Berita KemenPUPR


Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Bendung Tirtonadi, Ikon Unggulan Bidang SDA di Kota Solo

10 April 2021

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) bersama Wali Kota (Walkot) Solo, Gibran Rakabuming Raka, serta rombongan dari Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengunjungi area Bendung Karet Tirtonadi (Bendung Tirtonadi), di Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (10/04/2021). Kegiatan kunjungan kerja (kunker) tersebut tetap dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Bendung Tirtonadi terletak di area Kali Anyar yang kini menjadi wajah ruang publik baru di Kota Solo. Bendung Tirtonadi sendiri merupakan salah satu pekerjaan dari Proyek Penanganan Banjir Surakarta, yang bertujuan untuk mengurangi resiko genangan banjir di Kecamatan Pasar Kliwon dan Jebres seluas ± 230 ha, meningkatkan kapasitas tanggul sungai dari debit kala ulang 10 tahun (Q10) sebesar 1.550 m3/dt menjadi 50 tahun (Q50) sebesar 2.171 m3/dt. Kepala BBWSBS, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., menjelaskan disela kegiatan, bahwa Bendung Tirtonadi tersebut dibangun menggunakan teknologi gate panel, dengan keunggulan-keunggulan teknologi diantaranya waktu pengoperasian yang relatif singkat, mampu melindungi dari material sungai, hingga tahan terhadap perubahan suhu ekstrim. “Pada saat musim kemarau, pintu bendung akan ditutup, sehingga bisa menjadi long storage berdaya tampung air sekitar 1 juta M3. Dan pada musim hujan akan dibuka dengan kapasitas pengaliran air 1.048 M3/detik, atau lebih besar dari debit awal 390 M3/detik,” jelasnya. Wakil Ketua Komisi V DPR RI, H. Muhamad Arwani Thomafi, juga menyampaikan bahwa kunker kali ini dalam rangka kunjungan masa reses, dengan meninjau kondisi lapangan di beberapa titik di Kota Solo yang sudah berjalan maupun perencanaan beberapa pembangunan infrastruktur, salah satunya Bendung Tirtonadi. “Kami melihat, selain untuk mempercantik kawasan kali anyar, ada fungsi lain dan pemanfaatan sumber daya air (SDA) yang didapatkan dari Bendung Tirtonadi ini, misalnya potensi pariwisata, pemenuhan air baku, serta pengendalian banjir, semoga kedepannya Bendung Tirtonadi juga dilengkapi dengan regulasi seperti Peraturan Daerah (Perda) tentang sampah, agar tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun masyarakat memiliki andil untuk ikut merawat fasilitas umum,” ujarnya. “Saya melihat kota-kota yang lain sudah mulai untuk mempercantik lokasi untuk menunjang pariwisata, sehingga Kota Solo tidak boleh tertinggal dan harus melampaui kota lainnya. Untuk itu, kami yakin dengan dukungan dari berbagai stakeholder terkait, proses akselerasi pembangunan dan pemulihan ekonomi di Kota Solo bisa lebih baik lagi,” terang Walkot Solo, Gibran Rakabuming Raka. (BBWSBS/Ferri)

Baca Selengkapnya

Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Wujudkan Sinergitas Infrastruktur SDA di Wilayah Sukoharjo

10 December 2021

Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) berkoordinasi dengan Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, SE., MM di Kantor Bupati Sukoharjo, Kamis (09/12/2021). Rapat koordinasi (Rakor) ini turut dihadiri oleh Kepala BBWSBS Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech dan pejabat di lingkungan BBWSBS. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Rakor tersebut membahas mengenai pengendalian banjir yang menjadi permasalahan di Kabupaten Sukoharjo. Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech., menyampaikan perlu adanya kerjasama serta kolaborasi dari berbagai pihak terkait dalam menangani masalah pengendalian banjir yang ada di Kabupaten Sukoharjo. “BBWS Bengawan Solo telah melakukan kegiatan Operasi dan Pemeliharaan Sungai secara rutin dan berkala. Untuk pengendalian banjir tahun 2022 akan dilakukan penyusunan Detail Engineering Design [DED] pengendalian banjir di Kabupaten Sukoharjo serta kajian AMDAL dan LARAPnya,” katanya. Selain itu dalam rakor tersebut juga membahas tentang terpilihnya Kabupaten Sukoharjo menjadi pilot project pengembangan lahan padi dengan intensitas tanam IP400. Untuk mendukung penerapan konsep IP400 ini memerlukan sistem irigasi yang memadai guna menunjang produktivitas petani, yang dapat dibantu melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI). Agus berharap BBWS Bengawan Solo mampu berkontribusi dalam peningakatan intensitas tanam IP400 di Kabupaten Sukoharjo. Kunci keberhasilan penerapan konsep IP400 adalah ketersediaan pasokan air. Saya meminta Pemerintah Kabupaten [Pemkab] Sukoharjo dapat berkolaborasi baik dalam pemenuhan kebutuhan air yang diperlukan dan akan dimasukkan dalam Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) di Wilayah Sungai Bengawan Solo. Hal ini dilakukan agar pembagian air dapat dilakukan secara adil dan merata sesuai dengan UU No. 17 Tahun 2019 tentang SDA mengenai prioritas pemanfaat air. Bupati Sukoharjo, Hj. Etik Suryani, SE., MM mengungkapkan terima kasih kepada BBWS Bengawan Solo dengan adanya dukungan dan sinergitas sumber daya air di Kabupaten Sukoharjo. “Melalui sinergitas ini saya harap Kabupaten Sukoharjo mampu melaksanakan penerapan intensitas tanam IP400 di lahan pertanian,” katanya. (BBWSBS/Tamara)

Baca Selengkapnya

Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan

15 February 2021

Presiden Joko Widodo meresmikan Bendungan Tukul Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang ditandai dengan penekanan tombol sirine dan penandatanganan prasasti, Minggu (14/02/2021). Hadir dalam acara peresmian tersebut diantaranya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Pacitan Indartato. Jokowi mengatakan bahwa bendungan ini sekali lagi memiliki peran yang sangat penting untuk pengendalian banjir, untuk mengairi sawah, air irigasi, dan juga penyediaan air baku kurang lebih 300 liter per detik, dan tentu saja ini adalah untuk warga Pacitan dengan kapasitas tampung 8,68 juta meter kubik. Selain itu, sambung Jokowi, Bendungan ini bisa memberikan manfaat yang sangat besar, yaitu mengairi 600 hektare sawah, sehingga dapat meningkatkan indeks pertanaman, dari biasanya satu kali tanam padi dan satu kali tanam palawija menjadi dua kali tanam padi dan satu kali tanam palawija. InsyaAllah ini nanti sudah bisa dilihat dan dilakukan. “Saya harapkan dengan berfungsinya Bendungan Tukul di Pacitan ini akan menjadi infrastruktur yang penting, memperkuat ketahanan pangan, dan memperkuat ketahanan air,” ujarnya. Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam laporannya kepada Presiden menjelaskan bahwa kehadiran Bendungan Tukul tersebut sangat penting artinya bagi peningkatan lebih lanjut sektor pertanian Jawa Timur. Berdasarkan angka sementara dari BPS, produksi padi di Jawa Timur pada 2020 lalu tertinggi dari seluruh provinsi di Indonesia dengan tingkat kontribusi nasional sebesar 18,17 persen dengan 5,76 juta ton beras. “Semoga Bendungan Tukul ini menjadi infrastruktur untuk penguatan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Pacitan, karena bisa menyuplai irigasi 600 hektare, air baku 300 liter per detik, dan potensi energi listrik untuk wisata dan konservasi,” katanya. Untuk diketahui Bendungan Tukul dibangun di lahan seluas 44,81 ha, tepatnya di Desa Karanggede, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, tak hanya sebagai irigasi dan menjadi sumber air baku sebesar 300 liter/detik, Bendungan Tukul dibangun dengan tipe urugan random dan Zonal Inti Tegak, yang memiliki kapasitas tampungan total sebesar 8,68 juta meter kunik dan dapat menjadi penggerak PLTA Mikrohidro sebesar 2 x 132 KW. Selain itu juga dapat mereduksi banjir hingga 44,86 meter kubik/detik(bbwsbs/charis).

Baca Selengkapnya

Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR

Antisipasi Cuaca dan Mitigasi Bencana

10 October 2018

Dalam rangka mensosialisasikan dan memberikan pemahan kepada masyarakat terkait dengan antisipasi musim kemarau yang akan berlangsung hingga bulan November 2018 dan persiapan memasuki musim hujan tahun 2018-2019. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengadakan Diskusi tentang Antisipasi Cuaca dan Mitigasi Bencana di Pintu Masuk Pasar Gede Surakarta, Selasa (09/10/2018). Dalam keiatan tersebut dihadiri oleh Dinas PUSDATARU Prov. Jateng, Kalakhar BPBD Prov. Jateng, Staklim Semarang BMKG Jateng, PPK O&P SDA I BBWS Bengawan Solo Antonius Suryono, A.Md.T, SH, MT, serta masyarakat Kota Solo. Bencana yang paling umum terjadi saat musim pancaroba adalah angin puting beliung. Musim pancaroba biasanya suhu udara berubah menjadi lebih panas dan gerah, disertai datangnya angin kencang, terjadinya awan gelap yang relatif singkat serta hujan deras. Hal tersebut sangat memberikan potensi besar terjadinya angin puting beliung dan banjir. Pengenalan tentang mitigasi kebencanaan menjadi kunci kesiapsiagaan masyarakat untuk antisipasi dan penanganan yang harus dilakukan  apabila terjadi bencana(DATINBBWSBS)

Baca Selengkapnya