pidekso di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Nantinya dua bendungan ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. “Dengan mengucap bismillahirahmanirahim Bendungan Pidekso yang berada di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah pada siang hari ini saya nyatakan diresmikan,” ujar Presiden. Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Jarot Widyoko mengatakan, pembangunan Bendungan Pidekso telah diinisiasi sejak tahun 2014, dan berjalan hingga 2018 untuk pembebasan lahan. Dilanjutkan pada tahun 2018-2021 untuk konstruksi. “Untuk konstruksinya ini lebih cepat dari rencana target sesuai kontrak yang harusnya selesai pada 2022 akhir,” katanya. Jarot mengatakan, fungsi utama Bendungan Pidekso untuk mengairi irigasi lahan pertanian seluas 1.500 ha, sehingga diharapkan akan meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari sekali dalam setahun, bisa menjadi tiga kali setahun dengan pola tanam padi, padi, dan palawija. “Bendungan multifungsi ini juga untuk memenuhi kebutuhan air baku warga Wonogiri dengan kapasitas 300 liter/detik. Ditargetkan untuk pembangunan fasilitas pengolahan air bakunya akan selesai 2023," ujar Jarot. Selanjutnya dikatakan Jarot, bendungan tersebut juga untuk mereduksi debit banjir, sekitar 11%. Menurutnya bendungan yang berada di hulu Sungai Bengawan Solo ini merupakan satu kesatuan pengelolaan sungai yang terhubung ke Waduk Serba Guna Kabupaten Wonogiri atau dikenal dengan sebutan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dibangun dari tahun 1976 sampai dengan tahun 1981 tepat di bagian hilir. “Bendungan ini juga memiliki potensi destinasi pariwisata baru, yang pengembangannya akan dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Wonogiri sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” tutur Jarot. Kepala BBWS Bengawan Solo Agus Rudyanto mengatakan dengan selesainya konstruksi bendungan yang merupakan salah satu Program Strategis Nasional (PSN) ini juga akan mendukung peningkatan irigasi premium yakni irigasi yang sumber airnya dari bendungan. “Selanjutnya jaringan irigasi premiumnya akan dibangun tahun 2022 hingga 2023, dan segera difungsikan pada 2024 sepanjang 36 km,” ujar Agus. Agus menyatakan, pembangunan bendungan yang dilaksanakan kontraktor PT. PP, dengan konsultan supervisi PT. Virama Karya dilaksanakan dengan mengadopsi kearifan lokal dalam desain fasilitas umumnya. “Kita gunakan desain bentuk watu item/watu ireng yang kita aplikasikan di bangunan gedungnya, rumah dinas, dan gardu pandang,” ujarnya. (BBWSBS/Tamara)

Baca Selengkapnya

Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Bendungan Bendo Siap Penuhi Kebutuhan Irigasi Kabupaten Ponorogo

31 July 2021

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) yang diwakili oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melaksanakan pengisian awal (impounding) waduk di Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (31/07/2021). Pekerjaan Bendungan Bendo dilaksanakan mulai tahun 2013 dan direncanakan selesai pada tahun 2021 dengan biaya sebesar 1.072.086.583.000 dengan sumber dana APBN. Saat ini progres fisik pembangunan Bendungan Bendo sebesar 95,77%. Proses impounding dilakukan secara simbolis oleh Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., dan didampingi Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko beserta jajarannya menekan tombol sirene. Acara yang dilaksanakan tetap dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan pembangunan Bendungan Bendo telah melewati perjalanan Panjang untuk mencapai momen ini antara lain sertifikasi persetujuan desain, izin pelaksanaan konstruksi, dan sertifikasi persetujuan pengisian waduk. Proses ini perlu dilalui untuk menjamin keamanan terhadap konstruksi bendungan yang dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya juga membutuhkan pembebasan tanah milik masyarakat dan instansi Pemerintah (Perhutani) sebesar 316,94 Ha “Saat ini progres fisik bendungan yang pembangunannya dilaksanakan mulai tahun 2013 ini telah mencapai 95%. Bendungan Bendo telah memasuki akhir pekerjaan konstruksi sehingga diperlukan pengisian awal waduk sebagai salah satu persyaratan pengoperasian bendungan,” ujarnya. Selain sebagai sumber air baku, Bendungan Bendo dapat diandalkan saat musim kemarau tiba, ketika Bendungan Bendo mengalami kekeringan akibat musim kemarau panjang. “Di musim hujan, Bendungan Bendo difungsikan sebagai waduk tadah hujan dan pengendali banjir. Selain sebagai sumber air baku, Bendungan Bendo juga dapat menjadi salah satu destinasi wisata karena sudah disipakkan ruang terbuka hijau. Saya berharap proyek pembangunan Bendungan Bendo, dapat segera terselesaikan dan bisa segera dinikmati manfaatnya oleh warga, utamanya untuk keperluan irigasi, penyedia air baku, dan pengendali banjir di Kota Ponorogo,” pesan Agus. Perlu saya sampaikan bahwa pengisian Bendungan Bendo dilaksanakan secara bertahap agar dapat memantau perilaku bendungan secara intensif. Selama pelaksanaan yang membutuhkan waktu 91 hari, air tetap dialirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bagian hilir bendungan. “Pengisian awal waduk Bendungan Bendo ini dilaksanakan pada tahun 2021 saat pandemi Covid-19 dan diberlakukannya aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat [PPKM] Darurat. Sehingga, diharapkan para hadirin tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah ditentukan oleh petugas kesehatan demi keselamatan dan kesehatan bersama,” ujar Agus. Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko menyampaikan atas nama Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama masyarakat mengungkapkan terimakasih kepada BBWS Bengawan Solo dengan dibangunnya Bendungan Bendo. “Kami akan pelihara pembangunan infrastuktur bendungan ini, karena manfaat yang dihasilkan akan membawa kemakmuran bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Ponorogo,” pungkasnya. Sebagai informasi, Bendungan Bendo berada di Dusun Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo yang dikerjakan sejak tahun 2013. Bendungan Bendo merupakan salah satu dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan menambah kapasitas tampungan air sehingga keberlanjutan suplai air irigasi ke sawah terjaga. Pekerjaan Bendungan Bendo saat ini telah memasuki akhir pekerjaan konstruksi dengan progress sebesar 95.77 %. Bendungan Bendo dibangun dengan kapasitas total tampungan sebesar 43,11 juta m3 dengan tinggi bendungan 71 m. Kehadiran bendungan ini juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal. Bendungan Bendo direncanakan memiliki manfaat untuk dapat memenuhi kebutuhan irigasi seluas 7.800 Ha, penyediaan air baku sebesar 370 liter/detik, dan mampu mereduksi banjir sebesar 420 m3/detik menjadi 290 m3/detik. (BBWSBS/Tamara)

Baca Selengkapnya

Berita Balai,

Bangunan Penahan Sedimen - Pilar Penting DIbalik Ketahanan Pangan

BBWS/Kompu BBWS Bengawan Solo

31 October 2025

<div>Halo <a href="https://www.instagram.com/explore/tags/koncobengawan/">#KoncoBengawan</a>!<br><br>Tahukah kamu, salah satu kunci kelancaran sistem irigasi pertanian ada pada keberadaan Bangunan Penahan Sedimen? Infrastruktur ini memiliki peran penting dalam menjaga agar aliran sungai tetap lancar dan tidak tertimbun sedimen.<br><br>Bangunan Penahan Sedimen berfungsi untuk menahan dan mengendalikan material sedimen yang terbawa arus sungai. Dengan demikian, endapan tidak masuk ke saluran irigasi atau bendung yang dapat menghambat distribusi air ke lahan pertanian.<br><br>Pengendalian sedimen yang baik membuat pasokan air irigasi lebih terjaga dan merata, sehingga lahan pertanian dapat terairi dengan optimal dan mendukung produktivitas pertanian.<br><br>Melalui pembangunan dan pengelolaan Bangunan Penahan Sedimen, BBWSBS berkomitmen menjaga fungsi sungai dan ketersediaan air irigasi yang berkelanjutan, guna memperkuat ketahanan pangan nasional.</div>

Baca Selengkapnya

Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Sidang Pleno IV TKPSDA Wilayah Sungai Bengawan Solo

03 November 2021

Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo menggelar acara Sidang Pleno IV TKPSDA WS Bengawan Solo di Kantor BBWSBS, di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (03/11/2021). Acara yang dilaksanakan secara teleconference tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Maksud dan tujuan sidang pleno TKPSDA untuk membahas sekaligus sinkronisasi program dan kegiatan bertujuan agar TKPSDA WS melakukan pengecekan program dan kegiatan masing-masing instansi terhadap Pola dan Rencana Sinkronisasi Program dan Kegiatan dibahas di akhir tahun anggaran, untuk memonitor dan evaluasi dokumen Pola dan/atau dokumen Rencana, sesuai tahun berjalan. Salah satu materi dalam sidang pleno kali ini adalah pembahasan review pola pengelolaan sumber daya air. Kepala Bidang (Kabid) Keterpaduan Pembangunan Infrastuktur (KPI) SDA Bengawan Solo, Ali Rahmat, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pola SDA Bengawan Solo telah ditetapkan pada tahun 2010 oleh menteri PUPR. “Prinsip rancangan pola pada tahun 2020-2040 nanti, sekarang ini sudah terjadi perubahan dari Millennium Development Goals (MDGs) ke target Sustainable Development Goals (SDGs), fokus pembangunan nasional, perubahan lahan yang signifikan di WS Bengawan Solo, perubahan RTRW kabupaten/kota, pembangunan infrastruktur pengelolaan SDA baik yang dilakukan pemerintah kabupaten/kota dan wilayah Sungai Bengawan Solo sendiri,” terangnya. Hasil sidang pleno berkaitan dengan pola tersebut antara lain, terkait dengan ketahan air, pada Tahun 2015, tingkat layanan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kabupaten/kota yang masuk dalam WS Bengawan Solo, yang terdiri dari 21 kabupaten/kota, rata-rata baru 45,9% terpenuhi. Pada beberapa daerah, tingkat layanan air PDAM ada yang sudah mencapai lebih dari 70% seperti; Kota Surabaya (98,6%), Kota Madiun (98,1%) dan Kota Solo (80,9%) sedangkan wilayah yang lain masih di bawah 70%. Kemudian pada aspek ketahanan pangan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2021, produksi padi di WS Bengawan Solo pada tahun 2019 sebesar 7.486.754,29 ton dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 7.638.027,91 ton. Sedangkan untuk ketahanan energi, pembangkit energi di WS bengawan Solo, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Gajah Mungkur dengan kapasitas 28,2 Mega Watt, Telogo Ngebel 2,25 Mega Watt. Beberapa PLTA sedang dalam proses pembangunan yang berlokasi di anak-anak Sungai Bengawan Solo diantaranya di Waduk Gongseng sebesar 0,73 Mega Watt, Waduk Gondang 0,5 Mega Watt, Waduk Pidekso 175 Kilo Watt dan Waduk Tukul 0,64 Mega Watt. Merujuk pada isu strategis nasional, kejadian banjir di WS Bengawan Solo pada tahun 2010 hingga 2020 tercatat sebanyak 629 kali dengan jumlah kejadian terbanyak di tahun 2011, yakni 101 kali, dan pada tahun 2020 tercatat sebanyak 49 kali. Untuk kejadian kekeringan pada periode tahun 2010-2020 diperoleh data sebanyak 132 kali. penambahan luas lahan tidak kritis yang pada tahun 2009 seluas 5.182 km2 (35%) menjadi 9.302 km2 (63 %) pada tahun 2020 atau meningkat sebesar 28%. Peningkatan luas juga terjadi pada lahan dengan kriteria sangat kritis dari semula 7,6 km 2 (0.1%) pada tahun 2009 menjadi 515 km 2 (3%). Sedangkan luas lahan yang menurun adalah lahan Agak Kritis (3403 km2/tahun 2020), potensial kritis (1106 km2/tahun 2020) dan kritis (469 km2/tahun 2020). Dari data monitoring kualitas air di beberapa lokasi pengamatan di Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun, menunjukkan bahwa kualitas air di daerah perkotaan seperti Kota Surakarta, Sukoharjo, Gresik, dan Kota Madiun sudah melampaui ambang batas (kualitas air kelas II). Dari hasil pengukuran sampel pada tahun 2020 didapatkan hampir disepanjang ruas Bengawan Solo memiliki kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) yang diatas baku mutu PP No. 82 Tahun 2001. “Kami berharap melalui sidang pleno ini, bahwa pola SDA Bengawan Solo di tahun 2010 memerlukan review dan perlu dilakukan penetapan pola yang lebih baik untuk jangka waktu tahun 2020 hingga 2040. Serta kami berharap adanya dukungan terkait skenario yang dipilih hingga 2040 nanti,” pungkas Ali. (BBWSBS/Ferri)

Baca Selengkapnya