Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
12 March 2021
Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menyambut kunjungan kerja (kunker) Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Perencanaan Teknis Irigasi dan Rawa, Rahmat Suria Lubis, S.T., M.T., di Kantor BBWSBS, di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (12/03/2021). Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dalam kunker tersebut juga dilakukan pembahasan terkait Program Pengembangan Irigasi sesuai Perpres 79 dan 80 Tahun 2019, pembahasan usulan Kegiatan Proyek Strategis Nasional (PSN) Irigasi Premium Daerah Irigasi (D.I.) Pidekso di Wonogiri, kemudian D.I. Bengawan Jero, D.I. Gondang, D.I. Karangnongko, D.I. Pondok di Ngawi, D.I. SIM di Madiun, D.I. Sungkur, serta usulan Kegiatan Irigasi dan Rawa Tahun Anggaran (T.A.) 2022. Sebagai informasi, D.I. Pidekso merupakan daerah layanan dari Bendungan Pidekso yang sebelumnya belum terdapat jaringan irigasi baik sederhana maupun teknis sehingga hanya mengandalkan tadah hujan dengan pola tanam padi-palawija-bero. Rencana pengembangan dan peningkatan D.I. Pidekso adalah membuat saluran hantar kanan dengan luas 645,84 Ha dan saluran hantar kiri dengan luas 820,98 Ha meliputi Kec. Giriwoyo meliputi Desa Tawangharjo, Sendangagung, dan Sirnoboyo, dan Kec. Baturetno meliputi Desa Balepanjang, Gambiranom, Watuagung, Glesungrejo, dan Baturetno. Kebutuhan air dengan pola tanam padi-padi-palawija adalah 1,78 liter/detik/Ha sementara ketersediaan airnya adalah 2,745 M3/detik. “Sesuai arahan dari Pak Menteri, kami berharap tidak ada proyek yang mangkrak, sehingga percepatan untuk proyek pembangunan maupun rehabilitasi dalam hal ini jaringan irigasi di lingkungan BBWSBS ini dapat terselesaikan dan tuntas pada tahun 2023 mendatang,” kata Kasubdit Perencanaan Teknis Irigasi dan Rawa, Rahmat Suria Lubis, S.T., M.T., Kepala Bidang (Kabid) PJPA Bengawan Solo, Heriantono Waluyadi, S.T., M.T., juga menyampaikan bahwa BBWSBS tengah bekerja keras untuk menyelesaikan proyek jaringan irigasi yang sedang berjalan. (BBWSBS/Ferri)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
22 July 2021
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo menyalurkan 150 paket sembako dan daging hewan kurban dalam momen Iduladha 1442 H kepada warga yang terdampak pandemi Covid-19, Kamis (22/7). Pembagian paket sembako dan daging kurban langsung ke warga yang merupakan salah satu bentuk kepedulian BBWS Bengawan Solo untuk membantu warga yang ekonominya terdampak pandemi Covid-19. Target sasaran penerima bantuan paket sembako mulai dari fakir miskin, kaum duafa hingga pekerja tidak tetap yang bertujuan untuk meringankan beban masyarakat di masa pandemi virus corona atau Covid-19. Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., disela kegiatan pembagian paket sembako menyampaikan kepada beberapa warga masyarakat terdampak pandemi Covid-19. “Kami mengantar bantuan paket sembako dan daging hewan kurban langsung ke warga. Jangan sampai bantuan ini, salah sasaran dan semoga dapat meringankan beban masyarakat yang terimpit ekonominya akibat pandemi Covid-19. Paket sembako dan daging hewan kurban ini, kami berikan untuk kaum duafa, warga lansia, penjaga makam, penyapu sampah, buruh gendong di pasar, dan lainnya” kata Agus. Saat membagikan bantuan paket sembako dan daging hewan kurban, Agus juga mengedukasi masyarakat agar mengencangkan protokol kesehatan demi memutus mata rantai penularan Covid-19. Masyarakat diminta memakai masker saat berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, masyarakat diminta rajin mencuci tangan dengan sabun dan air, jaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. “Jangan sampai warga yang menerima paket sembako dan daging hewan kurban ini berkerumun. Sebisa mungkin kita tetap melaksanakan pembagian sesuai dengan protokol kesehatan,” ujarnya. Seorang penerima bantuan paket sembako, Darmadi, mengucapkan terima kasih kepada BBWS Bengawan Solo yang telah memberikan paket sembako dan daging hewan kurban. Darmadi bekerja sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas (Supeltas) dengan penghasilan tak menentu. “Penghasilan saya tidak menentu, Alhamdulilah masih ada banyak orang yang memperhatikan nasib masyarakat kecil yang terdampak pandemi Covid-19,” katanya. (BBWSBS/Tamara)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
03 November 2021
Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai (WS) Bengawan Solo menggelar acara Sidang Pleno IV TKPSDA WS Bengawan Solo di Kantor BBWSBS, di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (03/11/2021). Acara yang dilaksanakan secara teleconference tersebut tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Maksud dan tujuan sidang pleno TKPSDA untuk membahas sekaligus sinkronisasi program dan kegiatan bertujuan agar TKPSDA WS melakukan pengecekan program dan kegiatan masing-masing instansi terhadap Pola dan Rencana Sinkronisasi Program dan Kegiatan dibahas di akhir tahun anggaran, untuk memonitor dan evaluasi dokumen Pola dan/atau dokumen Rencana, sesuai tahun berjalan. Salah satu materi dalam sidang pleno kali ini adalah pembahasan review pola pengelolaan sumber daya air. Kepala Bidang (Kabid) Keterpaduan Pembangunan Infrastuktur (KPI) SDA Bengawan Solo, Ali Rahmat, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pola SDA Bengawan Solo telah ditetapkan pada tahun 2010 oleh menteri PUPR. “Prinsip rancangan pola pada tahun 2020-2040 nanti, sekarang ini sudah terjadi perubahan dari Millennium Development Goals (MDGs) ke target Sustainable Development Goals (SDGs), fokus pembangunan nasional, perubahan lahan yang signifikan di WS Bengawan Solo, perubahan RTRW kabupaten/kota, pembangunan infrastruktur pengelolaan SDA baik yang dilakukan pemerintah kabupaten/kota dan wilayah Sungai Bengawan Solo sendiri,” terangnya. Hasil sidang pleno berkaitan dengan pola tersebut antara lain, terkait dengan ketahan air, pada Tahun 2015, tingkat layanan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kabupaten/kota yang masuk dalam WS Bengawan Solo, yang terdiri dari 21 kabupaten/kota, rata-rata baru 45,9% terpenuhi. Pada beberapa daerah, tingkat layanan air PDAM ada yang sudah mencapai lebih dari 70% seperti; Kota Surabaya (98,6%), Kota Madiun (98,1%) dan Kota Solo (80,9%) sedangkan wilayah yang lain masih di bawah 70%. Kemudian pada aspek ketahanan pangan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2021, produksi padi di WS Bengawan Solo pada tahun 2019 sebesar 7.486.754,29 ton dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 7.638.027,91 ton. Sedangkan untuk ketahanan energi, pembangkit energi di WS bengawan Solo, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Gajah Mungkur dengan kapasitas 28,2 Mega Watt, Telogo Ngebel 2,25 Mega Watt. Beberapa PLTA sedang dalam proses pembangunan yang berlokasi di anak-anak Sungai Bengawan Solo diantaranya di Waduk Gongseng sebesar 0,73 Mega Watt, Waduk Gondang 0,5 Mega Watt, Waduk Pidekso 175 Kilo Watt dan Waduk Tukul 0,64 Mega Watt. Merujuk pada isu strategis nasional, kejadian banjir di WS Bengawan Solo pada tahun 2010 hingga 2020 tercatat sebanyak 629 kali dengan jumlah kejadian terbanyak di tahun 2011, yakni 101 kali, dan pada tahun 2020 tercatat sebanyak 49 kali. Untuk kejadian kekeringan pada periode tahun 2010-2020 diperoleh data sebanyak 132 kali. penambahan luas lahan tidak kritis yang pada tahun 2009 seluas 5.182 km2 (35%) menjadi 9.302 km2 (63 %) pada tahun 2020 atau meningkat sebesar 28%. Peningkatan luas juga terjadi pada lahan dengan kriteria sangat kritis dari semula 7,6 km 2 (0.1%) pada tahun 2009 menjadi 515 km 2 (3%). Sedangkan luas lahan yang menurun adalah lahan Agak Kritis (3403 km2/tahun 2020), potensial kritis (1106 km2/tahun 2020) dan kritis (469 km2/tahun 2020). Dari data monitoring kualitas air di beberapa lokasi pengamatan di Sungai Bengawan Solo dan Kali Madiun, menunjukkan bahwa kualitas air di daerah perkotaan seperti Kota Surakarta, Sukoharjo, Gresik, dan Kota Madiun sudah melampaui ambang batas (kualitas air kelas II). Dari hasil pengukuran sampel pada tahun 2020 didapatkan hampir disepanjang ruas Bengawan Solo memiliki kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) yang diatas baku mutu PP No. 82 Tahun 2001. “Kami berharap melalui sidang pleno ini, bahwa pola SDA Bengawan Solo di tahun 2010 memerlukan review dan perlu dilakukan penetapan pola yang lebih baik untuk jangka waktu tahun 2020 hingga 2040. Serta kami berharap adanya dukungan terkait skenario yang dipilih hingga 2040 nanti,” pungkas Ali. (BBWSBS/Ferri)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
31 July 2021
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) yang diwakili oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melaksanakan pengisian awal (impounding) waduk di Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (31/07/2021). Pekerjaan Bendungan Bendo dilaksanakan mulai tahun 2013 dan direncanakan selesai pada tahun 2021 dengan biaya sebesar 1.072.086.583.000 dengan sumber dana APBN. Saat ini progres fisik pembangunan Bendungan Bendo sebesar 95,77%. Proses impounding dilakukan secara simbolis oleh Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., dan didampingi Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko beserta jajarannya menekan tombol sirene. Acara yang dilaksanakan tetap dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan pembangunan Bendungan Bendo telah melewati perjalanan Panjang untuk mencapai momen ini antara lain sertifikasi persetujuan desain, izin pelaksanaan konstruksi, dan sertifikasi persetujuan pengisian waduk. Proses ini perlu dilalui untuk menjamin keamanan terhadap konstruksi bendungan yang dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya juga membutuhkan pembebasan tanah milik masyarakat dan instansi Pemerintah (Perhutani) sebesar 316,94 Ha “Saat ini progres fisik bendungan yang pembangunannya dilaksanakan mulai tahun 2013 ini telah mencapai 95%. Bendungan Bendo telah memasuki akhir pekerjaan konstruksi sehingga diperlukan pengisian awal waduk sebagai salah satu persyaratan pengoperasian bendungan,” ujarnya. Selain sebagai sumber air baku, Bendungan Bendo dapat diandalkan saat musim kemarau tiba, ketika Bendungan Bendo mengalami kekeringan akibat musim kemarau panjang. “Di musim hujan, Bendungan Bendo difungsikan sebagai waduk tadah hujan dan pengendali banjir. Selain sebagai sumber air baku, Bendungan Bendo juga dapat menjadi salah satu destinasi wisata karena sudah disipakkan ruang terbuka hijau. Saya berharap proyek pembangunan Bendungan Bendo, dapat segera terselesaikan dan bisa segera dinikmati manfaatnya oleh warga, utamanya untuk keperluan irigasi, penyedia air baku, dan pengendali banjir di Kota Ponorogo,” pesan Agus. Perlu saya sampaikan bahwa pengisian Bendungan Bendo dilaksanakan secara bertahap agar dapat memantau perilaku bendungan secara intensif. Selama pelaksanaan yang membutuhkan waktu 91 hari, air tetap dialirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bagian hilir bendungan. “Pengisian awal waduk Bendungan Bendo ini dilaksanakan pada tahun 2021 saat pandemi Covid-19 dan diberlakukannya aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat [PPKM] Darurat. Sehingga, diharapkan para hadirin tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah ditentukan oleh petugas kesehatan demi keselamatan dan kesehatan bersama,” ujar Agus. Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko menyampaikan atas nama Pemerintah Kabupaten Ponorogo bersama masyarakat mengungkapkan terimakasih kepada BBWS Bengawan Solo dengan dibangunnya Bendungan Bendo. “Kami akan pelihara pembangunan infrastuktur bendungan ini, karena manfaat yang dihasilkan akan membawa kemakmuran bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Ponorogo,” pungkasnya. Sebagai informasi, Bendungan Bendo berada di Dusun Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo yang dikerjakan sejak tahun 2013. Bendungan Bendo merupakan salah satu dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan menambah kapasitas tampungan air sehingga keberlanjutan suplai air irigasi ke sawah terjaga. Pekerjaan Bendungan Bendo saat ini telah memasuki akhir pekerjaan konstruksi dengan progress sebesar 95.77 %. Bendungan Bendo dibangun dengan kapasitas total tampungan sebesar 43,11 juta m3 dengan tinggi bendungan 71 m. Kehadiran bendungan ini juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal. Bendungan Bendo direncanakan memiliki manfaat untuk dapat memenuhi kebutuhan irigasi seluas 7.800 Ha, penyediaan air baku sebesar 370 liter/detik, dan mampu mereduksi banjir sebesar 420 m3/detik menjadi 290 m3/detik. (BBWSBS/Tamara)
Baca Selengkapnya