Rawa Pening seluas 2.670 hektare di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menjadi salah satu objek wisata favorit warga Semarang dan sekitarnya. Masyarakat pun memanfaatkan danau berkedalaman 3?7 m itu untuk budidaya ikan air tawar seperti nila, mujair, dan lele. Sayang, kondisi danau legendaris itu semakin merana. Limbah domestik yang terbawa aliran berbagai sungai memicu proses nitrifikasi air sehingga kadar oksigen terlarut berkurang.
Efeknya, air menjadi kehitaman dan berbau. Kondisi itu mengganggu pertumbuhan ikan yang dibudidaya di sana. ?Daging ikan dari sini tidak enak sehingga hanya laku dijual dengan harga murah,? kata Munadji, anggota Kontak Tani Nelayan Andalan Kota Salatiga yang aktif mendampingi peternak ikan Rawa Pening. Sudah begitu, buruknya kondisi air menjadikan produksi rendah lantaran tingkat kematian tinggi.
Atasi gulma
Kualitas air yang rendah itu memicu eceng gondok Eichhornia crassipes tumbuh subur merajalela. Gulma air itu menutupi 1.800 ha permukaan danau. Tanaman tua tenggelam dan membusuk di dasar sehingga memperburuk kualitas air. Sedimen yang terbentuk mengurangi kedalaman air hingga tinggal 2 m. ?Kondisi air menjadikan pertumbuhan eceng gondok di Rawa Pening sangat subur.
Gambarannya 1 batang eceng gondok bisa tumbuh menjadi 10?15 kg, menutupi luasan 1 m2 hanya dalam 23?30 hari. Di perairan lain pertumbuhannya tidak secepat itu. Sejatinya banyak pihak turun tangan berupaya menanggulangi penyebaran gulma itu. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana menerjunkan 2 unit eksavator dan beberapa unit kapal keruk untuk menyingkirkan eceng gondok.
Kecepatan kerja alat-alat itu tidak sebanding dengan pertumbuhan eceng gondok. Upaya lain, membuat kerajinan dari eceng gondok, juga tidak efektif. Itu sebabnya direktur utama PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, melontarkan ide mengolah eceng gondok menjadi bahan bakar. Karyawan Sido Muncul memboyong timbunan eceng gondok di tepi danau hasil pengerukan eksavator ke unit pembuatan pelet di pabrik.
Pembuatan sekilogram pelet memerlukan 5 kg eceng gondok dengan biaya produksi sekitar Rp1.100?Rp1.500 per kg pelet. Irwan menyatakan bahwa pembuatan pelet bahan bakar dari eceng gondok itu sekadar percontohan. ?Sido Muncul tidak mungkin bekerja sendiri untuk membersihkan Rawa Pening dari eceng gondok,? kata pria berusia 70 tahun itu. Pelet bahan bakar menjadi solusi jitu pengendalian eceng gondok di berbagai perairan.
Menurut peneliti bahan bakar biomassa di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Supriyanto, pelet bahan bakar menjadi incaran negara-negara maju yang memiliki 4 musim. ?Mereka menggunakan pelet untuk bahan bakar penghangat ruangan di musim dingin,? kata Supriyanto. Industri pelet bahan bakar berbahan biomasa untuk tujuan ekspor pun bisa memperoleh bahan gratis tanpa harus menanam. Di balik sifatnya yang menjadi gulma, eceng gondok menawarkan peluang besar.
29 Mei 2017 Selengkapnya











Dari pantauan sebellas.com di lokasi di sebelah kiri aliran sungai banyak berdiri bangunan semi permanen milik warga yang di gunakan untuk usaha warung. Terkait adanya bangunan semi permanen pihak Desa Waru mengaku tidak bisa berbuat banyak. ? ini kan Kali Apur termasuk aliran dari Sungai Pucanggading, dan alami penyempitan sepanjang 3 km , mulai dari Ngemplak sampai Pilangsari, sehingga saat debit air naik, sungai meluap ? Beber Arifin. Dua dukuh yang jadi langganan banjir yaitu Dukuh Kalimas dan Dukuh Waru Krajan. Selain itu 25 hektar sawah juga ikut terendam banjir. Selain karena penyempitan aliran sungai, sendimentasi yang parah juga menjadi pemicu air sungai meluap. ? ini penyempitan sudah 15 tahunan, selain itu juga belum pernah di normalisasi? terangnya lagi. Sebagai upaya pihak desa sudah menyurati ke BBWS Pemali Juwana yang bagian pengelolaan serta pemeliharaan dan sudah laporan ke Ganjar Pranowo Gubernur Jateng , namun belum ada tindak lanjut. ? sudah surati ke bbws pemali juwana, serta laporan ke pak ganjar, namun belum ada tanggapan, warga sudah resah dengan banjir ini, pengen ada solusi yang nyata dari pemerintah? tutup Arifin. Pihak BBWS Pemali Juana akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menyelesaikan masalah ini.
Jembatan di atas sungai Cabean patah dan sering terendam banjir. Jembatan itu dibangun 2011 menghubungkan Dukuh Singopadu Desa Sidorejo dan Dukuh Karangmalang Desa Brambang, Karangawen kabupaten Demak.[/caption] Ketika ada orang yang akan melewati jembatan tersebut, ia selalu mengajak berbincang terlebih dahulu. Beberapa orang yang diajak berbincang tersebut balik arah namun tidak sedikit juga yang berlanjut melintasi jembatan. Polisi tersebut adalah Aipda Jatmika, Bhabinkamtibmas Desa Sidorejo. Siang itu, ia memang berniat mengimbau masyarakat yang melintas untuk berhati-hati. "Jika mau ya saya minta untuk putar arah, ambil jalur memutar tapi beberapa memilih tetap melintas jadi saya minta untuk berhati-hati," terang Jatmika kepada Tribun Jateng. Meski keringat tampak bercucuran di wajahnya karena panasnya terik matahari ia tetap berdiri di lokasi tersebut sembari sesekali mengimbau masyarakat yang ingin lewat. "Selain mengimbau ya mengambil gambar untuk dilaporkan ke atasan," pungkasnya.




