Berita Terkini

Informasi Terkini Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung

Kilas Pengumuman :
Rehabilitasi Daerah Irigasi Way Rarem Capai 28,72 Persen, Tingkatkan Layanan Irigasi bagi Lahan Pertanian
Post
21 Juli 2026 Admin

Rehabilitasi Daerah Irigasi Way Rarem Capai 28,72 Persen, Tingkatkan Layanan Irigasi bagi Lahan Pertanian

Pekerjaan Rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I.) Way Rarem terus berjalan dengan baik sebagai bagian dari upaya peningkatan infrastruktur sumber daya air untuk mendukung sektor pertanian di Provinsi Lampung. Hingga saat ini, progres fisik pekerjaan telah mencapai 28,72%, sesuai dengan tahapan pelaksanaan yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaannya, proyek ini memiliki target rehabilitasi jaringan irigasi sepanjang 40 kilometer. Hingga periode pelaporan saat ini, telah terealisasi 2 kilometer pekerjaan yang meliputi rehabilitasi saluran irigasi beserta pekerjaan struktur pendukungnya. Setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan dengan memperhatikan standar mutu konstruksi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pengawasan teknis yang ketat agar hasil pembangunan memberikan manfaat yang optimal. Dari sisi manfaat, rehabilitasi D.I. Way Rarem direncanakan mampu meningkatkan pelayanan irigasi pada lahan pertanian seluas 3.400 hektare. Sejauh ini, jaringan yang telah selesai dikerjakan telah memberikan pelayanan irigasi pada sekitar 1.000 hektare lahan pertanian, sehingga petani mulai merasakan manfaat berupa distribusi air yang lebih lancar dan efisien. Keberadaan jaringan irigasi yang andal diharapkan dapat mendukung peningkatan intensitas tanam, menjaga ketersediaan air selama musim tanam, mengurangi kehilangan air di sepanjang saluran, serta meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Proyek ini juga menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan serta kerja sama masyarakat sekitar, pekerjaan Rehabilitasi D.I. Way Rarem diharapkan dapat diselesaikan tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan. Setelah seluruh pekerjaan rampung, jaringan irigasi ini akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi 3.400 hektare lahan pertanian, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (Pan)
Baca Selengkapnya
Sabuk Hijau Bendungan: Benteng Alami Penjaga Kelestarian Ekosistem dan Keandalan Infrastruktur
Post
21 Juli 2026 Admin

Sabuk Hijau Bendungan: Benteng Alami Penjaga Kelestarian Ekosistem dan Keandalan Infrastruktur

Bendungan tidak hanya membutuhkan bangunan utama yang kokoh, tetapi juga kawasan penyangga yang mampu menjaga keberlanjutan fungsinya dalam jangka panjang. Salah satu komponen penting tersebut adalah sabuk hijau (green belt), yakni kawasan vegetasi yang berada di sekitar waduk atau sepanjang garis sempadan bendungan. Sabuk hijau berfungsi sebagai zona penyangga antara area genangan waduk dengan lahan pertanian, perkebunan, maupun permukiman masyarakat. Keberadaannya bukan sekadar untuk penghijauan, melainkan merupakan bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air yang berperan menjaga kualitas lingkungan sekaligus melindungi infrastruktur bendungan. Menjaga Bendungan dari Ancaman Sedimentasi dan Erosi Salah satu manfaat utama sabuk hijau adalah mengendalikan erosi dan sedimentasi yang dapat mengurangi kapasitas tampung waduk. Vegetasi yang tumbuh di kawasan sempadan memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mengikat tanah dan memperkuat lereng di sekitar waduk. Dengan demikian, risiko longsoran tebing dapat diminimalkan. Selain itu, vegetasi berfungsi sebagai penyaring alami yang menahan material tanah dan sedimen yang terbawa aliran permukaan sebelum masuk ke dalam waduk. Pengendalian sedimentasi sangat penting karena pendangkalan waduk dapat mengurangi umur layanan bendungan serta menurunkan efektivitasnya dalam menyimpan air. Melindungi Kualitas Air Waduk Sabuk hijau juga berperan menjaga kualitas air yang tersimpan di dalam waduk. Tanaman mampu menyerap unsur hara berlebih seperti nitrogen dan fosfor yang berasal dari aktivitas pertanian di sekitar kawasan bendungan. Proses alami ini membantu mencegah eutrofikasi, yaitu kondisi ketika perairan mengalami ledakan pertumbuhan tanaman air dan gulma seperti eceng gondok. Apabila tidak dikendalikan, pertumbuhan gulma yang berlebihan dapat menurunkan kualitas air, mengganggu ekosistem perairan, bahkan menghambat operasional infrastruktur seperti pintu air dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Menjaga Siklus Hidrologi dan Iklim Mikro Keberadaan sabuk hijau turut mendukung keseimbangan hidrologi di sekitar bendungan. Vegetasi membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah tetap terjaga. Selain itu, pepohonan di sekitar waduk berkontribusi menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan lembap, sehingga dapat membantu menekan laju penguapan air dari permukaan waduk. Fungsi ini menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air bagi masyarakat. Habitat Satwa dan Penjaga Keanekaragaman Hayati Selain manfaat teknis, sabuk hijau juga memiliki nilai ekologis yang tinggi. Kawasan ini menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna lokal serta berfungsi sebagai koridor ekologis bagi satwa liar, termasuk burung-burung migran. Dengan demikian, pembangunan bendungan tetap dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Strategi Pengelolaan Sabuk Hijau Keberhasilan pengembangan sabuk hijau sangat ditentukan oleh pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi kawasan bendungan. Tanaman yang dipilih umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut: Memiliki akar kuat dan dalam untuk mengikat tanah, seperti mahoni, jati, dan bambu. Mampu beradaptasi terhadap fluktuasi muka air waduk. Memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, seperti durian, manggis, dan alpukat, sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan sabuk hijau. Dengan pendekatan ini, fungsi konservasi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Implementasi di Bendungan Lampung Konsep sabuk hijau telah diterapkan di berbagai bendungan di Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan fungsi waduk. Bendungan Batutegi Bendungan Batutegi memiliki kawasan sabuk hijau yang cukup luas di Provinsi Lampung. Penanaman vegetasi di sekitar waduk dilakukan untuk menjaga daerah tangkapan air (catchment area) Sungai Way Sekampung, mengurangi sedimentasi, serta menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan irigasi dan PLTA. Bendungan Way Sekampung Pada Bendungan Way Sekampung, pengembangan sabuk hijau difokuskan pada perlindungan lereng dari erosi sekaligus mendukung pengembangan kawasan yang memiliki potensi wisata edukasi lingkungan tanpa mengganggu fungsi utama bendungan. Menjaga Bendungan, Menjaga Masa Depan Sabuk hijau bukan sekadar deretan pohon di sekitar waduk. Kawasan ini merupakan bagian integral dari sistem pengelolaan bendungan modern yang berfungsi menjaga kualitas air, mengendalikan sedimentasi, melindungi ekosistem, serta memperpanjang umur layanan infrastruktur. Karena itu, pengelolaan sabuk hijau perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pemilihan vegetasi yang tepat, pelibatan masyarakat, serta pengawasan terhadap pemanfaatan kawasan sempadan. Dengan langkah tersebut, bendungan dapat terus memberikan manfaat optimal bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. (Pan)  
Baca Selengkapnya
BBWS Mesuji Sekampung Sebut Jaringan Irigasi Air Tanah Jadi Alternatif Saat El Nino untuk Atasi Kekeringan
Post
21 Juli 2026 Admin

BBWS Mesuji Sekampung Sebut Jaringan Irigasi Air Tanah Jadi Alternatif Saat El Nino untuk Atasi Kekeringan

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung Elroy Koyari menyebutkan bahwa melalui pemanfaatan jaringan irigasi air tanah (JIAT) dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan sumber air saat fenomena El Nino berlangsung di daerahnya. "Prediksi awal musim kemarau pada Mei, puncaknya September. Neraca air tahunan cukup dan banyak usulan untuk sumur bor mengantisipasi kekeringan, dan untuk Lampung perlu ditingkatkan usulannya karena masih kurang," ujar Kepala BBWS Mesuji Sekampung Elroy Koyari di Bandarlampung, Sabtu. Ia mengatakan sumur bor yang merupakan bagian dari jaringan irigasi air tanah tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat di daerah irigasi dalam mengakses air selama musim kemarau ekstrem terjadi. "Jaringan irigasi air tanah ini jadi alternatif utama karena ini memanfaatkan cadangan air tanah, saat intensitas hujan berkurang. Yang mengusulkan ini baru ada 115 unit sumur bor. Jadi kami mendorong agar kabupaten dan kota segera mengusulkan karena usulan masih dibuka sampai Mei," katanya. Dia menjelaskan suplai jaringan irigasi air tanah saat ini total ada 115 unit sumur bor, dengan debit pompa 217,95 liter per detik, dengan luas daerah irigasi 2.044 hektare. Terinci di Kabupaten Lampung Selatan ada 74 unit sumur bor, dengan luas daerah irigasi 1.294 hektare, dan debit air pompa 108,25 liter per detik, Kabupaten Lampung Tengah 11 unit sumur bor, dengan luas daerah irigasi 190 hektare, dan debit pompa 56,44 liter per detik. Kabupaten Lampung Timur 27 unit sumur bor, dengan luas irigasi 510 hektare dan debit pompa 43,36 liter per detik, Kabupaten Pesawaran 1 unit sumur bor dengan luas irigasi 20 hektare, dan Kabupaten Pringsewu dua unit sumur bor, dengan luas irigasi 30 hektare dengan debit pompa 9,9 liter per detik. "Daerah dengan potensi daerah irigasi paling banyak ada di Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Lampung Utara. Jadi kabupaten serta kota bisa mengusulkan ini sebagai langkah mitigasi terjadinya kemarau Panjang," ucap dia. Berdasarkan data BBWS Mesuji Sekampung daftar usulan sumur kekeringan tahun 2026 yakni ada di Desa Kelawi Lampung Selatan, Desa Bakauheni Lampung Selatan, Desa Totoharjo Lampung Selatan, Desa Donomulyo Lampung Timur, dan Desa Catur Swako Lampung Timur. Kemudian Desa Margo Dadi Tulang Bawang Barat, Desa Way Sido Tulang Bawang Barat, Desa Lempuyang Bandar Lampung Tengah, Desa Purna Tunggal Lampung Tengah, Desa Tanjung Anom Lampung Tengah, dan Desa Adi Jaya Lampung Tengah. (*)
Baca Selengkapnya
Tinjauan Teknis dan Pemanfaatan Bendungan Batutegi Sebagai Penopang Ketahanan Air Lampung
Post
21 Juli 2026 Admin

Tinjauan Teknis dan Pemanfaatan Bendungan Batutegi Sebagai Penopang Ketahanan Air Lampung

Sumber daya air merupakan kekayaan alam yang memiliki peran penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Salah satu infrastruktur utama dalam pengelolaan sumber daya air di Provinsi Lampung adalah Bendungan Batutegi. Bendungan ini dibangun di Sungai Way Sekampung, tepatnya di Pekon Batutegi, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus. Pembangunan Bendungan Batutegi berlangsung pada periode 1995–2004. Bendungan ini memperoleh Sertifikat Izin Operasi pada tahun 2003 dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri, pada 8 Maret 2004. Sebagai infrastruktur vital dengan manfaat yang luas bagi masyarakat, operasional dan pemeliharaan Bendungan Batutegi dilakukan secara rutin oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung di bawah Kementerian Pekerjaan Umum guna menjamin keamanan dan keberlanjutan fungsinya. Spesifikasi Teknis Bendungan Bendungan Batutegi merupakan bendungan tipe urugan batu dengan inti kedap air yang dirancang untuk menampung dan mengendalikan aliran Sungai Way Sekampung. Beberapa spesifikasi utama bendungan meliputi: • Tinggi bendungan: 122 meter. • Panjang bendungan: 701 meter. • Lebar puncak bendungan: 12 meter. • Kapasitas total waduk: 580 juta m³. • Kapasitas efektif waduk: 578 juta m³. • Elevasi muka air normal (NWL): 274 meter. • Elevasi muka air banjir (FWL): 281,5 meter. • Elevasi muka air banjir maksimum (PMF): 283 meter. Bangunan Pelimpah (Spillway) Bangunan pelimpah berada di tebing kiri bendungan dengan tipe pelimpah bebas yang dilengkapi terowongan. Karakteristik utamanya meliputi: • Panjang mercu: 52 meter. • Elevasi mercu: 274 meter. • Diameter terowongan: 11,5 meter. • Panjang terowongan miring: 157 meter. • Panjang saluran mendatar: 286 meter. • Sistem pelepas energi menggunakan Flip Bucket. • Debit banjir rencana mencapai 1.930 m³/detik. Bangunan Pengambilan (Intake) Bangunan pengambilan juga berada di tebing kiri dengan tipe pengambilan miring. Spesifikasi utamanya meliputi: • Pintu pengambilan berukuran 4 x 4 meter. • Elevasi dasar intake: 201,24 meter. • Panjang waterway: 340 meter. • Kapasitas aliran minimum: 120 m³/detik. • Kapasitas aliran maksimum: 180 m³/detik. • Dilengkapi sistem pengaman Trash Rack. Manfaat dan Peran Strategis Bendungan Batutegi dirancang sebagai bendungan multiguna yang mendukung sektor pertanian, energi, penyediaan air baku, pengendalian banjir, perikanan, dan pariwisata. Mendukung Produktivitas Pertanian Keberadaan Bendungan Batutegi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan luas tanam di Daerah Irigasi Way Sekampung. Pada musim tanam rendeng, luas areal yang dapat diairi meningkat dari 43.588 hektare menjadi 66.573 hektare atau bertambah 22.985 hektare. Sementara pada musim tanam gadu, luas areal meningkat dari 19.054 hektare menjadi 41.980 hektare atau bertambah 22.926 hektare. Secara keseluruhan, bendungan ini mampu meningkatkan luas tanam hingga 45.911 hektare per tahun sehingga berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Menghasilkan Energi Listrik Ramah Lingkungan Di sektor energi, Bendungan Batutegi dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang berada di hilir bendungan. PLTA tersebut memiliki kapasitas terpasang sebesar 28 MW yang didukung oleh dua unit turbin Francis berkapasitas masing-masing 14,88 MW. Dengan tinggi jatuh air (design head) sekitar 90 meter, pembangkit ini mampu menghasilkan energi listrik hingga 100 GWh per tahun. Menyediakan Air Baku bagi Masyarakat Bendungan Batutegi juga berperan sebagai sumber penyediaan air baku dengan kapasitas 2.250 liter per detik. Pasokan air tersebut dialokasikan untuk: • Kota Bandar Lampung: 2.000 liter/detik. • Kota Metro: 200 liter/detik. • Branti: 50 liter/detik. Keberadaan bendungan menjadi penopang penting dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan mendukung pertumbuhan kawasan perkotaan. Fungsi Tambahan: Selain fungsi utama di bidang irigasi, energi, dan penyediaan air baku, Bendungan Batutegi juga berperan dalam pengendalian banjir, pengembangan wisata, serta budidaya perikanan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kesimpulan: Bendungan Batutegi merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air paling strategis di Provinsi Lampung. Dengan kapasitas efektif mencapai 578 juta m³, bendungan ini memberikan manfaat besar bagi sektor pertanian, penyediaan air baku, pembangkitan energi listrik, serta pengendalian banjir. Keberhasilan fungsi bendungan dalam mendukung ketahanan pangan, energi, dan air di Provinsi Lampung sangat bergantung pada pengelolaan operasi, pemantauan, dan pemeliharaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya menjaga keamanan dan keandalan Bendungan Batutegi menjadi langkah penting untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dalam jangka panjang. (Pan)
Baca Selengkapnya
Peran Vital Bendungan Lampung dalam Memitigasi Kekeringan di Tengah Kemarau Ekstrem 2026
Post
20 Juli 2026 Admin

Peran Vital Bendungan Lampung dalam Memitigasi Kekeringan di Tengah Kemarau Ekstrem 2026

Provinsi Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia. Keberhasilan sektor pertanian di daerah ini sangat bergantung pada ketersediaan air yang cukup dan berkelanjutan. Namun, di tengah perubahan iklim global yang semakin tidak menentu, ancaman kekeringan menjadi tantangan yang harus diantisipasi secara serius. Tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi sektor sumber daya air dan pertanian. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Niño diperkirakan masih memengaruhi kondisi cuaca hingga awal tahun 2027. Dampaknya adalah musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Pada periode tersebut, banyak wilayah di Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang signifikan. Di sejumlah daerah, suhu udara maksimum bahkan dapat mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan tingkat penguapan meningkat, debit sungai menurun, dan risiko kekeringan semakin tinggi. Di tengah kondisi tersebut, keberadaan bendungan menjadi sangat penting sebagai infrastruktur pengelolaan air yang mampu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau berlangsung. Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai penampung air, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas pasokan air untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Saat musim hujan, bendungan menampung limpasan air yang berlebih sehingga dapat mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. Air yang tersimpan kemudian menjadi cadangan yang dapat dimanfaatkan secara terukur ketika curah hujan berkurang dan debit sungai menurun pada musim kemarau. Dengan sistem operasi yang terencana, pelepasan air dari bendungan dapat dilakukan sesuai kebutuhan sehingga pasokan air tetap tersedia sepanjang tahun. Bagi sektor pertanian, bendungan memiliki peran yang sangat vital. Ketersediaan air irigasi yang terjamin memungkinkan petani tetap melakukan kegiatan budidaya meskipun curah hujan rendah.  Pasokan air yang stabil membantu menjaga produktivitas lahan pertanian, mengurangi risiko gagal panen, serta mendukung upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain itu, bendungan juga berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air tanah. Keberadaan tampungan air dalam skala besar membantu mempertahankan kelembapan lingkungan sekitar dan mendukung proses pengisian kembali cadangan air tanah. Manfaat lainnya adalah tersedianya air baku untuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, industri, dan berbagai fasilitas publik yang membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Di Provinsi Lampung, upaya mitigasi kekeringan didukung oleh tiga bendungan utama yang berada dalam satu sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung, yaitu Bendungan Batutegi, Bendungan Way Sekampung, dan Bendungan Margatiga. Bendungan Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus berfungsi sebagai tampungan utama di bagian hulu. Bendungan ini memiliki peran penting dalam mengatur ketersediaan air yang akan dialirkan ke wilayah hilir. Cadangan air yang tersimpan di Bendungan Batutegi menjadi salah satu penopang utama kebutuhan irigasi dan air baku di Provinsi Lampung. Di bagian tengah sistem DAS Way Sekampung terdapat Bendungan Way Sekampung yang berlokasi di Kabupaten Pringsewu. Bendungan ini berperan dalam meningkatkan layanan irigasi sekaligus menyediakan air baku bagi masyarakat di wilayah Pringsewu, Bandar Lampung, dan sekitarnya. Keberadaannya membantu meningkatkan efisiensi distribusi air sehingga pemanfaatannya menjadi lebih optimal. Sementara itu, Bendungan Margatiga di Kabupaten Lampung Timur berfungsi sebagai tampungan di wilayah hilir yang memperkuat layanan irigasi untuk daerah-daerah pertanian di Lampung Timur dan Lampung Selatan. Bendungan ini menjadi infrastruktur penting dalam mengurangi risiko kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang maupun ketika fenomena El Niño melanda. Menghadapi kemarau ekstrem tahun 2026, keberadaan ketiga bendungan tersebut menjadi benteng pertahanan penting bagi sektor pertanian, penyediaan air baku, dan keberlanjutan sumber daya air di Provinsi Lampung. Pengelolaan bendungan yang terintegrasi dan adaptif terhadap kondisi cuaca menjadi kunci untuk memastikan air dapat didistribusikan secara efektif, efisien, dan berkeadilan. Melalui pengoperasian Bendungan Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga secara optimal, BBWS Mesuji Sekampung terus berupaya menjaga ketahanan air dan ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Infrastruktur sumber daya air yang andal tidak hanya menjadi solusi menghadapi kekeringan saat ini, tetapi juga investasi jangka panjang dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Pan)
Baca Selengkapnya
Post
20 Juli 2026 Admin

Peran Vital Bendungan Lampung dalam Memitigasi Kekeringan di Tengah Kemarau Ekstrem 2026

Provinsi Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia. Keberhasilan sektor pertanian di daerah ini sangat bergantung pada ketersediaan air yang cukup dan berkelanjutan. Namun, di tengah perubahan iklim global yang semakin tidak menentu, ancaman kekeringan menjadi tantangan yang harus diantisipasi secara serius. Tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi sektor sumber daya air dan pertanian. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Niño diperkirakan masih memengaruhi kondisi cuaca hingga awal tahun 2027. Dampaknya adalah musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Pada periode tersebut, banyak wilayah di Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang signifikan. Di sejumlah daerah, suhu udara maksimum bahkan dapat mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan tingkat penguapan meningkat, debit sungai menurun, dan risiko kekeringan semakin tinggi. Di tengah kondisi tersebut, keberadaan bendungan menjadi sangat penting sebagai infrastruktur pengelolaan air yang mampu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau berlangsung. Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai penampung air, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas pasokan air untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Saat musim hujan, bendungan menampung limpasan air yang berlebih sehingga dapat mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. Air yang tersimpan kemudian menjadi cadangan yang dapat dimanfaatkan secara terukur ketika curah hujan berkurang dan debit sungai menurun pada musim kemarau. Dengan sistem operasi yang terencana, pelepasan air dari bendungan dapat dilakukan sesuai kebutuhan sehingga pasokan air tetap tersedia sepanjang tahun. Bagi sektor pertanian, bendungan memiliki peran yang sangat vital. Ketersediaan air irigasi yang terjamin memungkinkan petani tetap melakukan kegiatan budidaya meskipun curah hujan rendah.  Pasokan air yang stabil membantu menjaga produktivitas lahan pertanian, mengurangi risiko gagal panen, serta mendukung upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain itu, bendungan juga berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air tanah. Keberadaan tampungan air dalam skala besar membantu mempertahankan kelembapan lingkungan sekitar dan mendukung proses pengisian kembali cadangan air tanah. Manfaat lainnya adalah tersedianya air baku untuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, industri, dan berbagai fasilitas publik yang membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Di Provinsi Lampung, upaya mitigasi kekeringan didukung oleh tiga bendungan utama yang berada dalam satu sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung, yaitu Bendungan Batutegi, Bendungan Way Sekampung, dan Bendungan Margatiga. Bendungan Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus berfungsi sebagai tampungan utama di bagian hulu. Bendungan ini memiliki peran penting dalam mengatur ketersediaan air yang akan dialirkan ke wilayah hilir. Cadangan air yang tersimpan di Bendungan Batutegi menjadi salah satu penopang utama kebutuhan irigasi dan air baku di Provinsi Lampung. Di bagian tengah sistem DAS Way Sekampung terdapat Bendungan Way Sekampung yang berlokasi di Kabupaten Pringsewu. Bendungan ini berperan dalam meningkatkan layanan irigasi sekaligus menyediakan air baku bagi masyarakat di wilayah Pringsewu, Bandar Lampung, dan sekitarnya. Keberadaannya membantu meningkatkan efisiensi distribusi air sehingga pemanfaatannya menjadi lebih optimal. Sementara itu, Bendungan Margatiga di Kabupaten Lampung Timur berfungsi sebagai tampungan di wilayah hilir yang memperkuat layanan irigasi untuk daerah-daerah pertanian di Lampung Timur dan Lampung Selatan. Bendungan ini menjadi infrastruktur penting dalam mengurangi risiko kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang maupun ketika fenomena El Niño melanda. Menghadapi kemarau ekstrem tahun 2026, keberadaan ketiga bendungan tersebut menjadi benteng pertahanan penting bagi sektor pertanian, penyediaan air baku, dan keberlanjutan sumber daya air di Provinsi Lampung. Pengelolaan bendungan yang terintegrasi dan adaptif terhadap kondisi cuaca menjadi kunci untuk memastikan air dapat didistribusikan secara efektif, efisien, dan berkeadilan. Melalui pengoperasian Bendungan Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga secara optimal, BBWS Mesuji Sekampung terus berupaya menjaga ketahanan air dan ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Infrastruktur sumber daya air yang andal tidak hanya menjadi solusi menghadapi kekeringan saat ini, tetapi juga investasi jangka panjang dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Pan)
Baca Selengkapnya
Rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Baku Way Andeng Dukung Pengembangan Kawasan Pariwisata PSN Bakauheni
Post
20 Juli 2026 Admin

Rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Baku Way Andeng Dukung Pengembangan Kawasan Pariwisata PSN Bakauheni

Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung terus melaksanakan rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Baku (SPAB) Way Andeng sebagai upaya mendukung pengembangan Kawasan Pariwisata Strategis Nasional (PSN) Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan. Pekerjaan rehabilitasi dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan keandalan infrastruktur penyediaan air baku yang menjadi salah satu kebutuhan utama dalam pengembangan kawasan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah. Hingga saat ini, progres pembangunan jaringan perpipaan telah mencapai sekitar 11 kilometer dari target total 13 kilometer. Ruang lingkup pekerjaan meliputi pemasangan jaringan perpipaan, pembangunan dan perbaikan bangunan pendukung, pekerjaan galian dan urugan, serta pengujian sistem guna memastikan distribusi air baku dapat berfungsi secara optimal. Setelah selesai, sistem ini direncanakan memiliki kapasitas layanan sebesar 0,02 meter kubik per detik untuk memenuhi kebutuhan air baku di kawasan pengembangan PSN Bakauheni. Pelaksanaan rehabilitasi juga dilakukan dengan mengedepankan mutu konstruksi, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta pengendalian kualitas pada setiap tahapan pekerjaan. Langkah tersebut dilakukan agar infrastruktur yang dibangun memiliki umur layanan yang panjang dan mampu beroperasi secara andal dalam jangka waktu yang lama. Keberadaan Sistem Penyediaan Air Baku Way Andeng diharapkan dapat menjamin ketersediaan air baku secara berkelanjutan bagi kawasan pariwisata, masyarakat sekitar, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Infrastruktur ini menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan dasar, menarik investasi, dan memperkuat daya saing kawasan Bakauheni sebagai salah satu destinasi strategis nasional. Melalui rehabilitasi ini, pemerintah menunjukkan komitmennya dalam menyediakan infrastruktur sumber daya air yang andal sebagai fondasi pembangunan kawasan pariwisata yang berkelanjutan. Dengan sistem penyediaan air baku yang semakin baik, pengembangan PSN Bakauheni diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat serta mendorong peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lampung Selatan. (Pan)  
Baca Selengkapnya
BBWS Mesuji Sekampung Mulai Bangun Pengaman Pantai Mandiri Sejati, Lindungi Wilayah Pesisir dari Ancaman Abrasi
Post
17 Juli 2026 Admin

BBWS Mesuji Sekampung Mulai Bangun Pengaman Pantai Mandiri Sejati, Lindungi Wilayah Pesisir dari Ancaman Abrasi

  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung mulai melaksanakan pembangunan Pengaman Pantai Mandiri Sejati di Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Pembangunan infrastruktur ini merupakan upaya pemerintah dalam mengurangi dampak abrasi yang terus mengancam kawasan pesisir. Selain melindungi permukiman dan infrastruktur masyarakat, pembangunan pengaman pantai juga bertujuan menjaga keberlanjutan kawasan pesisir agar tetap aman dan produktif bagi masyarakat. Untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, bersama jajaran Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Mesuji Sekampung melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan. Peninjauan dilakukan guna memantau progres pekerjaan sekaligus memastikan setiap tahapan konstruksi dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan standar mutu yang telah ditetapkan. Saat ini, penyedia jasa konstruksi tengah melaksanakan pabrikasi kubus beton dan buis beton yang akan digunakan sebagai material utama pembangunan pengaman pantai sepanjang 150 meter. Dalam arahannya, Kepala BBWS Mesuji Sekampung menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan pekerjaan dengan tetap mengedepankan kualitas konstruksi. Penyedia jasa diminta mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, termasuk peralatan dan tenaga kerja, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan. Melalui pembangunan Pengaman Pantai Mandiri Sejati ini, diharapkan risiko abrasi di wilayah pesisir dapat berkurang secara signifikan. Bangunan pengaman pantai akan berfungsi meredam energi gelombang laut, memperlambat laju pengikisan garis pantai, serta melindungi ruang hidup masyarakat pesisir. Keberadaan infrastruktur ini juga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Pekon Mandiri Sejati dan sekitarnya. Dengan target mulai berfungsi pada awal tahun 2027, Pengaman Pantai Mandiri Sejati diharapkan menjadi salah satu solusi dalam menjaga kawasan pesisir Pesisir Barat dari ancaman abrasi, sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang garis pantai. (Pan)  
Baca Selengkapnya
Mengantisipasi Cuaca Ekstrem dengan Strategi Early Release Bendungan di Provinsi Lampung
Post
17 Juli 2026 Admin

Mengantisipasi Cuaca Ekstrem dengan Strategi Early Release Bendungan di Provinsi Lampung

Provinsi Lampung memiliki sejumlah bendungan strategis yang berperan penting dalam penyediaan air irigasi, air baku, pembangkit listrik, serta pengendalian banjir. Beberapa di antaranya adalah Bendungan Batutegi di Kabupaten Tanggamus, Bendungan Way Sekampung di Kabupaten Pringsewu, dan Bendungan Margatiga di Kabupaten Lampung Timur. Di tengah meningkatnya potensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim global, seperti hujan dengan intensitas tinggi yang dipengaruhi fenomena La Niña maupun anomali cuaca lainnya, pengelolaan bendungan menjadi semakin kompleks. Salah satu strategi yang diterapkan untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga keamanan bendungan adalah sistem early release atau pelepasan air secara dini. Apa Itu Early Release? Early release adalah tindakan melepaskan sebagian air yang tersimpan di waduk sebelum terjadi hujan lebat atau cuaca ekstrem yang diperkirakan akan meningkatkan debit aliran sungai secara signifikan. Setiap bendungan memiliki kapasitas tampungan tertentu. Apabila hujan deras terjadi ketika waduk berada pada kondisi mendekati penuh, volume air yang masuk dapat menyebabkan pelimpasan melalui bangunan pelimpah (spillway) dalam jumlah besar. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir di wilayah hilir. Melalui early release, pengelola bendungan menciptakan ruang tampungan sementara (flood control space) di dalam waduk. Ruang ini berfungsi menampung tambahan air yang datang dari hulu saat hujan ekstrem, sehingga debit yang mengalir ke hilir dapat dikendalikan dan tidak menimbulkan lonjakan yang membahayakan. Pentingnya Early Release di Lampung Lampung memiliki sejumlah daerah aliran sungai (DAS) besar, seperti DAS Way Sekampung dan DAS Way Seputih, yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca di wilayah hulu. Curah hujan di kawasan pegunungan dan perbukitan, seperti Tanggamus dan sekitarnya, dapat meningkat drastis dalam waktu singkat dan menyebabkan lonjakan debit sungai. Penerapan early release memberikan dua manfaat utama. Melindungi Keamanan Bendungan Pelepasan air secara terencana membantu menjaga elevasi muka air waduk tetap berada dalam batas aman. Langkah ini mengurangi risiko terjadinya overtopping atau limpasan air melewati puncak bendungan yang dapat mengancam stabilitas struktur bendungan, khususnya bendungan tipe urukan tanah dan batu. Mengurangi Risiko Banjir di Hilir Dengan tersedianya ruang tampungan di dalam waduk, air banjir yang datang dari hulu dapat ditahan sementara. Hal ini membantu mengurangi potensi banjir di kawasan hilir, termasuk permukiman, lahan pertanian, serta infrastruktur vital yang berada di sepanjang aliran sungai. Bagaimana Sistem Early Release Bekerja? Keputusan melakukan early release tidak dilakukan secara sembarangan. Prosesnya didasarkan pada analisis teknis dan data hidrologi yang komprehensif. Pemantauan Cuaca dan Curah Hujan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau prakiraan cuaca, data radar hujan, serta informasi dari stasiun telemetri dan alat ukur curah hujan yang tersebar di wilayah hulu. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam. Analisis Inflow dan Kondisi Waduk Data curah hujan dan kondisi daerah tangkapan air dianalisis untuk memperkirakan besarnya debit masuk (inflow) yang akan menuju waduk. Perhitungan ini menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan ruang tampungan banjir. Pelepasan Air Secara Bertahap Apabila diperkirakan terjadi peningkatan debit yang signifikan, pelepasan air dilakukan secara bertahap melalui bangunan pengeluaran atau pintu pelimpah sesuai prosedur operasi bendungan. Debit pelepasan diatur agar tetap aman dan tidak menimbulkan dampak negatif di wilayah hilir. Koordinasi dan Penyampaian Informasi Sebelum pelepasan air dilakukan, pengelola bendungan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, aparat setempat, dan masyarakat di sepanjang aliran sungai. Informasi disampaikan lebih awal agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas di sekitar badan sungai. Tantangan dalam Penerapan Early Release Meskipun efektif untuk mengurangi risiko banjir, penerapan early release juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling krusial adalah akurasi prakiraan cuaca. Bendungan di Lampung tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga sebagai penyedia air irigasi bagi ribuan hektare lahan pertanian. Jika pelepasan air dilakukan terlalu dini berdasarkan prediksi yang ternyata tidak terjadi, maka volume cadangan air di waduk dapat berkurang dan berpotensi memengaruhi ketersediaan air pada musim kemarau. Karena itu, setiap keputusan early release harus didasarkan pada data yang akurat, analisis yang matang, serta koordinasi yang baik antarinstansi terkait. Kesimpulan Perubahan iklim menuntut pengelolaan bendungan yang semakin adaptif dan responsif. Sistem early release merupakan salah satu strategi penting dalam pengoperasian bendungan modern untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem dan banjir. Dengan dukungan teknologi pemantauan hidrometeorologi, pengelolaan operasional yang tepat, serta koordinasi yang baik antara BBWS Mesuji Sekampung, BMKG, pemerintah daerah, dan masyarakat, bendungan dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Tidak hanya sebagai pengendali banjir pada musim hujan, tetapi juga sebagai penopang ketahanan pangan dan sumber daya air yang berkelanjutan bagi masyarakat Lampung. (pan)  
Baca Selengkapnya
Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Daerah Irigasi Jabung Kiri Lampung Timur
Post
14 Juli 2026 Admin

Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Daerah Irigasi Jabung Kiri Lampung Timur

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, beserta jajaran melakukan peninjauan rehabilitasi dan peningkatan Daerah Irigasi (DI) Jabung Kiri di Kabupaten Lampung Timur, Selasa (14/7/2026). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai rencana serta mengecek progres pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh penyedia jasa konstruksi di lapangan. Berdasarkan hasil peninjauan, saat ini pekerjaan telah memasuki tahap pengecoran lantai dasar atau Lean Concrete (LC) pada saluran irigasi. Lapisan beton ini berfungsi menciptakan permukaan dasar yang rata, bersih, dan stabil sebagai fondasi bagi struktur saluran irigasi yang akan dibangun. Pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan DI Jabung Kiri dilaksanakan untuk mengoptimalkan fungsi jaringan irigasi yang melayani beberapa wilayah, di antaranya Desa Asahan, Desa Beteng Sari, dan Desa Adi Luhur, Kabupaten Lampung Timur. Dengan adanya rehabilitasi ini, diharapkan distribusi air irigasi dapat berlangsung lebih efektif dan efisien sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian. Dalam arahannya, Kepala BBWS Mesuji Sekampung meminta agar seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat waktu, serta memenuhi standar mutu dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Ia juga menekankan pentingnya peran konsultan pengawas dalam memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan, sehingga hasil pembangunan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Daerah Irigasi Jabung Kiri merupakan jaringan irigasi dengan luas layanan sekitar 5.638 hektare di Lampung Timur. Keberadaan jaringan irigasi ini memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan melalui penyediaan air bagi lahan pertanian secara berkelanjutan. Kegiatan rehabilitasi dan peningkatan DI Jabung Kiri merupakan bagian dari komitmen Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Mesuji Sekampung dalam meningkatkan kualitas infrastruktur sumber daya air guna mendukung produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. (Pan)  
Baca Selengkapnya
Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam
Post
13 Juli 2026 Admin

Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung telah memulai pekerjaan rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan. Rehabilitasi ini bagian dari program pengelolaan sumber daya air di bawah Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air atau SNVT PJSA Mesuji Sekampung. Untuk melihat progres awal pekerjaan, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, beserta jajaran melakukan peninjauan lapangan ke lokasi rehabilitasi pada Sabtu 11 Juli 2026. Kegiatan ini guna memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana serta memenuhi standar teknis yang telah ditetapkan. Di lokasi, tampak sejumlah alat berat excavator telah beroperasi melakukan pengerukan sedimen sungai sebagai bagian dari tahapan awal pekerjaan. Elroy Koyari juga menyampaikan sejumlah arahan teknis kepada pelaksana pekerjaan agar seluruh kegiatan konstruksi dapat berjalan dengan baik, tepat mutu dan tepat waktu. Melalui rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam, diharapkan tanggul akan lebih andal dan mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat, lahan pertanian, serta infrastruktur di kawasan sekitar, sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan di Kabupaten Lampung Selatan. (Pan)
Baca Selengkapnya
Sosialisasi dan Persiapan Self Assessment RBO-PB BBWS Mesuji Sekampung
Post
10 Juli 2026 Admin

Sosialisasi dan Persiapan Self Assessment RBO-PB BBWS Mesuji Sekampung

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung menggelar kegiatan sosialisasi dan persiapan Self Assessment River Basin Organization Performance Benchmarking (RBO-PB) Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Margatiga BBWS Mesuji Sekampung pada Kamis, 9 Juli 2026 dan dipimpin oleh Dr. Iskandar Rahim selaku Plt. Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha. Sebelumnya, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, telah menerbitkan keputusan tentang pembentukan Tim RBO-PB BBWS Mesuji Sekampung Tahun Anggaran 2026. Pembentukan tim tersebut dilakukan sebagai upaya mengukur kinerja River Basin Organization (RBO) BBWS Mesuji Sekampung melalui evaluasi kinerja Self Assessment menggunakan alat (tool) RBO Performance Benchmarking yang diterbitkan oleh Networks of Asian River Basin Organizations (NARBO). Self Assessment merupakan proses pengukuran kinerja RBO terhadap lima bidang kritis dan 16 indikator penilaian yang dilakukan oleh pimpinan dan staf BBWS Mesuji Sekampung. Penilaian dilakukan dengan membandingkan pelaksanaan tugas terhadap norma, standar, pedoman, dan/atau kriteria yang telah ditetapkan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjamin adanya perbaikan kinerja RBO secara berkelanjutan dalam rangka mewujudkan keterpaduan pengelolaan sumber daya air. Untuk mendukung pelaksanaan penilaian tersebut, telah dibentuk Tim Self Assessment yang terdiri dari pejabat dan pegawai BBWS Mesuji Sekampung yang dinilai memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Kepala BBWS Mesuji Sekampung bertindak sebagai pengarah, sementara sejumlah kepala bidang ditunjuk sebagai wakil pengarah, ketua, wakil ketua, serta anggota tim yang berasal dari berbagai unit kerja di lingkungan BBWS Mesuji Sekampung. (Pan)
Baca Selengkapnya

Berita Terkini

Informasi Terkini Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung

Kilas Pengumuman :
Rehabilitasi Daerah Irigasi Way Rarem Capai 28,72 Persen, Tingkatkan Layanan Irigasi bagi Lahan Pertanian
Post
21 Juli 2026 Admin

Rehabilitasi Daerah Irigasi Way Rarem Capai 28,72 Persen, Tingkatkan Layanan Irigasi bagi Lahan Pertanian

Pekerjaan Rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I.) Way Rarem terus berjalan dengan baik sebagai bagian dari upaya peningkatan infrastruktur sumber daya air untuk mendukung sektor pertanian di Provinsi Lampung. Hingga saat ini, progres fisik pekerjaan telah mencapai 28,72%, sesuai dengan tahapan pelaksanaan yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaannya, proyek ini memiliki target rehabilitasi jaringan irigasi sepanjang 40 kilometer. Hingga periode pelaporan saat ini, telah terealisasi 2 kilometer pekerjaan yang meliputi rehabilitasi saluran irigasi beserta pekerjaan struktur pendukungnya. Setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan dengan memperhatikan standar mutu konstruksi, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pengawasan teknis yang ketat agar hasil pembangunan memberikan manfaat yang optimal. Dari sisi manfaat, rehabilitasi D.I. Way Rarem direncanakan mampu meningkatkan pelayanan irigasi pada lahan pertanian seluas 3.400 hektare. Sejauh ini, jaringan yang telah selesai dikerjakan telah memberikan pelayanan irigasi pada sekitar 1.000 hektare lahan pertanian, sehingga petani mulai merasakan manfaat berupa distribusi air yang lebih lancar dan efisien. Keberadaan jaringan irigasi yang andal diharapkan dapat mendukung peningkatan intensitas tanam, menjaga ketersediaan air selama musim tanam, mengurangi kehilangan air di sepanjang saluran, serta meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Proyek ini juga menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan serta kerja sama masyarakat sekitar, pekerjaan Rehabilitasi D.I. Way Rarem diharapkan dapat diselesaikan tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan. Setelah seluruh pekerjaan rampung, jaringan irigasi ini akan memberikan manfaat yang lebih luas bagi 3.400 hektare lahan pertanian, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (Pan)
Baca Selengkapnya
Sabuk Hijau Bendungan: Benteng Alami Penjaga Kelestarian Ekosistem dan Keandalan Infrastruktur
Post
21 Juli 2026 Admin

Sabuk Hijau Bendungan: Benteng Alami Penjaga Kelestarian Ekosistem dan Keandalan Infrastruktur

Bendungan tidak hanya membutuhkan bangunan utama yang kokoh, tetapi juga kawasan penyangga yang mampu menjaga keberlanjutan fungsinya dalam jangka panjang. Salah satu komponen penting tersebut adalah sabuk hijau (green belt), yakni kawasan vegetasi yang berada di sekitar waduk atau sepanjang garis sempadan bendungan. Sabuk hijau berfungsi sebagai zona penyangga antara area genangan waduk dengan lahan pertanian, perkebunan, maupun permukiman masyarakat. Keberadaannya bukan sekadar untuk penghijauan, melainkan merupakan bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air yang berperan menjaga kualitas lingkungan sekaligus melindungi infrastruktur bendungan. Menjaga Bendungan dari Ancaman Sedimentasi dan Erosi Salah satu manfaat utama sabuk hijau adalah mengendalikan erosi dan sedimentasi yang dapat mengurangi kapasitas tampung waduk. Vegetasi yang tumbuh di kawasan sempadan memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mengikat tanah dan memperkuat lereng di sekitar waduk. Dengan demikian, risiko longsoran tebing dapat diminimalkan. Selain itu, vegetasi berfungsi sebagai penyaring alami yang menahan material tanah dan sedimen yang terbawa aliran permukaan sebelum masuk ke dalam waduk. Pengendalian sedimentasi sangat penting karena pendangkalan waduk dapat mengurangi umur layanan bendungan serta menurunkan efektivitasnya dalam menyimpan air. Melindungi Kualitas Air Waduk Sabuk hijau juga berperan menjaga kualitas air yang tersimpan di dalam waduk. Tanaman mampu menyerap unsur hara berlebih seperti nitrogen dan fosfor yang berasal dari aktivitas pertanian di sekitar kawasan bendungan. Proses alami ini membantu mencegah eutrofikasi, yaitu kondisi ketika perairan mengalami ledakan pertumbuhan tanaman air dan gulma seperti eceng gondok. Apabila tidak dikendalikan, pertumbuhan gulma yang berlebihan dapat menurunkan kualitas air, mengganggu ekosistem perairan, bahkan menghambat operasional infrastruktur seperti pintu air dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Menjaga Siklus Hidrologi dan Iklim Mikro Keberadaan sabuk hijau turut mendukung keseimbangan hidrologi di sekitar bendungan. Vegetasi membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah tetap terjaga. Selain itu, pepohonan di sekitar waduk berkontribusi menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan lembap, sehingga dapat membantu menekan laju penguapan air dari permukaan waduk. Fungsi ini menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air bagi masyarakat. Habitat Satwa dan Penjaga Keanekaragaman Hayati Selain manfaat teknis, sabuk hijau juga memiliki nilai ekologis yang tinggi. Kawasan ini menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna lokal serta berfungsi sebagai koridor ekologis bagi satwa liar, termasuk burung-burung migran. Dengan demikian, pembangunan bendungan tetap dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Strategi Pengelolaan Sabuk Hijau Keberhasilan pengembangan sabuk hijau sangat ditentukan oleh pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi kawasan bendungan. Tanaman yang dipilih umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut: Memiliki akar kuat dan dalam untuk mengikat tanah, seperti mahoni, jati, dan bambu. Mampu beradaptasi terhadap fluktuasi muka air waduk. Memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat, seperti durian, manggis, dan alpukat, sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan sabuk hijau. Dengan pendekatan ini, fungsi konservasi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Implementasi di Bendungan Lampung Konsep sabuk hijau telah diterapkan di berbagai bendungan di Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan fungsi waduk. Bendungan Batutegi Bendungan Batutegi memiliki kawasan sabuk hijau yang cukup luas di Provinsi Lampung. Penanaman vegetasi di sekitar waduk dilakukan untuk menjaga daerah tangkapan air (catchment area) Sungai Way Sekampung, mengurangi sedimentasi, serta menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan irigasi dan PLTA. Bendungan Way Sekampung Pada Bendungan Way Sekampung, pengembangan sabuk hijau difokuskan pada perlindungan lereng dari erosi sekaligus mendukung pengembangan kawasan yang memiliki potensi wisata edukasi lingkungan tanpa mengganggu fungsi utama bendungan. Menjaga Bendungan, Menjaga Masa Depan Sabuk hijau bukan sekadar deretan pohon di sekitar waduk. Kawasan ini merupakan bagian integral dari sistem pengelolaan bendungan modern yang berfungsi menjaga kualitas air, mengendalikan sedimentasi, melindungi ekosistem, serta memperpanjang umur layanan infrastruktur. Karena itu, pengelolaan sabuk hijau perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pemilihan vegetasi yang tepat, pelibatan masyarakat, serta pengawasan terhadap pemanfaatan kawasan sempadan. Dengan langkah tersebut, bendungan dapat terus memberikan manfaat optimal bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. (Pan)  
Baca Selengkapnya
BBWS Mesuji Sekampung Sebut Jaringan Irigasi Air Tanah Jadi Alternatif Saat El Nino untuk Atasi Kekeringan
Post
21 Juli 2026 Admin

BBWS Mesuji Sekampung Sebut Jaringan Irigasi Air Tanah Jadi Alternatif Saat El Nino untuk Atasi Kekeringan

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung Elroy Koyari menyebutkan bahwa melalui pemanfaatan jaringan irigasi air tanah (JIAT) dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan sumber air saat fenomena El Nino berlangsung di daerahnya. "Prediksi awal musim kemarau pada Mei, puncaknya September. Neraca air tahunan cukup dan banyak usulan untuk sumur bor mengantisipasi kekeringan, dan untuk Lampung perlu ditingkatkan usulannya karena masih kurang," ujar Kepala BBWS Mesuji Sekampung Elroy Koyari di Bandarlampung, Sabtu. Ia mengatakan sumur bor yang merupakan bagian dari jaringan irigasi air tanah tersebut dapat menjadi alternatif bagi masyarakat di daerah irigasi dalam mengakses air selama musim kemarau ekstrem terjadi. "Jaringan irigasi air tanah ini jadi alternatif utama karena ini memanfaatkan cadangan air tanah, saat intensitas hujan berkurang. Yang mengusulkan ini baru ada 115 unit sumur bor. Jadi kami mendorong agar kabupaten dan kota segera mengusulkan karena usulan masih dibuka sampai Mei," katanya. Dia menjelaskan suplai jaringan irigasi air tanah saat ini total ada 115 unit sumur bor, dengan debit pompa 217,95 liter per detik, dengan luas daerah irigasi 2.044 hektare. Terinci di Kabupaten Lampung Selatan ada 74 unit sumur bor, dengan luas daerah irigasi 1.294 hektare, dan debit air pompa 108,25 liter per detik, Kabupaten Lampung Tengah 11 unit sumur bor, dengan luas daerah irigasi 190 hektare, dan debit pompa 56,44 liter per detik. Kabupaten Lampung Timur 27 unit sumur bor, dengan luas irigasi 510 hektare dan debit pompa 43,36 liter per detik, Kabupaten Pesawaran 1 unit sumur bor dengan luas irigasi 20 hektare, dan Kabupaten Pringsewu dua unit sumur bor, dengan luas irigasi 30 hektare dengan debit pompa 9,9 liter per detik. "Daerah dengan potensi daerah irigasi paling banyak ada di Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Lampung Utara. Jadi kabupaten serta kota bisa mengusulkan ini sebagai langkah mitigasi terjadinya kemarau Panjang," ucap dia. Berdasarkan data BBWS Mesuji Sekampung daftar usulan sumur kekeringan tahun 2026 yakni ada di Desa Kelawi Lampung Selatan, Desa Bakauheni Lampung Selatan, Desa Totoharjo Lampung Selatan, Desa Donomulyo Lampung Timur, dan Desa Catur Swako Lampung Timur. Kemudian Desa Margo Dadi Tulang Bawang Barat, Desa Way Sido Tulang Bawang Barat, Desa Lempuyang Bandar Lampung Tengah, Desa Purna Tunggal Lampung Tengah, Desa Tanjung Anom Lampung Tengah, dan Desa Adi Jaya Lampung Tengah. (*)
Baca Selengkapnya
Tinjauan Teknis dan Pemanfaatan Bendungan Batutegi Sebagai Penopang Ketahanan Air Lampung
Post
21 Juli 2026 Admin

Tinjauan Teknis dan Pemanfaatan Bendungan Batutegi Sebagai Penopang Ketahanan Air Lampung

Sumber daya air merupakan kekayaan alam yang memiliki peran penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Salah satu infrastruktur utama dalam pengelolaan sumber daya air di Provinsi Lampung adalah Bendungan Batutegi. Bendungan ini dibangun di Sungai Way Sekampung, tepatnya di Pekon Batutegi, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus. Pembangunan Bendungan Batutegi berlangsung pada periode 1995–2004. Bendungan ini memperoleh Sertifikat Izin Operasi pada tahun 2003 dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri, pada 8 Maret 2004. Sebagai infrastruktur vital dengan manfaat yang luas bagi masyarakat, operasional dan pemeliharaan Bendungan Batutegi dilakukan secara rutin oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung di bawah Kementerian Pekerjaan Umum guna menjamin keamanan dan keberlanjutan fungsinya. Spesifikasi Teknis Bendungan Bendungan Batutegi merupakan bendungan tipe urugan batu dengan inti kedap air yang dirancang untuk menampung dan mengendalikan aliran Sungai Way Sekampung. Beberapa spesifikasi utama bendungan meliputi: • Tinggi bendungan: 122 meter. • Panjang bendungan: 701 meter. • Lebar puncak bendungan: 12 meter. • Kapasitas total waduk: 580 juta m³. • Kapasitas efektif waduk: 578 juta m³. • Elevasi muka air normal (NWL): 274 meter. • Elevasi muka air banjir (FWL): 281,5 meter. • Elevasi muka air banjir maksimum (PMF): 283 meter. Bangunan Pelimpah (Spillway) Bangunan pelimpah berada di tebing kiri bendungan dengan tipe pelimpah bebas yang dilengkapi terowongan. Karakteristik utamanya meliputi: • Panjang mercu: 52 meter. • Elevasi mercu: 274 meter. • Diameter terowongan: 11,5 meter. • Panjang terowongan miring: 157 meter. • Panjang saluran mendatar: 286 meter. • Sistem pelepas energi menggunakan Flip Bucket. • Debit banjir rencana mencapai 1.930 m³/detik. Bangunan Pengambilan (Intake) Bangunan pengambilan juga berada di tebing kiri dengan tipe pengambilan miring. Spesifikasi utamanya meliputi: • Pintu pengambilan berukuran 4 x 4 meter. • Elevasi dasar intake: 201,24 meter. • Panjang waterway: 340 meter. • Kapasitas aliran minimum: 120 m³/detik. • Kapasitas aliran maksimum: 180 m³/detik. • Dilengkapi sistem pengaman Trash Rack. Manfaat dan Peran Strategis Bendungan Batutegi dirancang sebagai bendungan multiguna yang mendukung sektor pertanian, energi, penyediaan air baku, pengendalian banjir, perikanan, dan pariwisata. Mendukung Produktivitas Pertanian Keberadaan Bendungan Batutegi memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan luas tanam di Daerah Irigasi Way Sekampung. Pada musim tanam rendeng, luas areal yang dapat diairi meningkat dari 43.588 hektare menjadi 66.573 hektare atau bertambah 22.985 hektare. Sementara pada musim tanam gadu, luas areal meningkat dari 19.054 hektare menjadi 41.980 hektare atau bertambah 22.926 hektare. Secara keseluruhan, bendungan ini mampu meningkatkan luas tanam hingga 45.911 hektare per tahun sehingga berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Menghasilkan Energi Listrik Ramah Lingkungan Di sektor energi, Bendungan Batutegi dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang berada di hilir bendungan. PLTA tersebut memiliki kapasitas terpasang sebesar 28 MW yang didukung oleh dua unit turbin Francis berkapasitas masing-masing 14,88 MW. Dengan tinggi jatuh air (design head) sekitar 90 meter, pembangkit ini mampu menghasilkan energi listrik hingga 100 GWh per tahun. Menyediakan Air Baku bagi Masyarakat Bendungan Batutegi juga berperan sebagai sumber penyediaan air baku dengan kapasitas 2.250 liter per detik. Pasokan air tersebut dialokasikan untuk: • Kota Bandar Lampung: 2.000 liter/detik. • Kota Metro: 200 liter/detik. • Branti: 50 liter/detik. Keberadaan bendungan menjadi penopang penting dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan mendukung pertumbuhan kawasan perkotaan. Fungsi Tambahan: Selain fungsi utama di bidang irigasi, energi, dan penyediaan air baku, Bendungan Batutegi juga berperan dalam pengendalian banjir, pengembangan wisata, serta budidaya perikanan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kesimpulan: Bendungan Batutegi merupakan salah satu infrastruktur sumber daya air paling strategis di Provinsi Lampung. Dengan kapasitas efektif mencapai 578 juta m³, bendungan ini memberikan manfaat besar bagi sektor pertanian, penyediaan air baku, pembangkitan energi listrik, serta pengendalian banjir. Keberhasilan fungsi bendungan dalam mendukung ketahanan pangan, energi, dan air di Provinsi Lampung sangat bergantung pada pengelolaan operasi, pemantauan, dan pemeliharaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya menjaga keamanan dan keandalan Bendungan Batutegi menjadi langkah penting untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dalam jangka panjang. (Pan)
Baca Selengkapnya
Peran Vital Bendungan Lampung dalam Memitigasi Kekeringan di Tengah Kemarau Ekstrem 2026
Post
20 Juli 2026 Admin

Peran Vital Bendungan Lampung dalam Memitigasi Kekeringan di Tengah Kemarau Ekstrem 2026

Provinsi Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia. Keberhasilan sektor pertanian di daerah ini sangat bergantung pada ketersediaan air yang cukup dan berkelanjutan. Namun, di tengah perubahan iklim global yang semakin tidak menentu, ancaman kekeringan menjadi tantangan yang harus diantisipasi secara serius. Tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi sektor sumber daya air dan pertanian. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Niño diperkirakan masih memengaruhi kondisi cuaca hingga awal tahun 2027. Dampaknya adalah musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Pada periode tersebut, banyak wilayah di Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang signifikan. Di sejumlah daerah, suhu udara maksimum bahkan dapat mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan tingkat penguapan meningkat, debit sungai menurun, dan risiko kekeringan semakin tinggi. Di tengah kondisi tersebut, keberadaan bendungan menjadi sangat penting sebagai infrastruktur pengelolaan air yang mampu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau berlangsung. Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai penampung air, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas pasokan air untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Saat musim hujan, bendungan menampung limpasan air yang berlebih sehingga dapat mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. Air yang tersimpan kemudian menjadi cadangan yang dapat dimanfaatkan secara terukur ketika curah hujan berkurang dan debit sungai menurun pada musim kemarau. Dengan sistem operasi yang terencana, pelepasan air dari bendungan dapat dilakukan sesuai kebutuhan sehingga pasokan air tetap tersedia sepanjang tahun. Bagi sektor pertanian, bendungan memiliki peran yang sangat vital. Ketersediaan air irigasi yang terjamin memungkinkan petani tetap melakukan kegiatan budidaya meskipun curah hujan rendah.  Pasokan air yang stabil membantu menjaga produktivitas lahan pertanian, mengurangi risiko gagal panen, serta mendukung upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain itu, bendungan juga berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air tanah. Keberadaan tampungan air dalam skala besar membantu mempertahankan kelembapan lingkungan sekitar dan mendukung proses pengisian kembali cadangan air tanah. Manfaat lainnya adalah tersedianya air baku untuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, industri, dan berbagai fasilitas publik yang membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Di Provinsi Lampung, upaya mitigasi kekeringan didukung oleh tiga bendungan utama yang berada dalam satu sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung, yaitu Bendungan Batutegi, Bendungan Way Sekampung, dan Bendungan Margatiga. Bendungan Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus berfungsi sebagai tampungan utama di bagian hulu. Bendungan ini memiliki peran penting dalam mengatur ketersediaan air yang akan dialirkan ke wilayah hilir. Cadangan air yang tersimpan di Bendungan Batutegi menjadi salah satu penopang utama kebutuhan irigasi dan air baku di Provinsi Lampung. Di bagian tengah sistem DAS Way Sekampung terdapat Bendungan Way Sekampung yang berlokasi di Kabupaten Pringsewu. Bendungan ini berperan dalam meningkatkan layanan irigasi sekaligus menyediakan air baku bagi masyarakat di wilayah Pringsewu, Bandar Lampung, dan sekitarnya. Keberadaannya membantu meningkatkan efisiensi distribusi air sehingga pemanfaatannya menjadi lebih optimal. Sementara itu, Bendungan Margatiga di Kabupaten Lampung Timur berfungsi sebagai tampungan di wilayah hilir yang memperkuat layanan irigasi untuk daerah-daerah pertanian di Lampung Timur dan Lampung Selatan. Bendungan ini menjadi infrastruktur penting dalam mengurangi risiko kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang maupun ketika fenomena El Niño melanda. Menghadapi kemarau ekstrem tahun 2026, keberadaan ketiga bendungan tersebut menjadi benteng pertahanan penting bagi sektor pertanian, penyediaan air baku, dan keberlanjutan sumber daya air di Provinsi Lampung. Pengelolaan bendungan yang terintegrasi dan adaptif terhadap kondisi cuaca menjadi kunci untuk memastikan air dapat didistribusikan secara efektif, efisien, dan berkeadilan. Melalui pengoperasian Bendungan Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga secara optimal, BBWS Mesuji Sekampung terus berupaya menjaga ketahanan air dan ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Infrastruktur sumber daya air yang andal tidak hanya menjadi solusi menghadapi kekeringan saat ini, tetapi juga investasi jangka panjang dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Pan)
Baca Selengkapnya
Post
20 Juli 2026 Admin

Peran Vital Bendungan Lampung dalam Memitigasi Kekeringan di Tengah Kemarau Ekstrem 2026

Provinsi Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia. Keberhasilan sektor pertanian di daerah ini sangat bergantung pada ketersediaan air yang cukup dan berkelanjutan. Namun, di tengah perubahan iklim global yang semakin tidak menentu, ancaman kekeringan menjadi tantangan yang harus diantisipasi secara serius. Tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi sektor sumber daya air dan pertanian. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Niño diperkirakan masih memengaruhi kondisi cuaca hingga awal tahun 2027. Dampaknya adalah musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Pada periode tersebut, banyak wilayah di Indonesia mengalami penurunan curah hujan yang signifikan. Di sejumlah daerah, suhu udara maksimum bahkan dapat mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan tingkat penguapan meningkat, debit sungai menurun, dan risiko kekeringan semakin tinggi. Di tengah kondisi tersebut, keberadaan bendungan menjadi sangat penting sebagai infrastruktur pengelolaan air yang mampu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau berlangsung. Bendungan tidak hanya berfungsi sebagai penampung air, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas pasokan air untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Saat musim hujan, bendungan menampung limpasan air yang berlebih sehingga dapat mengurangi risiko banjir di wilayah hilir. Air yang tersimpan kemudian menjadi cadangan yang dapat dimanfaatkan secara terukur ketika curah hujan berkurang dan debit sungai menurun pada musim kemarau. Dengan sistem operasi yang terencana, pelepasan air dari bendungan dapat dilakukan sesuai kebutuhan sehingga pasokan air tetap tersedia sepanjang tahun. Bagi sektor pertanian, bendungan memiliki peran yang sangat vital. Ketersediaan air irigasi yang terjamin memungkinkan petani tetap melakukan kegiatan budidaya meskipun curah hujan rendah.  Pasokan air yang stabil membantu menjaga produktivitas lahan pertanian, mengurangi risiko gagal panen, serta mendukung upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain itu, bendungan juga berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air tanah. Keberadaan tampungan air dalam skala besar membantu mempertahankan kelembapan lingkungan sekitar dan mendukung proses pengisian kembali cadangan air tanah. Manfaat lainnya adalah tersedianya air baku untuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, industri, dan berbagai fasilitas publik yang membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Di Provinsi Lampung, upaya mitigasi kekeringan didukung oleh tiga bendungan utama yang berada dalam satu sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung, yaitu Bendungan Batutegi, Bendungan Way Sekampung, dan Bendungan Margatiga. Bendungan Batutegi yang berada di Kabupaten Tanggamus berfungsi sebagai tampungan utama di bagian hulu. Bendungan ini memiliki peran penting dalam mengatur ketersediaan air yang akan dialirkan ke wilayah hilir. Cadangan air yang tersimpan di Bendungan Batutegi menjadi salah satu penopang utama kebutuhan irigasi dan air baku di Provinsi Lampung. Di bagian tengah sistem DAS Way Sekampung terdapat Bendungan Way Sekampung yang berlokasi di Kabupaten Pringsewu. Bendungan ini berperan dalam meningkatkan layanan irigasi sekaligus menyediakan air baku bagi masyarakat di wilayah Pringsewu, Bandar Lampung, dan sekitarnya. Keberadaannya membantu meningkatkan efisiensi distribusi air sehingga pemanfaatannya menjadi lebih optimal. Sementara itu, Bendungan Margatiga di Kabupaten Lampung Timur berfungsi sebagai tampungan di wilayah hilir yang memperkuat layanan irigasi untuk daerah-daerah pertanian di Lampung Timur dan Lampung Selatan. Bendungan ini menjadi infrastruktur penting dalam mengurangi risiko kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau panjang maupun ketika fenomena El Niño melanda. Menghadapi kemarau ekstrem tahun 2026, keberadaan ketiga bendungan tersebut menjadi benteng pertahanan penting bagi sektor pertanian, penyediaan air baku, dan keberlanjutan sumber daya air di Provinsi Lampung. Pengelolaan bendungan yang terintegrasi dan adaptif terhadap kondisi cuaca menjadi kunci untuk memastikan air dapat didistribusikan secara efektif, efisien, dan berkeadilan. Melalui pengoperasian Bendungan Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga secara optimal, BBWS Mesuji Sekampung terus berupaya menjaga ketahanan air dan ketahanan pangan di Provinsi Lampung. Infrastruktur sumber daya air yang andal tidak hanya menjadi solusi menghadapi kekeringan saat ini, tetapi juga investasi jangka panjang dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Pan)
Baca Selengkapnya
Rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Baku Way Andeng Dukung Pengembangan Kawasan Pariwisata PSN Bakauheni
Post
20 Juli 2026 Admin

Rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Baku Way Andeng Dukung Pengembangan Kawasan Pariwisata PSN Bakauheni

Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung terus melaksanakan rehabilitasi Sistem Penyediaan Air Baku (SPAB) Way Andeng sebagai upaya mendukung pengembangan Kawasan Pariwisata Strategis Nasional (PSN) Bakauheni di Kabupaten Lampung Selatan. Pekerjaan rehabilitasi dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan keandalan infrastruktur penyediaan air baku yang menjadi salah satu kebutuhan utama dalam pengembangan kawasan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah. Hingga saat ini, progres pembangunan jaringan perpipaan telah mencapai sekitar 11 kilometer dari target total 13 kilometer. Ruang lingkup pekerjaan meliputi pemasangan jaringan perpipaan, pembangunan dan perbaikan bangunan pendukung, pekerjaan galian dan urugan, serta pengujian sistem guna memastikan distribusi air baku dapat berfungsi secara optimal. Setelah selesai, sistem ini direncanakan memiliki kapasitas layanan sebesar 0,02 meter kubik per detik untuk memenuhi kebutuhan air baku di kawasan pengembangan PSN Bakauheni. Pelaksanaan rehabilitasi juga dilakukan dengan mengedepankan mutu konstruksi, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta pengendalian kualitas pada setiap tahapan pekerjaan. Langkah tersebut dilakukan agar infrastruktur yang dibangun memiliki umur layanan yang panjang dan mampu beroperasi secara andal dalam jangka waktu yang lama. Keberadaan Sistem Penyediaan Air Baku Way Andeng diharapkan dapat menjamin ketersediaan air baku secara berkelanjutan bagi kawasan pariwisata, masyarakat sekitar, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Infrastruktur ini menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan dasar, menarik investasi, dan memperkuat daya saing kawasan Bakauheni sebagai salah satu destinasi strategis nasional. Melalui rehabilitasi ini, pemerintah menunjukkan komitmennya dalam menyediakan infrastruktur sumber daya air yang andal sebagai fondasi pembangunan kawasan pariwisata yang berkelanjutan. Dengan sistem penyediaan air baku yang semakin baik, pengembangan PSN Bakauheni diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat serta mendorong peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lampung Selatan. (Pan)  
Baca Selengkapnya
BBWS Mesuji Sekampung Mulai Bangun Pengaman Pantai Mandiri Sejati, Lindungi Wilayah Pesisir dari Ancaman Abrasi
Post
17 Juli 2026 Admin

BBWS Mesuji Sekampung Mulai Bangun Pengaman Pantai Mandiri Sejati, Lindungi Wilayah Pesisir dari Ancaman Abrasi

  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung mulai melaksanakan pembangunan Pengaman Pantai Mandiri Sejati di Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Pembangunan infrastruktur ini merupakan upaya pemerintah dalam mengurangi dampak abrasi yang terus mengancam kawasan pesisir. Selain melindungi permukiman dan infrastruktur masyarakat, pembangunan pengaman pantai juga bertujuan menjaga keberlanjutan kawasan pesisir agar tetap aman dan produktif bagi masyarakat. Untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, bersama jajaran Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) Mesuji Sekampung melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan. Peninjauan dilakukan guna memantau progres pekerjaan sekaligus memastikan setiap tahapan konstruksi dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan standar mutu yang telah ditetapkan. Saat ini, penyedia jasa konstruksi tengah melaksanakan pabrikasi kubus beton dan buis beton yang akan digunakan sebagai material utama pembangunan pengaman pantai sepanjang 150 meter. Dalam arahannya, Kepala BBWS Mesuji Sekampung menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan pekerjaan dengan tetap mengedepankan kualitas konstruksi. Penyedia jasa diminta mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, termasuk peralatan dan tenaga kerja, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan. Melalui pembangunan Pengaman Pantai Mandiri Sejati ini, diharapkan risiko abrasi di wilayah pesisir dapat berkurang secara signifikan. Bangunan pengaman pantai akan berfungsi meredam energi gelombang laut, memperlambat laju pengikisan garis pantai, serta melindungi ruang hidup masyarakat pesisir. Keberadaan infrastruktur ini juga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Pekon Mandiri Sejati dan sekitarnya. Dengan target mulai berfungsi pada awal tahun 2027, Pengaman Pantai Mandiri Sejati diharapkan menjadi salah satu solusi dalam menjaga kawasan pesisir Pesisir Barat dari ancaman abrasi, sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang garis pantai. (Pan)  
Baca Selengkapnya
Mengantisipasi Cuaca Ekstrem dengan Strategi Early Release Bendungan di Provinsi Lampung
Post
17 Juli 2026 Admin

Mengantisipasi Cuaca Ekstrem dengan Strategi Early Release Bendungan di Provinsi Lampung

Provinsi Lampung memiliki sejumlah bendungan strategis yang berperan penting dalam penyediaan air irigasi, air baku, pembangkit listrik, serta pengendalian banjir. Beberapa di antaranya adalah Bendungan Batutegi di Kabupaten Tanggamus, Bendungan Way Sekampung di Kabupaten Pringsewu, dan Bendungan Margatiga di Kabupaten Lampung Timur. Di tengah meningkatnya potensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim global, seperti hujan dengan intensitas tinggi yang dipengaruhi fenomena La Niña maupun anomali cuaca lainnya, pengelolaan bendungan menjadi semakin kompleks. Salah satu strategi yang diterapkan untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga keamanan bendungan adalah sistem early release atau pelepasan air secara dini. Apa Itu Early Release? Early release adalah tindakan melepaskan sebagian air yang tersimpan di waduk sebelum terjadi hujan lebat atau cuaca ekstrem yang diperkirakan akan meningkatkan debit aliran sungai secara signifikan. Setiap bendungan memiliki kapasitas tampungan tertentu. Apabila hujan deras terjadi ketika waduk berada pada kondisi mendekati penuh, volume air yang masuk dapat menyebabkan pelimpasan melalui bangunan pelimpah (spillway) dalam jumlah besar. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir di wilayah hilir. Melalui early release, pengelola bendungan menciptakan ruang tampungan sementara (flood control space) di dalam waduk. Ruang ini berfungsi menampung tambahan air yang datang dari hulu saat hujan ekstrem, sehingga debit yang mengalir ke hilir dapat dikendalikan dan tidak menimbulkan lonjakan yang membahayakan. Pentingnya Early Release di Lampung Lampung memiliki sejumlah daerah aliran sungai (DAS) besar, seperti DAS Way Sekampung dan DAS Way Seputih, yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca di wilayah hulu. Curah hujan di kawasan pegunungan dan perbukitan, seperti Tanggamus dan sekitarnya, dapat meningkat drastis dalam waktu singkat dan menyebabkan lonjakan debit sungai. Penerapan early release memberikan dua manfaat utama. Melindungi Keamanan Bendungan Pelepasan air secara terencana membantu menjaga elevasi muka air waduk tetap berada dalam batas aman. Langkah ini mengurangi risiko terjadinya overtopping atau limpasan air melewati puncak bendungan yang dapat mengancam stabilitas struktur bendungan, khususnya bendungan tipe urukan tanah dan batu. Mengurangi Risiko Banjir di Hilir Dengan tersedianya ruang tampungan di dalam waduk, air banjir yang datang dari hulu dapat ditahan sementara. Hal ini membantu mengurangi potensi banjir di kawasan hilir, termasuk permukiman, lahan pertanian, serta infrastruktur vital yang berada di sepanjang aliran sungai. Bagaimana Sistem Early Release Bekerja? Keputusan melakukan early release tidak dilakukan secara sembarangan. Prosesnya didasarkan pada analisis teknis dan data hidrologi yang komprehensif. Pemantauan Cuaca dan Curah Hujan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau prakiraan cuaca, data radar hujan, serta informasi dari stasiun telemetri dan alat ukur curah hujan yang tersebar di wilayah hulu. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam. Analisis Inflow dan Kondisi Waduk Data curah hujan dan kondisi daerah tangkapan air dianalisis untuk memperkirakan besarnya debit masuk (inflow) yang akan menuju waduk. Perhitungan ini menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan ruang tampungan banjir. Pelepasan Air Secara Bertahap Apabila diperkirakan terjadi peningkatan debit yang signifikan, pelepasan air dilakukan secara bertahap melalui bangunan pengeluaran atau pintu pelimpah sesuai prosedur operasi bendungan. Debit pelepasan diatur agar tetap aman dan tidak menimbulkan dampak negatif di wilayah hilir. Koordinasi dan Penyampaian Informasi Sebelum pelepasan air dilakukan, pengelola bendungan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, aparat setempat, dan masyarakat di sepanjang aliran sungai. Informasi disampaikan lebih awal agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas di sekitar badan sungai. Tantangan dalam Penerapan Early Release Meskipun efektif untuk mengurangi risiko banjir, penerapan early release juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling krusial adalah akurasi prakiraan cuaca. Bendungan di Lampung tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga sebagai penyedia air irigasi bagi ribuan hektare lahan pertanian. Jika pelepasan air dilakukan terlalu dini berdasarkan prediksi yang ternyata tidak terjadi, maka volume cadangan air di waduk dapat berkurang dan berpotensi memengaruhi ketersediaan air pada musim kemarau. Karena itu, setiap keputusan early release harus didasarkan pada data yang akurat, analisis yang matang, serta koordinasi yang baik antarinstansi terkait. Kesimpulan Perubahan iklim menuntut pengelolaan bendungan yang semakin adaptif dan responsif. Sistem early release merupakan salah satu strategi penting dalam pengoperasian bendungan modern untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem dan banjir. Dengan dukungan teknologi pemantauan hidrometeorologi, pengelolaan operasional yang tepat, serta koordinasi yang baik antara BBWS Mesuji Sekampung, BMKG, pemerintah daerah, dan masyarakat, bendungan dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Tidak hanya sebagai pengendali banjir pada musim hujan, tetapi juga sebagai penopang ketahanan pangan dan sumber daya air yang berkelanjutan bagi masyarakat Lampung. (pan)  
Baca Selengkapnya
Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Daerah Irigasi Jabung Kiri Lampung Timur
Post
14 Juli 2026 Admin

Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Daerah Irigasi Jabung Kiri Lampung Timur

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, beserta jajaran melakukan peninjauan rehabilitasi dan peningkatan Daerah Irigasi (DI) Jabung Kiri di Kabupaten Lampung Timur, Selasa (14/7/2026). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai rencana serta mengecek progres pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh penyedia jasa konstruksi di lapangan. Berdasarkan hasil peninjauan, saat ini pekerjaan telah memasuki tahap pengecoran lantai dasar atau Lean Concrete (LC) pada saluran irigasi. Lapisan beton ini berfungsi menciptakan permukaan dasar yang rata, bersih, dan stabil sebagai fondasi bagi struktur saluran irigasi yang akan dibangun. Pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan DI Jabung Kiri dilaksanakan untuk mengoptimalkan fungsi jaringan irigasi yang melayani beberapa wilayah, di antaranya Desa Asahan, Desa Beteng Sari, dan Desa Adi Luhur, Kabupaten Lampung Timur. Dengan adanya rehabilitasi ini, diharapkan distribusi air irigasi dapat berlangsung lebih efektif dan efisien sehingga mampu mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian. Dalam arahannya, Kepala BBWS Mesuji Sekampung meminta agar seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat waktu, serta memenuhi standar mutu dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Ia juga menekankan pentingnya peran konsultan pengawas dalam memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan, sehingga hasil pembangunan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Daerah Irigasi Jabung Kiri merupakan jaringan irigasi dengan luas layanan sekitar 5.638 hektare di Lampung Timur. Keberadaan jaringan irigasi ini memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan melalui penyediaan air bagi lahan pertanian secara berkelanjutan. Kegiatan rehabilitasi dan peningkatan DI Jabung Kiri merupakan bagian dari komitmen Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Mesuji Sekampung dalam meningkatkan kualitas infrastruktur sumber daya air guna mendukung produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat. (Pan)  
Baca Selengkapnya
Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam
Post
13 Juli 2026 Admin

Kepala BBWS Mesuji Sekampung Tinjau Rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung telah memulai pekerjaan rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan. Rehabilitasi ini bagian dari program pengelolaan sumber daya air di bawah Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Pelaksanaan Jaringan Sumber Air atau SNVT PJSA Mesuji Sekampung. Untuk melihat progres awal pekerjaan, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, beserta jajaran melakukan peninjauan lapangan ke lokasi rehabilitasi pada Sabtu 11 Juli 2026. Kegiatan ini guna memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana serta memenuhi standar teknis yang telah ditetapkan. Di lokasi, tampak sejumlah alat berat excavator telah beroperasi melakukan pengerukan sedimen sungai sebagai bagian dari tahapan awal pekerjaan. Elroy Koyari juga menyampaikan sejumlah arahan teknis kepada pelaksana pekerjaan agar seluruh kegiatan konstruksi dapat berjalan dengan baik, tepat mutu dan tepat waktu. Melalui rehabilitasi Tanggul Sungai Way Ketibung–Way Sulam, diharapkan tanggul akan lebih andal dan mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat, lahan pertanian, serta infrastruktur di kawasan sekitar, sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan di Kabupaten Lampung Selatan. (Pan)
Baca Selengkapnya
Sosialisasi dan Persiapan Self Assessment RBO-PB BBWS Mesuji Sekampung
Post
10 Juli 2026 Admin

Sosialisasi dan Persiapan Self Assessment RBO-PB BBWS Mesuji Sekampung

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung menggelar kegiatan sosialisasi dan persiapan Self Assessment River Basin Organization Performance Benchmarking (RBO-PB) Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Margatiga BBWS Mesuji Sekampung pada Kamis, 9 Juli 2026 dan dipimpin oleh Dr. Iskandar Rahim selaku Plt. Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha. Sebelumnya, Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, telah menerbitkan keputusan tentang pembentukan Tim RBO-PB BBWS Mesuji Sekampung Tahun Anggaran 2026. Pembentukan tim tersebut dilakukan sebagai upaya mengukur kinerja River Basin Organization (RBO) BBWS Mesuji Sekampung melalui evaluasi kinerja Self Assessment menggunakan alat (tool) RBO Performance Benchmarking yang diterbitkan oleh Networks of Asian River Basin Organizations (NARBO). Self Assessment merupakan proses pengukuran kinerja RBO terhadap lima bidang kritis dan 16 indikator penilaian yang dilakukan oleh pimpinan dan staf BBWS Mesuji Sekampung. Penilaian dilakukan dengan membandingkan pelaksanaan tugas terhadap norma, standar, pedoman, dan/atau kriteria yang telah ditetapkan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjamin adanya perbaikan kinerja RBO secara berkelanjutan dalam rangka mewujudkan keterpaduan pengelolaan sumber daya air. Untuk mendukung pelaksanaan penilaian tersebut, telah dibentuk Tim Self Assessment yang terdiri dari pejabat dan pegawai BBWS Mesuji Sekampung yang dinilai memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Kepala BBWS Mesuji Sekampung bertindak sebagai pengarah, sementara sejumlah kepala bidang ditunjuk sebagai wakil pengarah, ketua, wakil ketua, serta anggota tim yang berasal dari berbagai unit kerja di lingkungan BBWS Mesuji Sekampung. (Pan)
Baca Selengkapnya