Berita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
22 April 2021
Suasana haru menyelimuti keluarga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo sore hari ini yang telah menyelenggarakan Pelepasan Pegawai Purna Tugas di lingkungan wilayah Kantor Madiun, Rabu (21/04/2021). Purna Tugas yang akan mengakhiri pengabdiannya di BBWS Bengawan Solo sejumlah 4 orang yakni Tjoe Prihatin Soeyanto, SE, Karmino dan (Alm) Padi di lingkungan Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) III serta Suyitno Arif Setyawan SE yang telah mengabdi di lingkungan Pendayagunaan Air Tanah (PAT). “Tidak ada sesuatu yang abadi, semua ada batasnya termasuk masa kerja. Saya ucapkan terimakasih atas pengabdiannya kepada BBWS Bengawan Solo sejak hari pertama hingga hari ini. Kini saatnya semua kembali ke rumah dan menghabiskan rezeki hari tua bersama keluarga tercinta” Pesan Kepala BBWS Bengawan Solo dalam arahannya. Arahan tersebut dibalas oleh salah satu perwakilan Purna Tugas yang memberikan pesan dan kesan selama mengabdi di BBWS Bengawan Solo, “Dari semua perjalanan kami berharap semua bisa bermanfaat, kami mohon maaf apabila terdapat kekurangan. Semoga persaudaraan kita semua tak lekang oleh waktu” Ungkapnya dengan penuh rasa bangga. Acara yang bersamaan dengan Buka Puasa Ramadan ini ditutup dengan doa bersama serta pemberian Piagam dan Cinderamata Purna Karya Bakti. Semoga kita semua dapat senantiasa bermanfaat dalam mengelola air untuk negeri, aamiin. (bbwsbs/sita)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
09 November 2021
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melakukan koordinasi dengan Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur (Jatim) Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc di Desa Gluranploso, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur Senin (08/11/2021). Kegiatan yang turut dihadiri oleh Kepala BBWSBS Dr.Ir. Agus Rudyanto, M.Tech dan pejabat di lingkungan BBWSBS tersebut sebelumnya telah menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Kegiatan koordinasi tersebut dalam rangka diskusi terkait Penanganan Banjir Kali Lamong. Kali Lamong termasuk dalam kategori sungai intermitten dengan penampang yang relatif datar. Sungai tersebut juga memiliki 34 anak sungai dengan kapasitas maksimal sungai utama ±250 M3/detik sedangkan debit saat musim penghujan dapat mencapai >700 M3/detik. Kali Lamong yang memiliki luas Daerah Aliran Sungai (DAS) ±720 Km2 tersebut rawan diterjang banjir saat memasuki musim penghujan. Saat ini banjir di lokasi tersebut terjadi karena Kali Lamong meluap akibat intensitas curah hujan yang tinggi selama beberapa hari terakhir. Diberitakan jika luapan Sungai Kali Lamong akibat banjir merendam beberapa desa di Kecamatan Benjeng, Balongpanggang serta Kedamean, Kabupaten Gresik. Oleh karenanya, BBWS Bengawan Solo melakukan koordinasi dengan Wagub Jawa Timur terkait langkah-langkah yang akan dilakukan dalam Penanganan Banjir Kali Lamong. Dalam arahannya, Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc mengungkapkan terima kasih kepada BBWS Bengawan Solo yang telah membantu mencari solusi dalam Penanganan Banjir Kali Lamong. Emil Dardak juga mengungkap langkah-langkah yang akan dilakukan oleh BBWS Bengawan Solo kedepannya. “Terima kasih kepada Kepala Balai BBWSBS yang telah mencari solusi dalam Penanganan Banjir Kali Lamong. BBWS Bengawan Solo telah meletakan pompa yang akan membantu memindahkan air dari perumahan ke badan sungai. Kemudian juga akan ada pintu-pintu air yang dipasang. Mudah-mudahan langkah-langkah tersebut bisa mengatasi banjir karena kami khawatir akan datangnya hujan yang terus menerus,” paparnya. Dr.Ir. Agus Rudyanto, M.Tech menambahkan jika BBWS Bengawan Solo pada prinsipnya setiap tahun sudah menganggarkan untuk Pengendalian Banjir di Kali Lamong. Agus Rudyanto juga menyebut jika langkah BBWS Bengawan Solo merupakan langkah yang paling optimal dan berharap agar tidak terjadi banjir di sekitar Kali Lamong dan semoga semua langkah-langkah yang telah disebutkan dapat dijalankan dengan baik. “Kami telah melakukan langka-langkah Penanganan Banjir Kali Lamong salah satunya dengan mengirimkan pompa banjir di daerah yang terjadi genangan kritis sehingga diharapkan dapat membantu mengurangi banjir,” paparnya. (BBWSBS/Safira)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
07 September 2021
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (07/09/2021). Waduk Bendo merupakan salah satu dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan menambah kapasitas tampungan air sehingga keberlanjutan suplai air irigasi ke sawah terjaga. Hadir dalam acara peresmian tersebut diantaranya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air (SDA) Ir. Jarot Widyoko, Sp-1, Menteri, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko. Acara peresmian dimulai pukul 12.00 WIB. Presiden Jokowi berharap waduk tersebut bisa meningkatkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Ponorogo. “Semoga Bendungan Bendo ini dapat memberikan pertumbuhan ekonomi yang baik. Saya harapkan dengan berfungsinya Bendungan Bendo di Ponorogo ini akan menjadi infrastruktur yang penting, memperkuat ketahanan pangan, dan memperkuat ketahanan air,” ujar Jokowi. Jokowi mengatakan Bendungan Bendo tidak sekadar bisa mengurangi dampak banjir dan untuk kepentingan irigasi serta suplai air baku, melainkan juga memiliki manfaat sebagai sarana wisata sebagai bentuk ekonomi kerakyatan tersendiri. “Bendungan Bendo ini memiliki desain unik memang berpotensi menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan di Kabupaten Ponorogo,” ujarnya. Pada tahun ini, telah dan akan diselesaikan 17 bendungan di tahun 2021. Pertama yaitu Bendungan Tukul di Pacitan Jawa Timur, kedua Bendungan Tapin di Kalimantan Selatan, dan ketiga Bendungan Napun Gete di NTT (Nusa Tenggara Timur), semua diresmikan di Bulan Februari. Keempat Bendungan Sindang Heula, berada di Banten, diresmikan di Bulan Maret. Kelima Bendungan Kuningan di Jawa Barat) yang baru saja diresmikan pada 31 Agustus 2021. Selain itu ada Bendungan Way Sekampung di Lampung yang awal September kemarin juga sudah diresmikan. Sekarang Bendungan Bendo di Kabupaten Ponorogo. “Bendungan Bendo memiliki manfaat untuk dapat memenuhi kebutuhan irigasi seluas 7.800 Ha. Pekerjaan Bendungan Bendo ini dilaksanakan mulai tahun 2013 dan selesai pada tahun 2021 dengan biaya sebesar 1.1 Triliun dengan sumber dana APBN. Semoga Bendungan Bendo ini bisa memberikan manfaat yang sangat besar dengan dapat mengairi sawah sehingga meningkatkan indeks pertanaman,” katanya. Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr. Ir. Agus Rudyanto, M.Tech mengatakan pembangunan Bendungan Bendo telah melewati perjalanan Panjang untuk mencapai momen ini antara lain sertifikasi persetujuan desain, izin pelaksanaan konstruksi, dan sertifikasi persetujuan pengisian waduk. “Selain sebagai sumber air baku, Bendungan Bendo dapat diandalkan saat musim kemarau tiba, ketika Bendungan Bendo mengalami kekeringan akibat musim kemarau Panjang,” ujarnya. Sebagai informasi, Bendungan Bendo berada di Dusun Bendo, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo yang dikerjakan sejak tahun 2013. Bendungan Bendo dibangun dengan kapasitas total tampungan sebesar 43,11 juta m3 dengan tinggi bendungan 71 m. Kehadiran waduk ini juga memiliki potensi air baku, energi, pengendalian banjir, dan pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal. Waduk Bendo ini bisa mengaliri lahan persawahan seluas 7.800 hektare. Selain itu juga sebagai sumber air baku atau air minum dengan debit 7.900 liter per detik. Air di waduk itu juga bisa sebagai pembangkit listrik. (BBWSBS/Tamara Geraldine)
Baca SelengkapnyaBerita Balai, Berita SDA, Berita KemenPUPR
09 April 2021
Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menghadiri acara Rapat Koordinasi (Rakor) terkait Percepatan Pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 di Ruang Rapat R.A. Dandang Watjono, Sekretariat Daerah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat (09/04/2021). Rakor tersebut dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Dalam pertemuan ini, membahas rencana pengelolaan dan pengembangan sumber daya air di Kabupaten Tuban seperti rencana percepatan pembangunan Jabung Ring Dyke, Avour Kuwu, dan Waduk Jadi. Rakor tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Tuban, Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, pejabat dan staf BBWSBS, serta jajaran pejabat kedinasan di lingkungan Provinsi Jawa Timur. Luapan air dari Sungai Bengawan Solo yang terjadi hampir menyebabkan kerugian sosial-ekonomi bagi masyarakat terutaman di bagian hilir. Salah satu solusinya, adalah pembuatan ring dyke (tanggul keliling) di wilayah Kabupaten Tuban dan Lamongan, Jawa Timur. Lokasi proyek Jabung Ring Dyke berada di Kecamatan Widang, Tuban, yakni Desa Mlangi dan Kujung. Dan lokasi yang berbatasan langsung di daerah hilir, yakni Desa Jabung, Kecamatan Laren, Lamongan dengan luas waduk sebesar 1.400 Ha dengan panjang tanggul sekitar 24,4 Km. Sambutan Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana, M.Si., Sekda Tuban, menyampaikan terkait ada 13 kegiatan terkait Percepatan Pelaksanaan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 di Tuban, dan empat diantaranya menjadi kewenangan BBWSBS, namun untuk saat ini akan dilaksanakan pembahasan tiga proyek penanganan banjirnya. “Semoga melalui pertemuan ini dapat diinvetarisasi dan monitoring-evaluasi oleh seluruh stakeholder di Pemkab Tuban, sehingga dapat menjelaskan progres-progres Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk penanganan banjir, kepada masyarakat,” ujarnya. Wakil Bupati Tuban, Ir. Noor Nahar Hussein, M.Si., memohon agar proyek Jabung Ring Dyke dan Avour Kuwu segera dapat dipercepat pelaksanaannya, terutama yang menyangkut masalah hukum, karena dua proyek tersebut saling berkaitan dan masyarakat petani yang paling terdampak. “Selain itu, proyek Waduk Jadi kami harap juga dapat segera terlakasana. Sebab, permasalahan banjir di kawasan sebelah barat Tuban, yang menggenangi area persawahan dan permukiman, menyebabkan kerusakan infrastruktur serta gagal panen pada ratusan hektar lahan pertanian,” harapnya. Kepala SNVT PJSA Bengawan Solo, R. Panji Satrio, S.T., M.M., M.D.M., memaparkan bahwa penyebab banjir di Avour Kuwu disebabkan oleh adanya sedimentasi (sampah) di pintu banjar Avour Kuwu, sedimentasi pada saluran Gendong di sepanjang Jabung Ring Dyke serta kondisinya yang belum dapat digenangi. “Dengan adanya Jabung Ring Dyke, nantinya akan memberikan manfaat sebagai penyediaan air baku sebesar 30,5 juta m3 untuk potensi perikanan tangkap. Untuk jumlah area irigasi yang dapat dialiri dengan air waduk pada saat musim kemarau bisa mencakupi sekitar 5.000 Ha dengan debit sebesar 1 lt/dt/Ha melalui 29 pintu air, sehingga diharapkan hasil panen meningkat dengan ketersediaan air sepanjang tahun,” paparnya. Selain itu, Jabung Ring Dyke juga dapat menampung sementara debit banjir besar (Q50 tahunan) untuk mengurangi resiko dampak banjir terhadap pemukiman, jalan dan bangunan infrastruktur di daerah kabupaten Lamongan, Tuban, dan sekitarnya sebagaimana pernah terjadi banjir pada tahun 2007, 2008, dan 2009. Terkait manfaat sosial-ekonominya, yakni pemenuhan keperluan air minum dan industri kecil yang berbasis pada ekonomi kerakyatan. Serta, berpotensi pariwisata air yang akan menumbuhkan usaha baru masyarakat sekitar. BBWSBS akan senantiasa bekerjasama dengan Pemkab Tuban dalam hal pengelolaan sumber daya air (SDA) agar masyarakat di sekitar Tuban dapat merasa aman dan terpenuhi kebutuhan airnya. (BBWSBS/Ferri)
Baca Selengkapnya